Tampilkan postingan dengan label chicken soup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chicken soup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Tiga Kelereng



Pada masa-masa susah di sebuah kota kecil Idaho , saya suka mengunjungi toko kecil di tepi jalan milik Mr Miller yang menyediakan produk segar hasil pertanian. Makanan dan uang cukup langka pada waktu itu... dan jual beli dilakukan dengan cara tukar menukar barang.

Satu hari, Mr Miller sedang mengepak kentang-kentang yang saya beli ketika tidak sengaja saya melihat seorang anak yang kecil kurus kelaparan, compang-camping tetapi bersih, nampak sedang memilih-milih kacang polong segar yang baru dipetik di keranjang. Saya membayar untuk kentang-kentang saya sambil ikut tertarik pada kacang polong tersebut. Saya adalah penjual kentang dan krim kacang. Saat menimbang kacang polong, tanpa sadari,saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

"Halo Barry, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya si pemilik toko.

'Halo, Mr Miller. Saya baik, terima kasih ya. Saya cuma mengagumi kacang polong ini... tampak segar dan bagus-bagus"

"Itu memang bagus Barry. Bagaimana dengan ibu kamu? "

"Oh... dia membaik, dan nampak semakin kuat."

"Bagus. Apa ada yang bisa saya bantu? "

"Tidak, Sir. saya cuma mengagumi kacang polong ini. "

'Apakah kamu ingin beberapa untuk di bawa pulang?" kata Mr Miller.

"Tidak, Sir. Saya tidak ada uang untuk membayar. "

"Jika begitu, apa kamu punya sesuatu sebagai penukar?"

"Saya hanya punya beberapa kelereng hadiah."

"Apakah itu benar? Coba kulihat "kata Mr Miller.

"Ini .. bagus. "

"Aku bisa melihatnya. Hmm sayang warnanya biru sedang saya mencari warna merah. Apakah kamu memilikinya seperti ini di rumah? "

"Tidak persis tapi hampir sama. "

'Begini saja. Ambil saja dulu kacang polong ini, dan lain kali, kamu bawa kelereng kamu yang merah'.  kata Mr Miller kepada anak itu.

"Tentu. Terima kasih Mr Miller. "

Ny Miller, yang sedang berdiri tidak jauh, datang untuk membantu saya. Dengan tersenyum dia berkata, " Ada dua anak laki-laki lain seperti dia di komunitas kami, ketiganya sama-sama sangat miskin. Jim suka tawar-menawar dengan mereka untuk kacang polong, apel, tomat, atau apa pun. Jika mereka kembali dengan warna yang diminta,
Jim akan berkata bahwa dia sudah tidak mencari warna tersebut dan akan menanyakan warna lainnya. Tetapi Jim tetap memberikan apa saja yang mereka ingin tukarkan."

Saya meninggalkan toko sambil tersenyum sendiri, terkesan dengan orang ini. Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Colorado , tapi saya tidak pernah lupa kisah tentang orang ini, anak-anak, dan cara barter mereka.

Beberapa tahun berlalu dengan cepat. Baru-baru ini saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa teman lama di komunitas Idaho dan mendengar bahwa Mr Miller meninggal dunia. Teman-teman saya berencana untuk berkunjung sore itu dan saya sepakat untuk ikut.

Saat tiba di tempat jenasah disemayamkan, kita menemui keluarga almarhum untuk menyampaikan bela sungkawa dan kata-kata penghiburan. Di depan kami, nampak tiga orang muda. Salah satunya mengenakan seragam tentara dan dua lainnya berpotongan rambut bagus, setelan gelap dan kemeja putih ... semua tampak sangat profesional.

Mereka semua menghampiri Mrs Miller dan berdiri disampingnya sambil tersenyum kepada jenasah Mr Miller di dalam peti mati.

Setiap pemuda memeluknya, mencium pipi, bicara singkat dengannya dan pindah ke peti mati, dengan mata berkaca-kaca, satu per satu, masing-masing pemuda berhenti sebentar dan meletakkan tangan mereka di atas tangan yang pucat dingin di peti mati. Satu persatu meninggalkan tempat itu sambil menyeka mata.

Giliran kami datang menemui Ny Miller. Saya bilang padanya siapa saya dan  mengingatkannya pada kisah dari tahun-tahun yang lalu dan ketika ia bercerita tentang suaminya yang suka berbarter untuk kelereng. Dengan mata berkaca-kaca, dia meraih tanganku dan membawa saya ke peti mati.

"Mereka tiga pemuda yang baru saja meninggalkan adalah anak laki-laki yang kuceritakan dulu. Mereka hanya mengatakan kepada saya bagaimana mereka menghargai hal-hal yang Jim 'perdagangkan' pada mereka. Sekarang, pada akhirnya, ketika Jim sudah tidak bisa lagi meminta warna atau ukuran kelereng... mereka datang untuk membayar utang mereka. "

'Kami tidak pernah memiliki banyak kekayaan di dunia ini, "ia mengaku," tapi sekarang, Jim akan menganggap dirinya orang terkaya di Idaho ..'

Dengan lembut, dia mengangkat jari-jari almarhum suaminya. Nampak disitu tiga buah kelereng warna merah yang bersinar indah.

Moral: 

Orang mungkin tidak bisa mengingat semua perkataan kita, tetapi akan mengingat segala perbuatan baik kita.
Hidup ini tidak diukur oleh nafas yang kita habiskan, tetapi oleh waktu yang kita habiskan untuk bernafas.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia
.

Jumat, 16 Desember 2011

CINTA ORANG YANG PUNYA PENYAKIT KANKER

Ada seorang wanita yang memiliki penyakit kanker dan hanya dapat bertahan sebulan untuk hidup. Dia memendam rasa cinta terhadap seorang pria yang bekerja di sebuah toko VCD, sudah lama dia mencintai pria itu dan dia tidak pernah menyatakan rasa cintanya tersebut kepada pria itu.

Setiap hari dia datang ke toko VCD untuk membeli VCD, dia melakukan hal tersebut hanya supaya dapat melihat pria itu dan berbincang-bincang. Karena hanya hal itu yang bisa dia lakukan, dia tidak pernah berani menyatakan cintanya terhadap pria penjaga toko sampai akhirnya sebulan kemudian dia meninggal.

Karena lama tidak pernah datang ke toko, pria penjaga toko itu penasaran dan akhirnya dia mencari dan mendatangi rumah wanita tersebut, dia ingin tahu mengapa wanita itu tidak pernah lagi datang ketokonya padahal biasanya setiap hari dia selalu datang, betapa terkejutnya pria itu setelah diberitahukan oleh ibunya bahwa ternyata wanita itu telah meninggal dunia.

Lalu dengan berlinang air mata dia meminta diantarkan ke kamar wanita itu. Sesampainya dalam kamar dia tambah menangis karena melihat banyak VCD yang dibeli dari tokonya masih rapi belum dikeluarkan dari dalam plastik yang telah dibungkus dengan rapi. Padahal pria itu selalu menyisipkan surat cinta didalam sampul plastik itu.Tapi ternyata wanita itu tidak pernah tahu isi hatinya sampai ajal menjemputnya karena si wanita tersebut tidak pernah membuka VCD tersebut.

Moral: Jujurlah kepada orang yang anda cintai, sebelum dia pergi karna siapa tahu dia pun mencintai anda.

Selasa, 01 November 2011

The Power of Your Actions

One day, when I was a freshman in high school, I saw a kid from my class walking home from school. His name was Kyle. It looked like he was carrying all of his books. I thought to myself, "Why would anyone bring home all his books on a Friday? He must really be a nerd." I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friend the following afternoon), so I shrugged my shoulders and went on.

As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him. They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt. His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him. He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes.

My heart went out to him. So, I jogged over to him, and as he crawled around looking for his glasses, I saw a tear in his eye.

I handed him his glasses and said, "Those guys are jerks. They really should get lives.
He looked at me and said, "Hey, thanks!" There was a big smile on his face. It was one of those smiles that showed real gratitude. I helped him pick up his books, and asked him where he lived. It turned out he lived near me, so I asked him why I had never seen him before. He said he had gone to private school before coming to this school.

I would have never hung out with a private school kid before. We talked all the way home, and I carried his books. He turned out to be a pretty cool kid. I asked him if he wanted to play football on Saturday with me and my friends. He said yes. We hung all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him. And my friends thought the same of him. Monday morning came, and there was Kyle with the huge stack of books again. I stopped him and said, "Damn boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday!". He just laughed and handed me half the books. Over the next four years, Kyle and I became best friends.

When we were seniors, we began to think about college. Kyle decided on Georgetown, and I was going to Duke. I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem. He was going to be a doctor, and I was going for business on a football scholarship. Kyle was valedictorian of our class.

I teased him all the time about being a nerd. He had to prepare a speech for graduation. I was so glad it wasn't me having to get up there and speak.

Graduation day arrived - I saw Kyle and he looked great. He was one of those guys that really found himself during high school. He filled out and actually looked good in glasses. He had more dates than me and all the girls loved him!

Boy, sometimes I was jealous. Today was one of those days. I could see that he was nervous about his speech. So, I smacked him on the back and said, "Hey, big guy, you'll be great!"
He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled. "Thanks," he said. As he started his speech, he cleared his throat, and began. "Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years. Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach... but mostly your friends. I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them. I am going to tell you a story."

I stared at my friend in disbelief as he told the story of the first day we met. He had planned to kill himself over the weekend. He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn't have to do it later and was carrying his stuff home. He looked hard at me and gave me a little smile. "Thankfully, I was saved. My friend saved me from doing the unspeakable."
I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment. I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile. Not until that moment did I realize its depth.

Never underestimate the power of your actions. With one small gesture you can change a person's life. For better or for worse. God puts us all in each other's lives to impact one another in some way. Look for God in others.

"Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."

Selasa, 04 Januari 2011

Olivia: Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya

Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama  Olivia


Pengantar  Redaksi: Dalam  terbitan Warta  RC minggu lalu dimuat suatu ucapan  belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly  Lim,  anggota Dewan Paroki Regina  Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut  menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar  kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak  usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah  seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang  mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.
___________________________________________________________
Tiga Juli  1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa  kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata  yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan  ukuran normal bayi yang baru lahir.

Semua orang yang melihat memuji sang bayi  cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping  ini. Yah,  ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

Sang bayi  mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru  kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang  lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka  memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima  kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya  penyakit Retina Blastoma. "Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi," demikian kata sang  dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut  dengan Pengobatan

Berbagai  pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter  menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang  papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. "Dia seorang anak gadis,  bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan  ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja.  Mata  dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya," berontak sang papa.  Akhirnya  dipakailah cara kemotherapy untuk  mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan  teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

Menurut  pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan  belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun  kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa  saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa  sebuah maklumat berisi hanya satu kata 'BAPTIS'. Setelah  menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan "baptis  berarti kamu mesti bertobat!". Sambil  tetap
menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

Di  sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di  keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik  kecil itu kemudian diberi nama Yohanes
Natanael. Setidaknya ini adalah suatu  penghiburan di tengah kesedihan mereka.

Olivia  sempat menjalani dua kali kemotherapy  yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun,  sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang  hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut  hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa  rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di
sekolah ia termasuk  salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar  sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran  sudah angkat tangan dan hanya
memberikan harapan kosong atas kesembuhannya,  seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani.  Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan  dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap  dengan pasrah.

Membawa  kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil  sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru  menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk  mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar  "Smile". Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya "Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile." Imannya  kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit  yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

Iman  Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal  Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran  Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia.  Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar  biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia  berujar kepada sang mama "Kan Oliv mau jadi peri yang baik  hati". Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan  sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat  acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan  semua orang.

Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang  semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya  bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun  terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya  telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

"Terimakasih  Tuhan Yesus"

Setiap  hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan  yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, "Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…".  Sang mama yang tidak kuat
melihat  penderitaan putrinya mengatakan, "Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv," tapi  anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya  kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun  itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit  yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam  menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa  penuh iman.

"Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu,  Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit  apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah  Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv,  terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin..." Sebuah doa yang sungguh indah dan  penuh makna.

Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani  Yesus.

Saat malam  terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya  untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta  kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa  berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak  tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya "Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak  tahan lagi…" kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap "Trima kasih Tuhan Yesus" . Kemudian  ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa  membisikkan ke telinganya "Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di  surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan.  Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut  tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv."  Dalam kondisi yang sudah 'koma' Olivia  meneteskan airmata.

Sesaat  setelah itu, bergantian istri pendeta memegang  tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, "Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.."  Dalam keadaan 'koma' itu ia
benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian  Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai.  Dua  belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya  sudah selesai

Kedua  orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia  sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan  merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan  Olivia selama hidupnya, bahwa "Segala sesuatu ada waktunya; selalu  tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan;  berserah dirilah kepada Tuhan Yesus,  karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi  kita".

Jasadnya  sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua  pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur  pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum  kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah  menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia  benar-benar seperti tertidur.

Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan  terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa  Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka.  Melalui  sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan  menerima Kristus. Tugas  malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.

Bahkan  saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan  deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat  menyerukan "Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan,  walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir  di tempat ini," detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab.  Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang  menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, "Sungguh ia  benar-benar dikasihi Tuhan".

Segalanya  berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh  beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya  dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena  bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya  hidup yang kita jalani.

Selamat  jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan  kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)

Senin, 02 Agustus 2010

Menerobos LAMPU MERAH



Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama.

Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala Jack bimbang,haruskah ia berhenti atau terus saja.

"Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti.

Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jack." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan Jack harus ganti strategi.

"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih enyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu."

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk
memasukkan surat tilang.Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata
SIMnya dikembalikan bersam sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan
atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

"Dear Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada.
Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi
itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.

Salam,
Bob

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

.. Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,jalanilah dengan penuh hati-hati.




Selasa, 23 Maret 2010

Saya ingin menjadi KAKAK yang penuh KETULUSAN

Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak seorang millionaire. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar & memperoleh untung yang besar.

Kini dia tinggal di apartment mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet. Seminggu sebelum Natal , kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah & mengkilap. Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.

"Hai… nak" sapa Roy
Anak itu melihat pada Roy dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?"
"Ya," jawab Roy singkat.
"Berapa harganya Tuan?"
"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".
"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?"
Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.
"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,
"Seandainya. …seandainya. …"

Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu. "Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku." Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: "Seandainya. .. seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu…." Dengan masih terheran-heran Roymengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya.

Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu kali anak itu berkata,"Tuan bersediakah mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini".

Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini. "Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah." pikir Roy.

"OK, mengapa tidak", kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, "Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali".

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu.

Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.

Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya: "Lihat… seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu. Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku

"Stories for the family's heart" by Alice Gray


Senin, 13 April 2009

IMPIAN dan TELADAN seorang ayah


Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah - Will Rogers



Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu.
Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar.
Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. ?????Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu.?????
Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. ?????Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.?????.

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. ?????Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.?????

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. ?????Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter,????? katanya. ?????Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin.?????

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana.
Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan.
Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. ?????Kalau kau sudah tamat kuliah,????? katanya dengan mata berkilat-kilat, ?????kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau.?????

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka.
Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah.
?????Mungkin popoknya basah,????? kata susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. ?????Lihat,????? katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan . Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sebuah cerita yang luar biasa bukan? Inilah sebuah cerita yang menunjukkan besarnya CINTA seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya. Semoga cerita ini menginspirasi bagi kita semua.

Kamis, 29 Januari 2009

Bidadarimu


Alkisah, bayi yang akan dilahirkan kemuka bumi berkata kepada Tuhan, Tuhan, sebentar lagi aku akan lahir kebumi, tetapi bagaimana aku bisa hidup disana sedangkan tubuhku ini begitu kecil dan rapuh?
Tuhan menjawab sambil tersenyum, Aku akan menugaskan salah seorang bidadari-Ku untuk menemani dan menjagamu disana.

Tetapi, sekarang ini aku hidup disurga. Tidak ada yang aku kerjakan selain bernyanyi dan bergembira. Aku hidup bahagia disini.

Janganlah sedih. Bidadarimu kelak akan bernyanyi dan bermain main bersamamu sepanjang hari, ia akan mencurahkan cintanya padamu dan membuatmu bahagia.

Tetapi, bagaimana aku bisa bercakap-cakap dengan orang lain disana bila aku tidak memahami bahasa mereka?
Oh, bidadarimu akan menceritakan cerita-cerita yang indah dan manis yang belum pernah kau dengar. Dengan penuh sabar dan kasih saying bidadarimu akan mengajar kau berkata-kata dan berbicara.

Lalu, apa yang harus aku lakukan bila aku rindu dan ingin berbicara dengan-Mu?
Bidadarimu akan mengajarkan bagaimana kau bisa berdoa kepada-Ku.
Oh Tuhan, aku dengar dibumi banyak orang jahat.

Lalu siapakah yang akan melindungiku?
Bidadarimu akan membela dan melindungimu meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.Tetapi, aku sedih karena aku tidak bisa melihat-Mu lagi.Bidadarimu akan selalu berbicara tentang aku dan mengajarkan bagaimana kau bisa beribadah kepada-Ku meskipun sesungguhnya ku selalu berada didekatmu. Jauh lebih dekat dari prasangkamu.

Waktu kelahiran semakin dekat. Ia harus segera meninggalkan surga dengan damai. Tergesa-gesa ia kembali bertanya, Tuhan, tidak lama lagi aku akan pergi. Aku mohon Kau berkenan memberitahuka kepadaku siapakah nama bidadariku itu?

Nama bidadarimu itu tidak penting. Kelak kau akan memanggilnya IBU.

NB : Pertanyaan :
1. Sudahkah kita berterima kasih kepada bidadari kita, atas semua perhatiannya ??
2. Kapan terakhir kali kita menghubungi ibu kita ?
3. Kapan terakir kali kita menanyakan kabar ibu kita ?
4. Kapan terakhir kali kita membuat hati Ibu kita bahagia ??
5. Kapan terkhir kali kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita bersyukur telah menerima bidadari yang begitu sempurna?

IBU : Ciptaan Tuhan yang SEMPURNA


Pada Saat Tuhan Menciptakan Para Ibu. Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut: "Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?" Dan Tuhan menjawab pelan: "Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?
01) Ibu ini harus WATERPROOF (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! ---Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang tangan....? tsk tsk tsk" --- "Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik...." balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu."Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran.Tuhan mengangguk- angguk. "Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: "Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: "Saya mengerti dan saya sayang padamu". Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun. "Tuhan", kata malaikat itu lagi, "Istirahatlah""Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan."Terlalu lunak", katanya memberi komentar."Tapi kuat", kata Tuhan bersemangat."Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita. "Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
"Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi", kata Sang Pencipta.Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh, ada kebocoran disini""Itu bukan kebocoran", kata Tuhan. "Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata...., airmata...."

Kamis, 20 November 2008

Tzippie : Apa yang kau tabur akan kau tuai kemudian

Pada suatu hari yang panas di musim panas, sepasang suami-istri dan putri mereka yang baru empat tahun, Tzippie, sedang dalam perjalanan ke kawasan pegunungan untuk berlibur selama beberapa pekan. Tiba-tiba, sebuah truk besar entah bagaimana masuk ke jalur yang sama dari arah berlawanan, akibatnya tabrakan depan lawan depan tak dapat dihindari. Suami-istri itu mengalami luka parah, dan si kecil Tzippie mengalami patah tulang di beberapa tempat. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, di mana Tzippie di rawat di bagian anak sedangkan kedua orangtuanya dibawa ke unit perawatan instensif. Sebagaimana terbayang oleh semua, Tzippie tidak hanya menderita sakit yang luar biasa, ia juga sangat ketakutan karena tidak ada orangtua di dekatnya yang dapat menghiburnya.

Martha, perawat yang ditugasi merawat Tzippie, adalah seorang wanita agak berumur yang tidak menikah. Ia memahami rasa takut dan rasa tidak aman yang dialami oleh Tzippie dan merawatnya dengan penuh perhatian. Apabila Martha telah menyelesaikan giliran berjaganya, ia bukannya pulang ke rumah, tetapi dengan sukarela terus menunggui Tzippie pada malam hari. Tentu saja, Tzippie semakin suka kepadanya dan bergantung kepadanya atas apa pun yang ia perlukan. Martha membawakannya kue-kue, buku-buku bergambar, dan mainan; ia bernyanyi untuknya dan bercerita banyak sekali.

Ketika Tzippie sudah dapat bergerak, Martha menaruhnya ke dalam sebuah kursi roda kemudian membawanya menjenguk orangtuanya setiap hari. Sesudah berbulan-bulan di rumah sakit, keluarga itu boleh pulang. Sebelum menginggalkan rumah sakit, sang orangtua mengucapkan terima kasih kepada Martha atas pengbdian dan perawatannya yang penuh kasih sayang dan mengundangnya berkunjung ke rumah mereka. Tzippie tidak mau berpisah dengan Martha, dan memaksanya agar mau tinggal bersama mereka. Martha juga tidak ingin berpisah dengan si kecil Tzippie, tetapi panggilan hidupnya adalah di bagian anak-anak rumah sakit itu, dan ia tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja dari situ. Semua orang yang mengerti terharu ketika menyaksikan Tzippie dan perawat yang ramah itu saling mengucapkan salam perpisahan. Selama beberapa bulan keluarga itu terus berhubungan erat dengan Martha – meskipun hanya melalui telepon, karena jarak yang memisahkan mereka terlalu jauh. Namun, ketika keluarga itu pindah ke luar negeri, mereka saling kehilangan kontak.

Lebih dari tiga puluh tahun telah berlalu. Pada suatu musim dingin, Martha yang sekarang berusia tujuh puluhan, menderita sakit parah karena pneumonia dan dirawat di bagian orang jompo sebuah rumah sakit dekat tempat tinggalnya. Di antara perawat yang bertugas ada seorang yang memperhatikan bahwa tamu yang menjenguk Martha sedikit sekali. Ia mencoba memberikan perawatan sebaik-baiknya kepada wanita lanjut usia ini, dan ia melihat bahwa wanita ini orang yang peka dan cerdas.

Pada suatu malam ketika perawat itu duduk dekat pasien tadi, mereka berbincang-bincang perlahan. Sang perawat mengaku kepada wanita itu tentang apa yang telah mendorongnya menjadi perawat. Ketika usianya empat tahun, tuturnya, dan ia bersama kedua orangtuanya mengalami kecelakaan lalu lintas, ada seorang perawat yang sangat ramah yang telah merawatnya sampai sembuh dengan penuh kasih sayang dan pengabdian. Ketika ia semakin besar, ia bertekad bahwa pada suatu hari ia juga akan menjadi perawat dan menolong sesama – dari muda sampai tua – seperti yang telah diperbuat oleh perawat itu kepadanya.

Sesudah lulus dari sekolah perawat di luar negeri, ia bertemu dengan seorang pemuda dari Amerika, dan ketika mereka menikah, mereka pulang ke AS. Beberapa bulan sebelum ini mereka pindah ke kota ini, karena sang suami ditawari pekerjaan yang sangat baik, dan ia juga bersyukur karena mendapatkan pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit ini. Begitu riwayat sang perawat terungkap, air mata mengalir membasahi pipi pasien lanjut usia itu, karena kini ia yakin bahwa perawat ini pasti si kecil Tzippie, yang pernah di rawatnya sesudah mengalami kecelakaan.

Ketika perawat itu menyelesaikan ceritanya, Martha berkata dengan lembut, “tzippie, kita berjumpa lagi, tapi kali ini kau yang merawatku!”. Mata Tzippie terbelalak ketika menatap Martha, tiba-tiba mengenalinya lagi. “Sungguh?” pekiknya. “Entah berapa kali saya memikirkan Anda dan berdoa agar suatu hari kita bertemu lagi!”

Ketika Martha sembuh dari penyakitnya, Tzippie – kali ini – tidak memohon kepadanya agar datang dan tinggal bersama keluarganya. Sebalikny, ia langsung mengepak barang-barang Martha dan membawanya pulang. Ia tinggal bersama Tzippie sam pai hari ini, dan suami Tzippie serta anak-anak menyambutnya seperti menyambut seorang nenek yang paling istimewa.

Ruchoma Shain
Fr Chicken Soup for Unsinkable Soul

Sebuah CIUMANSelamat Tinggal

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
“Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco..”
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakanSaat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisahlain-lainnya.
“Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu.” Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
“Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dansaudara-saudara lainnya yang masih dirumah.”
Ia menatap kami dan berkata, “Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.”
Suara Frank mulai merendah sedikit.
“Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semogabisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yangbaik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!”
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.’Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. ‘Kau benar,’ katanya. ‘Kau sudah jadi pemuda besar……seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi.’”
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. “Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.”
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, “Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku….untuk merasakan wajah tuanya yang kasar……untuk mencium bau air laut dan samudra padanya…..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau akuseorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah ciuman selamat tinggal.”
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita…..

By Thomas Charles Clary

Selasa, 18 November 2008

Ayah itu MENAKJUBKAN : kenangan semasa kecil


Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya,menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung padasiapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya. Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan. Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi. Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis....jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa "melihat" para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya. Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup Ayah benar-benar senang membantu seseorang... tapi ia sukar meminta bantuan. Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya. Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..." tidak terlalu mengecewakan" ^_~Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. *_~Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat. Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam...walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untukmembuatmu senang tapi tidak takut. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Ayah percaya orang harus tepat waktu, karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu di hari pertama masuk sekolah.

AYAH ITU MURAH HATI.....Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.... . Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ....Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka.....Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. ..Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu"Ketika ia ingin berkata ,,tidak"Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi. Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya....Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya. Ayah mengira seratus adalah tip..Seribu adalah uang saku..Gaji pertamamu terlalu besar untuknya...Ayah tidak suka meneteskan air mata ....ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan. Kalau tidak salah ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,,jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kaugantikan posisi Ayah di hatimu"Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baikdaripada kamu dulu....Ayah bisa membuatmu percaya diri...karena ia percaya padamu...Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....Dan terpenting adalah...Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akanmembentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN. Sayangilah Ayahmu juga Ibumu.

Ref:- "The Wonder Of Dad"., Phillys Hobe

Kamis, 06 November 2008

kenangan indah....tentangmu semasa di sekolah minggu


Kita tidak bisa memilih bagaimana dan kapan akan mati.
Tapi kita bisa memilih cara kita menjalani hidup sekarang.
(Joan Baez)

“Priit!” peluit berbunyi dan kedua regu serentak maju. Kami sedang berlatih football pada senja bulan Agustus yang sejuk itu.

Bruk! Aku menabrak seseorang. Ternyata B.J, salah seoarang teman karibku.
“Kau kebetulan beruntung waktu itu, Nate,” godanya.
“Yeah, memang! Aku memang hebat main football,” balasku.

Aku berkenalan dengan B.J di kelas enam, ketika kami masuk dalam tim football yang sama. Semua anggota tim menyukai B.J, tapi bagiku ia menjadi teman istimewa. Kalau mesti memilih partner untuk berlatih tackling, misalnya, aku selalu bersama B.J. Ia lucu dan menyenabgkan. Segala sesuatu selalu “bagus” baginya.

B.J bangkit dan men-tackle-ku. Kami tertawa. Lalu pelatih memanggil kami.
“Kemarilah kalian.” Kami menghampiri si pelatih. “Dalam pertandingan besok, kuminta kalian bermain sebaik mungkin.”
“Oke,” kami menjawab berbarengan.
“Sekian saja untuk sore ini. Jangan lupa dengan PR kalian,” seru pelatih kami ketika semuanya meninggalkan lapangan.
“Sampai ketemu dalam pertandingan besok,” teriakku pada B.J. Ia akan berangkat menghadiri rapat pemuda di gerejanya. B.J pergi bersama ayahnya yang menjadi asisten pelatih. Tepat pada saat itu ibuku datang menjemputku, naik mobil.
“Bu, boleh B.J mampir ke rumah sesudah pertandingan besok?” tanyaku sambil melompat masuk ke mobil.
“Kita lihat saja besok,” sahut ibu.

Keesokan harinya, aku siap-siap bertanding. Kami mengulang latihan-latihan yang telah kami pelajari malam sebelumnya. Lalu kami melakukan pemanasan. B.J belum datang, dan aku mulai bertanya-tanya, dimana dia berada. Sosoknya mudah terlihat, sebab ia lebih jangkung daripada anggota lainnya. B.J tidak akan melewatkan satu pertandinganpun, pikirku. Baru pada saat itulah kusadari bahwa ayah B.J juga tidak kelihatan. Padahal ia juga belum pernah melewatkan satu pertandingan pun sejak ia mulai melatih kami.

Ada yang tidak beres, pkirku. Pak pelatih memanggil kami. Sekarang aku benar-benar penasaran, ada apa sebenarnya.
“Anak-anak, kita mesti memenangkan pertandingan hari ini.” Kata pak pelatih. Lalu ia terdiam. Semua ikut terdiam. “Aku mendapat berita buruk. B.J mendapat kecelakaan semalam,” katanya.

Aku memejamkan mata dan mulai menangis dalam hati. Aku sudah menduga, pasti ada kabar buruk. Pak pelatih berbicara lagi.
“Dia sedang dalam perjalanan pulang dari rapat pemuda gerejanya, bersama sekelompok anak lain. B.J mengayun-ayunkan seutas tali nilon di luar jendela mobil. Tiba-tiba tali itu tersangkut di poros roda dan tersentak lepas dari tangannya.Rupanya dia lalu menjulurkan kepala ke luar jendela, untuk melihat apa yang terjadi. Tapi tali itu menyentak dan melilit lehernya, mencekiknya hingga tewas. Dan setelah....” Suara Pak Pelatih semakin pelan. Aku tak bisa lagi memusatkan pikiran untuk mendengarkan perkataannya. Aku Cuma ingat bahwa semalam aku masih melihat B.J.

Semua anak dalam tim kami berdiri dengan helm di tangan, sambil menangis. “Mari kita menangkan pertandingan ini untuk B.J,” teriak Pak Pelatih.

Selama pertandingan aku terus teringat B.J. Kutatap langit diatas, dan bertanya-tanya apakah B.J bisa melihat kami bermain dengan sunguh-sungguh untuk dirinya. Kami bermain sebaik mungkin, dan akhirnya menang.

Pada latihan berikutnya, kami ganti garis biru di helm kami dengan garis hitam, dan di bagian belakang helm itu kami cantumkan angka 80, nomor kaus B.J.

Ayah B.J sudah kembali membantu kami berlatih. Topinya terpasang miring, seolah-olah ia tak peduli lagi. Aku amat sedih melihatnya. Ia tak pernah kelihatan bahagia lagi. Aku tak pernah lagi melihatnya tersenyum, walau kami menang bertanding. Aku tahu musibah ini sangat berat bagi orang tua B.J, sebab ia anak mereka satu-satunya.

Kami memakai helm dengan nomor kaos B.J hingga empat pertandingan berikutnya, dan kami memenangkan semuanya untuk B.J. Kami berhasil masuk final, dan kami sukses menduduki tempat pertama.

Aku tahu tak mungkin kami meraih keberhasilan ini tanpa B.J. Aku merasa seakan ia ada bersama kami. Kadang-kadang aku suka melayangkan pandangan, berharap akan melihatnya dalam kaus merah kesayangannya, rambut pirangnya mencuat ke mana-mana, dan senyum cerah menghias wajahnya.

Meski kematian B,J tidak membuatku berhenti melakukan berbagai kegiatan yang kusukai – misalnya football, inline skating, dan ski – aku tidak lagi ugal-ugalan seperti dulu. Aku berpikir dulu sebelum melakukannya, bukan hanya tentang kesenangan yang akan kurasakan, tapi juga tentang bahaya-bahaya yang mungkin terjadi. Dulu aku suka mengeluarkan tangan dari jendela mobil yang sedang melaju, untuk memetik daun atau apalah. Tapi sekarang tidak lagi.

Aku tak sanggup menghadiri upacara pemakaman B.J. Terlalu berat bagiku. Bagi yang lain-lain pun sangat berat. Aku tak bisa berhenti memikirkan B.J dan aku sangat kehilangan dia.

Nate Barker, 12 tahun
Fr Chicken Soup for The Kid’s Soul

Hallowen: Pelangi....yang indah


O, Kristus, kalu saja mungkin,
Ingin kami melihat sesaat
Jiwa-jiwa yang kami cintai, agar mereka
Memberitahu kami
Di mana dan dalam ujud apakah mereka ada
(Alfred Lor Tennyson)


Sejak umur sebelas tahun, Rebecca suka sekali membuat gambar pelangi. Ia selalu membuat gambar pelangi pada kartu Hari Ibu, Kartu Valentin, dan pada gambar-gambar yang dibawanya pulang dari sekolah. “Kau gadis pelangiku,” kata ibunya selalu, sambil tertawa dan menempelkan gambar pelangi lagi di kulkas dengan magnet besar yang juga berbentuk pelangi.

Setiap jalur warna pelangi yang cerah mengingatkan Rebecca akan sesuatu yang istimewa dalam hidupnya. Merah, warna yang paling atas, mengingatkannya akan saus tomat merah yang manis, yang selalu dioleskan di makanan kesukaannya, kentang goreng, dan lain-lainnya yang terpikir olehnya. Merah adalah juga warna makanan kesukaan yang lain, yakni lobster, yang selalu dihadiahkan ibunya padanya setiap akhir tahun sekolah, kalau rapornya bagus. Warna jingga mengingatkannya akan labu dan liburan yang paling disukainya – Halloween. Pada hari Halloween ia bisa berpakaian sebagai tokoh apa saja yang diinginkannya. Warna kuning adalah warna rambutnya yang panjang, lurus dan tergerai indah di punggungnya, seperti rambut Rapunzel. Warna hijau berarti gelitikan rumput di bawah telapak tangannya saat ia ber-cartwheel dengan kaki terjulur ke atas. Biru adalah warna langit pagi yang dilihatnya dari atap kaca di atas tempat tidurnya. Biru juga merupakan warna matanya dan warna lautan yang tidak jauh dari rumahnya. Dan ungu – warna paling bawah pada setiap pelangi – adalah warna kesayangan ibunya. Warna yang selalu mengingatkan Rebecca akan rumah.

Pada akhir minggu terakhir di bulan Mei, Rebecca sudah tak sabar menantikan berbagai aktiviatas akhir tahun sekolah yang menunggunya. Beberapa hari lagi ia akan membawakan peran sebagai “si kuper” dalam drama sekolah, menjadi pusat perhatian dan membuat teman-temannya tertawa. Tak lama sesudahnya ia akan melakukan balet dalam pertunjukan dansa tahunannya. Ayahnya akan mejadi tuan rumah dalam acara piknik akhir minggu Memorial Day-nya yang terkenal. Satu-satunya yang tidak menyenangkan adalah ibu Rebecca akan pergi berlibur selama beberapa hari. Baru kali itulah ibu Rebecca akan pergi, sejak ia dan ayah Rebecca bercerai. Tidak seperti biasanya, Rebecca sangat sedih akan ditinggalkan ibunya. Ia menangis ketika mereka mengucapkan selamat tinggal. Mungkin ia sudah merasa akan terjadi sesuatu.

Pada akhir minggu Memorial Day itu, ketika pulang larut malam, Rebecca bersama ayahnya dan ibu tirinya tewas ditabrak seorang pengemudi mabuk yang mobilnya salah jalur di jalan raya. Yang selamat hanya Oliver, adik Rebecca yang berumur sembilan tahun, karena terlindung oleh tubuh kakaknya.

Upacara pemakaman Rebecca diadakan pada hari ketika ia seharusnya tampil dalam drama sekolah. Hari itu hari musim semi yang indah, cerah dan ceria seperti Rebecca sendiri. Ibu Rebecca memejamkan mata dan berdoa, “Rebecca, aku ingin yakin kau sudah pergi dalam damai. Berikan tanda padaku, Nak. Kirimkan pelangi untuk ibu.”

Selesai upacara pemakaman, teman-teman dan kerabat yang berduka berkumpul bersama ibu Rebecca di rumah kakek Rebecca. Sekonyong-konyong hujan mulai turun. Setelah beberapa saat, mendadak hujan itu berhenti. Lalu dari beranda depan rumah, seseorang berseru, “Hei, semuanya! Lihat! Lihat kemari!”

Semua orang lari keluar. Di sana, si seberang samudra, tampak sebuah pelangi. Pelangi raksasa dengan warna-warna sangat indah yang muncul secara ajaib dari tengah awan. Warna-warninya begitu cerah, jelas dan terang.

Sementara para bibi menangis dan para paman saling siku untuk bisa melihat lebih jelas, ibu Rebecca menengadah menatap pemandangan indah yang dilukiskan Gadis Pelanginya di langit dan berbisik, “Terima kasih.”

Tara m Nickerson
Fr Chicken Soup for The Kid’s Soul