Selasa, 21 April 2015

Successful vs Unsuccessful

Successful people are always looking for opportunities to help others. Unsuccessful people are always asking,...


Senin, 20 April 2015

Pikiran positip

Always end your day w/ a positive thought.No matter how bad things were,tomorrow is an opportunity to make it better.

Minggu, 19 April 2015

Learning

There's a bit of hidden magic in every mistake. The magic is called LEARNING.



Sukses Alberto Bombassei: Rem cakram untuk mobil premium

Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara pula orang membangun bisnis. Bagi Alberto Bombassei, peristiwa kecelakaan truk yang terjadi di tempat tinggalnya merupakan kesempatan besar yang mengubah hidupnya. Memulai bisnis sebagai tukang bengkel, Alberto dipertemukan dengan kecelakaan truk yang berisikan rem cakram. Saat melihat rem cakram, Alberto ibarat menemukan takdirnya. Bermodal nekat, dia menawarkan diri sebagai pemasok rem cakram.   

Nama Brembo kini identik dengan mobil mewah dan sepeda motor premium. Sejumlah merek mobil mewah menggunakan rem cakram buatan Brembo. Sebut saja Aston Martin, Bugatti, Daimler, Ferrari, General Motors, Lamborghini hingga Porsche.

Namun siapa sangka, konglomerasi bisnis rem cakram Alberto Bombassei bermula dari sebuah kecelakaan truk. Ceritanya begini. Pada awal 1960-an, Alberto mengikuti sang ayah, Emilio, untuk pindah dari kota kelahirannya di Vicenza ke Bergamo, Italia.

Saat itu, di usianya baru menginjak 20 tahun, dia dan ayahnya memulai bisnis kecil-kecilan dengan membuka sebuah bengkel kecil. Layaknya bisnis yang baru dimulai, tak banyak kemajuan yang terjadi. Jasa perbaikan mobil menjadi kegiatan rutin yang mereka lakukan.

Semua berubah ketika sebuah kecelakaan terjadi tak jauh dari tempat tinggal Alberto. Sebuah truk yang mengangkut rem cakram mengalami kecelakaan. Rem cakram yang diangkut truk itu buatan Inggris dan diimpor untuk mensuplai produsen mobil Italia.

Kala itu, Alberto ditunjuk untuk memeriksa kondisi rem cakram tersebut. Saat melihat rem cakram, ia dan ayahnya memiliki ide yang sama. Mereka merasa yakin bisa meniru produk tersebut untuk diproduksi di Italia. Memang, saat itu belum ada produsen rem cakram di Italia.

Karena penggunaannya masih terbatas, kebutuhan rem cakram masih didatangkan dari luar negeri, terutama Inggris. Dengan keahlian bernegosiasi, Alberto menawarkan produsen mobil kenamaan Inggris, Alfa Romeo, untuk memberi mereka kesempatan kepada mereka untuk menjadi penyuplai rem cakram.

Strategi Alberto, bila berhasil mengambil hati produsen Inggris, pembuat mobil di Italia pasti bakal tertarik. Saat itu, mobil buatan Italia pun meniru mobil buatan Inggris soal penggunaan rem cakram. Alberto meyakini, dengan meniru dan meningkatkan kualitas rem cakram pabrikan Inggris, merek Brembo bakal cepat tersohor.

Setelah menggandeng beberapa produsen mobil di Eropa, Alberto mulai melihat potensi segmen lain. Ia melihat beberapa produsen sepeda motor mulai tertarik menggunakan teknologi rem cakram di kuda besi mereka.

Dengan cepat, dia mengambil potensi tersebut dan segera menjadi pemimpin pasar untuk rem cakram sepada motor di Eropa. Naluri Alberto tak berhenti sampai di situ.

Dia sadar di negeri asalnya, jiwa balap mengalir kental. Masuk ke pasar mobil balap bakal membuka peluang besar bagi Brembo. Tak tanggung-tanggung, dia langsung mendatangi pemimpin tim balap F1 yang dipimpin Enzo Ferrari untuk menawarkan rem cakram buatannya.

Beruntung, Enzo adalah tipikal orang yang terbuka. Melihat seorang pemuda yang ambisius, Enzo memberikan kesempatan bagi Alberto untuk memasang Brembo di mobil supercepat milik Ferrari. Hasilnya memuaskan.

Performa jempolan baik dari tim balap Ferrari maupun rem Brembo lambat laun mulai menarik perhatian tim F1 lain. Di tahun berikutnya, hampir semua tim balap F1 memakai rem cakram buatan Alberto. Prestasi di lintasan balap ikut menular ke segmen kendaraan konsumer. Alhasil permintaan produk Brembo terus meningkat.

Alberto terus meningkatkan produksi Brembo dengan melakukan sejumlah akuisisi. Termasuk mengambil alih beberapa produsen asal Inggris, yang sebelumnya adalah penguasa pasar rem cakram di tanah Italia.

Terbiasa dengan dunia balap yang kompetitif membuat jiwa bisnis Alberto makin terasah. Dia terus berinovasi sehingga Brembo bertambah populer.  




  Karl Persson: Pewaris tahta H&M yang pro buruh


Takdir sudah menggariskan Karl Johan Persson sebagai pewaris tahta bisnis Hennes & Mauritz (H&M). Sebagai generasi ketiga perusahaan ritel produk pakaian terbesar kedua di dunia asal Swedia tersebut, Persson jelas tumbuh dan besar dalam keluarga yang mencatat tradisi sebagai miliarder kelas dunia.

Erlin Persson, kakek Persson,  merupakan pendiri H&M pada tahun 1947 silam. Sedang Stefan Persson, sang ayah, adalah orang terkaya di Swedia saat ini dengan total kekayaan mencapai US$ 24,1 miliar. Sementara bibinya, Lottie Tham, juga menjadi miliarder berkat kepemilikan sejumlah saham H&M. Persson sendiri, menurut catatan Forbes, tercatat sebagai orang tajir di Bumi di urutan ke-603, dengan total kekayaan US$ 3 miliar.

Perssson lahir pada 25 Maret 1975 dari pasangan Stefan Persson dan Pamela Colett. Pria yang kini berusia 40 tahun ini menamatkan pendidikannya pada 2000 lalu di European Business School, London, dengan mengambil jurusan bisnis dan ekonomi.

Sebagai orang terpandang, leluhur Persson memiliki kedekatan dengan Kerajaan Swedia. Putri Mahkota Swedia Victoria pun menghadiri pernikahan Persson dengan Leonie Gilberg di tahun 2002. Pasangan ini kemudian dianugerahi dua anak

Mulai tahun 2006, Persson masuk jajaran direksi H&M. Tiga tahun kemudian atau tahun 2009, lelaki yang memiliki hobi bermain tenis ini didaulat menjadi chief executive officer (CEO) H&M. Meski bekerja di perusahaan keluarga, Persson tidak lantas memegang jabatan strategis H&M begitu saja. Pada tahun 2001, dia membeli perusahaan yang berbisnis events management. Tidak disebutkan berapa nilai akuisisi yang harus dibayar oleh Persson. Yang pasti, perusahaan itu kemudian tumbuh berkembang menjadi perusahaan events management terbesar di Skandinavia yang kemudian dijual oleh Persson ke MCI tahun 2007 lalu.

Tapi, sejak tahun 2000 Persson telah tercatat sebagai anggota pengawas H&M di Denmark, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Sepanjang tahun 2001–2004, Persson memegang jabatan CEO H&M untuk jaringan Eropa. Persson pun menjadi pemilik sekitar 12,13 juta saham H&M kelas B. Persson juga sempat memainkan peranan di bagian operasional H&M mulai tahun 2005. Dia ditunjuk menjabat kepala Ekspansi, Pengembangan Bisnis, dan Merek H&M global.

Setelah menjadi orang nomor satu di H&M global, Persson menunjukkan jiwa kepemimpinan yang patut diacungi jempol. Ia dikenal sebagai pengusaha yang tidak melulu mengejar profit sebesar mungkin bagi perusahaan. Persson juga dikenal sebagai sosok pengusaha yang memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan hidup para pekerjanya.

Bahkan, Persson pernah memprotes dan berjuang meningkatkan kesejahteraan buruh di perusahaan yang memasok produk-produk H&M di Bangladesh. Lantaran kebijakan upah minimum yang sangat memprihatinkan, banyak pekerja dari pemasok H&M tersebut yang  harus hidup pas-pasan.

Persson lalu menuntut standar gaji para karyawan pemasok H&M di Bangladesh diperbaiki. "Kami menuntut agar Pemerintah Bangladesh menaikkan upah minimum, dan mempertimbangkan untuk membuat review gaji tahunan," kata Persson.

Sebagai pengusaha, Persson menegaskan, dirinya ingin memastikan telah menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi banyak orang. Terutama, di beberapa negara yang memasok produk ke H&M. "Ini membuat saya bangga, mengetahui kontribusi kami untuk mata pencaharian banyak orang," ujarnya.

Shen Jieliang menjadi miliarder baru China

Status China menjadi pasar mobil terbesar di dunia membawa berkah bagi warganya. Salah satunya adalah Shen Jieliang yang ikut menikmati bisnis otomotif yang sangat gurih di Tiongkok lewat perusahaan interior mobil miliknya. Pemilik sekaligus chairman Jiangsu Kuangda Automobile Textile Group Co. ini pun masuk jajaran orang paling kaya di muka Bumi ini versi Bloomberg Billionaires Index.

Jieliang masuk dalam daftar miliarder dunia pasca harga saham Jiangsu Kuangda mencatatkan rekor tertinggi, di level CNY 44,80, atau setara US$ 7,22 per saham pada penutupan bursa saham China, Kamis (9/4) lalu. Menurut Bloomberg, sehari kemudian, Jumat (10/4), saham Jiangsu Kuangda mencatat rekor baru, setelah harganya naik 3%. Alhasil, Jieliang yang merupakan pemilik 53% saham Jiangsu Kuangda langsung bergelar miliarder lantaran pundi-pundi kekayaannya sekarang mencapai US$ 1 miliar.

Orang China yang juga masuk Bloomberg Billionaires Index: Wang Jianjun, chairman Great Wall, dengan harta US$ 9,8 miliar, dan Lu Guanqiu, pemilik Wanxiang Group, US$ 6,5 miliar.

Menggenjot pendapatan

Catatan saja, Jiangsu Kuangda adalah produsen interior kendaraan bermotor yang bermarkas di bermarkas di Changzahou. Perusahaan ini banyak terlibat dalam banyak penelitian, pengembangan, manufaktur, serta distribusi produk interior mobil. Produk utamanya adalah bahan-bahan kain pelapis kursi, pintu, dan sandaran kepala kursi mobil. Jiangsu Kuangda mulai dipimpin oleh Jieliang tahun 1993 silam.

Jieliang yang kini berusia 62 tahun masih mampu memimpin perusahaannya dengan baik. Tercatat, akhir tahun 2014 lalu, Jieliang sanggup menggenjot pendapatan Jiangsu Kuangda sebesar 22,4% menjadi CNY 1,7 miliar atau sekitar US$ 281,3 juta.

Jiangsu Kuangda sendiri berawal dari sebuah perusahaan manufaktur yang sudah ada sejak tahun 1988 di Provinsi Jiangsu. Tapi, pasca restrukturisasi tahun 1993, Jieliang mengambil alih tampuk pimpinan Jiangsu Kuangda. Perusahaan ini juga merupakan pemasok bagi raksasa otomotif asal Amerika Serikat (AS), General Motor Corporation (GM).

Jiangsu Kuangda memiliki sejumlah anak perusahaan yang berkantor di China dan beberapa negara lain, seperti di AS, Jerman, Australia, dan Jepang. Dan, 11 Februari 2015 lalu, Jiangsu Kuangda melepas salah saty anak usahanya yang bernama Jiangsu Kuangda Electric Power Investment Co. Ltd. kepada Hareon Solar Technology Co. Ltd. Nilai transaksinya senilai CNY 960 juta.




Sent from Samsung Mobile.

Perempuan terkaya di bidang tehnologi

Booming industri tekhnologi di era digital, tentu membawa  berkah dan kekayaan yang amat besar bagi para eksekutif yang  menggeluti bidang ini. Tak tercecuali kaum perempuan yang menduduki posisi puncak di industri tekhnologi.  

CEO Hawlett-Packard Meg Whitman kini menjadi  perempuan  paling kaya di  sektor tekhnologi. Berdasarkan peringkat yang disusun Wealth-X, Whitman berada di posisi puncak dengan kekayaan senilai US$ 1,3 miliar (sekitar Rp 17 triliun)

Posisi kedua diduduki COO Facebook Sheryl Sandberg dengan nilai kekayaan bersih US$ 1,22 miliar.

Berselisih sedikit dengan Sandberg, ada Lucy Peng, Co-Founder Alibaba dengan kekayaan US$ 1,2 miliar. Dus, Peng yang baru berusia 42 tahun ini merupakan perempuan  Asia terkaya di industri teknologi.  

Cher Wang, Komisaris HTC  dengan kekayaan US$ 890 juta  menduduki peringkat keempat. Sementara posisi kelima diduduki CEO Yahoo Marissa Mayer dengan kekayaan US$ 410 juta.

Lantas bagaimana pera perempuan hebat ini memiliki kekayaan yang begitu besar? Kepemilikan saham di perusahaan yang mereka pimpin adalah kuncinya.

Ambil  contoh Whitman, yang sebelumnya menjadi CEO di e-Bay dari tahun 1998-2008. Perempuan 58 tahun ini mengeruk keutungan yang amat besar ketika dia menjual kembali sahamnya di perusahaan e-commerce tersebut tahun 2007.

Begitu pula Sandberg yang telah menjual sahamnya di Facebook sejak 2012. Sandberg mengumpulkan uang tunai lebih dari US$ 700 juta  (sebelum pajak) dari penjualan saham tersebut. Setelah menjual sebagian sahamnya, menurut perkiraan Wealth-X, Sandberg kini masih menggenggam saham Facebook senilai US$ 430 juta.

Sementara bos Alibaba, Lucy Peng alias Peng Lei menjadi miliarder setelah raksasa e-commerce China tersebut  dihargai US$ 167 miliar dalam penawaran saham perdana (iinitial public offering- IPO) tahun lalu . Kapitalisasi pasar Alibaba saat ini sudah mencapai US$ 210 miliar.

Cher Wang, yang baru terpilih menjadi CEO HTC bulan lalu memang sudah biasa masuk daftar orang terkaya. Namun,   performa HTC yang belakangan melemah secara signifikan telah menggerus nilai kekayaan perempuan asli Taiwan ini. Berdasar  data Forbes, nilai kekayaan  Wang dan suaminya terpangkas  menjadi US$ 950 juta di 2014 akibat anjloknya harga saham HTC.

Meski kekayaan bos-bos perempuan ini cukup mengagumkan, namun kekayaan mereka masih kalah jauh dibandingkan rekan mereka yang laki-laki.

Pendiri Microsfot Bill Gates  yang bulan lalu dinobatkan Forbes sebegai orang terkaya di industri teknologi memiliki kekayaan sekitar US$ 79,2 miliar. Disusul Larry Ellison,  mantan CEO Oracle  dengan kakayaan  US$ 54,3 miliar.

Meskipun ada kemajuan dalam kesetaraan gender di dunia, namun perbedaan gaji  antara lelaki dan perempuan masih banyak terjadi.   Dari daftar 500 CEO  versi Forbes, hanya 5% wanita, dan data menunjukkan gaji mereka secara  konsisten lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Sebuah penelitian yang dilakukan Federal Reserve Bank New York Maret lalu mengungkapkan, upah berdasarkan performa cenderung menguntungkan laki-laki. "Kompenseasi untuk eksekutif perempuan lebih banyak terkena dampak akibat penurunan  nilai perusahaan , dan sebaliknya  sedikit sekali terkena dampak dari peningkatan nilai perusahaan dibanding laki-laki" demikian hasil studytersebut.

Penelitian tersebut menunjukkan, setiap kenaikan US$ 1 juta pada nilai perusahaan, eksekutif laki-laki akan menikmati peningkatan kesejahteraan senilai US$ 17.150. Sementara eksekutif perempuan hanya mendapatkan peningkatan US$ 1.670.

 The World Economic Forum memperkirakan, butuh 81 tahun untuk mencapai kesetaraan gender dalam dunia kerja.