Minggu, 22 Februari 2015
Kerr Neilson, Warren Buffett asal Australia
Swiss negara terbaik untuk pensiun?
Natixis menyurvei 150 negara sebagai tempat pensiun. Global retirement index menganalisis 20 tren dalam empat kategori, yakni kesehatan, kesejahteraan material, keuangan dan kualitas hidup.
Bloomberg melaporkan, Swiss menduduki peringkat pertama karena pendapatan per kapita yang tinggi, berbagai lembaga yang kuat secara finansial, serta kondisi lingkungan yang berperingkat tinggi. Negara terbaik kedua untuk pensiun adalah Norwegia yang memiliki program sosial kuat.
Australia menduduki peringkat ketiga karena program tabungan wajib. Peringkat Australia naik dua level dari posisi lima tahun lalu. Posisi 10 besar dihuni oleh negara di Eropa, kecuali Australia dan Selandia Baru yang menduduki peringkat 10.
Negara Asia terbaik untuk pensiun adalah Korea Selatan yang menduduki urutan 14, naik dari posisi 17 di tahun lalu, serta Jepang di posisi 17.
Merayakan valentine denagn cokelat Ferero
MICHELE Ferrero mewarisi bisnis cokelat dari Pietro Ferrero pada tahun 1949. Selama menjalankan bisnis Ferrero Group lebih dari setengah abad, Michele Ferrero giat mengembangkan produk dan jaringan.
Michele meninggal di Monte Carlo, setelah berbulan-bulan sakit. Sergio Mattarella, Presiden Italia dalam pernyataan yang dikutip AFP mengatakan, Michele Ferrero adalah pengusaha sejati, dikenal dan dicintai di Italia dan seluruh dunia. "Michele merupakan pemimpin bisnis di Italia selama bertahun-tahun, selalu memimpin tren karena produk-produk inovatif dan gigih," kata Mattarella.
Berbagai produk favorit seperti Nutella, Ferrero Rocher, cokelat Kinder dan Tic Tacs kini beredar di 160 negara di dunia. Ferrero SpA menjadi perusahaan dengan reputasi terbaik menurut survei Reputation Institute tahun 2009.
Pietro memulai bisnis Ferrero pada akhir Perang Dunia II tahun 1946. Dia membangun lab uji coba untuk mengembangkan produk bagi toko kue istrinya di Piedmont, Italia. Ketika sulit mendapatkan bahan baku cokelat berupa kakao, Pietro mengembangkan produk berbahan baku hazelnut yang lebih mudah didapat di Italia saat itu.
Kreativitas ini menghasilkan penjualan laris manis. Dibantu adiknya, Giovanni, Pietro Ferrero membangun perusahaan baru untuk memproduksi dan memasarkan produk yang awalnya bernama Gianduja ini. Dengan harga lebih murah karena bahan baku yang mudah didapat, produk padat berbentuk batangan ini laku di pasaran.
Ketika mengambil alih bisnis, Michele dan istrinya, Maria Franca Fissile mengubah bentuk Gianduja menjadi selai dan mengganti namanya menjadi Supercrema dan akhirnya menjadi Nutella. "Ayah saya bilang, kami bisa mengembangkan produk ini lebih jauh karena teknologi baru dan cara-cara baru untuk mengintegrasikan resep," kata Giovanni Ferrero, generasi ketiga yang kini menduduki CEO dan Chairman Ferrero kepada BBC.
Ekspansi Ferrero keluar Italia dimulai tahun 1956. Saat itu, Michele membuka kantor sekaligus pabrik baru di Jerman. Tingkat konsumsi cokelat Jerman yang tinggi menjadi alasan ekspansi ini. Konsumsi cokelat per kapita Jerman mencapai dua kali lipat daripada Italia.
Dua tahun kemudian, Michele mendirikan pabrik di Prancis. Pabrik ini diikuti ekspansi dan produksi di Belgia, Belanda, Austria, Swis, Swedia, Inggris, Irlandia dan Spanyol. Pada tahun 1966, Ferrero menjadi perusahaan terbesar kedua di Italia.
Ferrero mencetak pendapatan € 8,1 miliar pada tahun buku yang berakhir Agustus 2013, naik 5,6% ketimbang tahun sebelumnya di tengah krisis finansial Eropa yang masih berlangsung. Memiliki raksasa gula-gula, Michele justru merupakan konglomerat yang tertutup dan menghindari publisitas. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, tapi menciptakan kondisi kerja yang sangat manusiawi bagi lebih dari 30.000 pekerja.
Michele menolak akuisisi perusahaan lain. Selama ini pun, Ferrero Group tumbuh secara organik tanpa mengakuisisi perusahaan lain.
Pada tahun 1997 Michele menyerahkan operasional sehari-hari kepada Giovanni dan Pietro, anak pertamanya yang meninggal karena serangan jantung di Afrika Selatan tahun 2011.
Kusah Sukses John Morris
Alangkah senang menjalankan bisnis yang juga merupakan hobi. Terbukti dari kecintaan pada dunia memancing, nama John Morris bisa masuk dalam deretan miliarder dunia.
Morris yang kini berusia 66 tahun, mulai berjualan peralatan memancing sejak 1971. Forbes memperkirakan, total harta kekayaan si kakek saat ini berjumlah US$ 4,2 miliar. Dengan kepemilikan harta kekayaan sebanyak itu, nama Morris kini bertengger di urutan ke-126 dalam daftar orang terkaya di Amerika Serikat (AS).
Semasa muda, Morris membuka bisnis penjualan alat pancing di toko milik ayahnya di Springfield, Missouri. Sebab, toko sang Ayah yang menjual minuman, berada tepat di pinggir danau Table Rock. Morris muda berpendapat, sangat tepat memulai bisnis peralatan pancing di lokasi ini.
Selain didorong hobi, alasan Morris memilih bisnis alat pancing tidak lepas dari lingkungannya kala itu. Meski memiliki spot memancing yang menarik, namun Morris sulit mendapatkan alat pancing berkualitas tinggi di Springfield.
Hal yang sama ternyata juga dirasakan pemancing lain. Tidak butuh waktu lama bagi Morris menarik perhatian para pemancing dengan koleksi barang dagangannya. Lokasi penjualan yang strategis ditambah penawaran berbagai alat pancing berkualitas yang diperoleh dari berbagai penjuru AS berhasil melambungkan nama Harris, terutama dikalangan para pemancing.
Kegiatan memancing tergolong membutuhkan banyak peralatan yang tidak sedikit. Kenyataan ini mendorong Harris terus memperbanyak koleksi barang dagangan yang disediakan. Dari waktu ke waktu barang dagangan Harris semakin lengkap. Bahkan dia menyediakan perahu khusus memancing bagi para pemancing.
Portofolio barang jualan Harris pun perlahan kian bervariasi. Melihat potensi wisata alam di kota asalnya, Morris lantas menyediakan perlengkapan outdoor lain, seperti alat berburu hingga peralatan berkemah.
Perlahan bisnis Morris kian berkembang. Ini mendorong Morris memperluas cakupan usaha Bass Pro Shops. Ia pun masuk ke distribusi produk fesyen seperti pakaian dan sepatu, tentu dengan embel-embel tema outdoor.
Bisnis Morris ternyata tidak hanya soal menjual barang. Bass Pro Group juga tertarik berinvestasi di sektor riil. Bisnis pariwisata, salah satunya. Morris tercatat memiliki hotel dan resor di Missouri.
Selain mancing, Morris juga penggemar balap mobil dalam National Association for Stock Car Auto Racing atau sering disebut Nascar. Dia juga rela menjadi sponsor tim balap Nascar sjeak 2004. Bahkan sejak 2013 lalu, Bass Pro Shops mengikat kerja sama sponsorship jangka panjang bagi Tony Stewart, pembalap handal nan berbakat.
Kesuksesan Bass Pro Shop tak diperoleh dengan mudah. Beberapa isu negatif sempat menerpa bisnis Morris, semisal tuduhan bersikap diskriminatif terhadap karyawan dari ras negro. Morris juga dituding telah menyebabkan kematian usaha ritel perlengkapan outdoor skala kecil di berbagai daerah lantaran kehadiran Bass Pro Shop dengan kekuatan modal yang sangat besar.
Namun terkait persaingan bisnis dengan aneka tudingan miring dari para kompetitor, Harris memilih tidak menghiraukannya. Bass Pro Shop jarang menanggapi isu.
Bass Pro Shops adalah mesin pencetak uang Morris. Forbes mengestimasi penjualan Bass Pro Shops pada tahun 2014 silam bernilai US$ 4,2 miliar.
Minggu, 08 Februari 2015
Setelah Dipenggal, Iman Kristen Kenji Goto Bersinar
Kenji Goto, wartawan Jepang yang dipenggal kelompok yang mengaku Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS/ISIS/ISIL)—mengunjungi Suriah didorong oleh imannya kepada Yesus Kristus.
Goto menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pada 1997, menurut Assist News Service. Panggilan Kristus untuk menjangkau masyarakat miskin dan hancur dalam roh tampaknya memotivasi jiwa kewartawanannya.
"Anak-anak, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan adalah tujuan pelayanannya," rekan jurnalisnya, Toshi Maeda, mengatakan kepada CCTV. "Dia hanya ingin bertemu anak-anak di daerah konflik dan memberi tahu seluruh dunia tentang penderitaan mereka. Saat ia mengikuti kisah anak-anak itu, ia berakhir di zona perang."
Seperti kata Goto pada Mei lalu kepada Christian Today edisi Jepang, "Saya telah melihat tempat-tempat yang mengerikan dan telah mempertaruhkan hidup saya, tapi saya tahu bahwa entah bagaimana Tuhan akan selalu menyelamatkan saya."
Cuitannya di Twitter empat tahun lalu—yang isinya seakan menjadi refleksi iman Kristennya—menyebar dengan cepat.
"Tutup mata Anda dan tetap bersabar. Semuanya berakhir ketika Anda marah atau berteriak. Ini sama seperti berdoa. Membenci bukanlah peran manusia; penghakiman adalah kuasa Tuhan. Saudara saya dari Arab yang mengajari saya tentang ini," kicaunya dalam bahasa Jepang pada 7 September 2010.
Hingga kini pesan itu telah di-retweet lebih dari 25.000 kali di Jepang, dengan versi bahasa Inggris juga beredar luas.
Pesan wartawan berusia 47 tahun ini mirip dengan pesan Yesus yang memberi pengampunan dan kasih di atas kayu salib ketika Anak Allah yang meminta Bapa-Nya untuk memaafkan orang yang menyalibkan-Nya.
"Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan," kata Yesus kepada Allah, menurut Lukas 23:34.
Goto adalah anggota dari Gereja United Church of Christ Denenchofu di Jepang. "Goto melaporkan apa yang harus dilaporkan dengan keyakinan teguh," kata Pdt Hiroshi Tamura dari Gereja Denenchofu, menurut laporan Japan Times bulan lalu sebelum mantan anggota jemaatnya dibunuh.
"[Dia] punya rasa yang kuat atas keadilan ... Dan [ia selalu] perhatian terhadap orang yang rentan, termasuk anak-anak."
Goto diculik oleh ISIS pada Oktober 2014 setelah memasuki negara Suriah melalui Turki, dengan harapan menyelamatkan temannya dan sesama sandera, Haruna Yukawa.
Teman Goto, Yukawa, diculik oleh anggota Negara Islam di Agustus 2014 sebelum ia kemudian dipenggal oleh kelompok itu.
Kisah Djudjuk Srimulat Tanggapi Panggilan Yesus Kristus
Sebab, pada 2003 lalu ia memutuskan untuk menjadi Kristen mengikuti jejak keempat anaknya. Semasa hidup Djudjuk menjadi anggota bahkan aktif di Gereja Bethel Indonesia Keluarga Allah di Surakarta. Bagaimana kisahnya, sehingga ia bertemu dengan sang Juru Selamat, Yesus Kristus?
Kisahnya dimulai saat sang suami, Kho Tjien Tiong atau Teguh Slamet Rahardjo atau yang populer dengan nama Teguh Srimulat meninggal dunia pada 1996. Djudjuk memutuskan menikah kembali dengan seorang perjaka.
Awalnya, ia mengira pernikahan ini akan membuatnya berbahagia, seperti yang direguknya bersama Teguh dulu. Ternyata tidak. Malah, di antara mereka sering terjadi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi pertengkaran. "Rumah tangga saya bagaikan neraka," kata Djudjuk waktu itu.
Dengan berbagai persoalan yang begitu pelik itulah membuat fisik dan mental ibu empat orang anak ini lemah. "Saya tertekan, bahkan tak kuasa menahannya. Kejadian ini saya rasakan saat tampil di panggung bersama pelantun tembang-tembang campur sari, Didik Kempot.
Sampai di rumah tubuh saya limbung dan gelap sekali. Saya benar-benar rapuh. Dalam kegelapan itu saya mencoba memanjatkan doa permohonan sesuai dengan kepercayaan saya dulu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan dalam bahasa Jawa, "Muliho, muliho," artinya pulanglah-pulanglah. Mendengar panggilan itu saya ketakutan luar biasa. Sebab yang saya pahami dari nenek moyang saya dulu, pulang itu bisa berarti dipanggil Tuhan alias meninggal.
Inilah yang membuat saya takut luar biasa. Jujur saja saya belum siap kalau Tuhan panggil. Maka secara spontan saya mengajukan permohonan kepada Tuhan, jangan Kau panggil saya sekarang Tuhan, karena saya belum siap mati. Tetapi suara itu tetap terdengar bahkan sampai tiga kali. Nah pada panggilan ketiga, suara itu menambahkan supaya saya pulang dengan membawa semua barang-barang saya yang ketika itu dikuasai oleh suami kedua saya ini. Di sinilah saya meyakini bahwa panggilan pulang itu supaya saya ke rumah dulu dan membawa barang-barang saya, Saya meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan," kata Djudjuk.
Minta Didoakan
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Djudjuk segera pulang ke rumahnya. Seperti perintah yang diyakini sebagai suara Tuhan, ia mengambil dan membawa serta barang-barang berharga miliknya. "Sebenarnya barang-barang itu juga hasil jerih lelah saya selama ini.
Saya makin yakin itu suara Tuhan, seminggu setelah saya mendapatkan kabar ada masalah dengan orang yang bersengketa dengan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa Tuhan itu memang baik. Karenanya saya minta keempat anak saya untuk mendoakan. Sebab mereka sudah terima Yesus terlebih dahulu. Awalnya mereka kaget. "Mama tahu kan apa doa saya?"tanya mereka. Lalu saya katakan saya tahu, tetapi tolong mama didoakan. Sewaktu didoakan itulah saya menangis sejadi-jadinya dan bicara tidak karuan. Sekarang saya baru tahu kalau yang saya alami itu adalah bahasa Roh. Saya mengerti apa yang saya katakan, tetapi anak-anak dan hamba Tuhan yang mendoakan waktu itu sama sekali tidak tahu apa maksud kata-kata saya itu. Sejak itulah, saya memutuskan untuk menerima Yesus, bahkan sekarang aktif di GBI Keluarga Allah Solo, dan pelayanan secara Oikumene," kisahnya.
Melalui peristiwa inilah segala beban berat yang ada dalam dirinya terangkat. Dan yang lebih dahsyat lagi, Tuhan meminta untuk mengampuni orang yang bermasalah dengannya. "Jujur itu sangat berat, sebab orang seperti itu tak layak mendapat pengampunan. Selama satu tahun saya bergumul untuk bisa mengampuninya. Dan luar biasa akhirnya saya bisa melakukannya," ujarnya. Setelah menerima Yesus. Mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidup saya, "Rasanya saya sampai tidak bisa bercerita mukjizat yang saya alami satu persatu karena saking banyaknya," katanya.
Dan, pada kemarin Djudjuk menanggapi panggilan sang Juru Selamat untuk menikmati kehidupan kekal di dalam Dia. Selamat jalan Bu Djudjuk.
Kamis, 05 Februari 2015
Menentukan Tujuan Hidup
Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.
Ia membungkuk & menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok."
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.
Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,
"Apa yang terjadi?
Engkau baik-baik saja kan?
Apa yang diambil perampok tadi?"
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.
Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?
Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.
Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.
Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an lah yang membuat kita menderita.
Rumahku, hartaku, istriku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak ajak apa-apa dan siapa-siapa.
Pada waktunya "let it go", siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia .
Semoga bermanfaat.
