Sabtu, 11 Januari 2020

Mendidik anak

*PARENTING RAK MUTU*

By: Harjanto Halim

Saya diundang ke acara seminar pola-asuh (parenting) di sebuah Sekolah Dasar. Temanya *'Mendidik Siswa Milenial'.* Acaranya jam 9, tapi saya datang terlambat, jam 10 lebih. Saya masuk dari belakang dan duduk di bangku paling belakang, agar tidak mengganggu acara.

Saya menyimak sebentar dan saya langsung tertarik. Pembicaranya seorang *wanita*, seorang *doktor psikologi.* Cara membawakannya santai, bahasanya ringan, dibumbui humor dan kisah lucu. Contoh yang diangkat dari peristiwa sehari-hari; kadang dari keluarganya sendiri, anak-anaknya, kadang dari tingkah polah anak didiknya, mahasiswanya.

Saya sangat suka saat ia menunjukkan sebuah tabel yang memetakan: kelompok usia anak, perkembangan mental di kelompok usia tertentu, siapa yang berperan, dan apa yang terjadi jika pendidikan berhasil.

Di tahap *usia 0-3 tahun* anak belajar tentang *rasa percaya vs rasa curiga.*
Yang berperan adalah *ibu.*
Menghasilkan *rasa optimis.*

*Usia 3-5 tahun* anak belajar *mandiri vs ragu-ragu.*
Yang berperan adalah *ayah dan ibu.*
Menghasilkan *kontrol diri dan motivasi.*

*Usia 5-7 tahun* anak belajar *insiatif vs rasa bersalah*
Yang berperan *ayah, ibu, saudara.*
Menghasilkan *perilaku yang mudah diarahkan.*

*Usia 7-12 tahun* anak belajar *motivasi kuat vs rendah diri.*
Yang berperan *ayah, ibu, guru, teman.*
Menghasilkan *perilaku yg pandai mengelola konflik.*

*Usia 13-19 tahun* anak belajar *identitas diri vs kabur.*
Yang berperan *orang dewasa dan sahabat.* Menghasilkan *perilaku setia, rasa sosial tinggi, stabil, tidak mudah terpengaruh.*

*Usia 20-30 tahun* anak belajar *keakraban vs isolasi.*
Yang berperan *pasangan hidup.*
Menghasilkan *perilaku cinta keluarga.*

Menarik, bukan?

"Maaf, bukannya saya menganggap peran guru sama sekali tidak ada. Saya juga guru," ujar sang psikolog meneruskan paparannya. "Tapi fungsi orangtua, terutama Ayah, tak tergantikan, bahkan oleh seribu guru sekalipun."

Hmm. Orangtua, terutama *Ayah, tak tergantikan seribu guru.*

"Orangtua harus mau berkorban, mengasuh dan menjaga sepenuhnya hingga anak umur 12 tahun, hingga SD," imbuhnya dengan bersemangat.

Okay.

"Karena setelah itu peran teman dan guru mulai membesar..."

Menarik.

"Jadi kalau ada *anak SMP atau SMA nakal atau berulah*, jangan cuman panggil orangtuanya, percuma," ujar sang psikolog mantap. "Panggil siapa?"
Dan kami menjawab serentak, *"Temannya..."*
"Bener!" Sang psikolog manthuk. *"Panggil temannya, sahabatnya, ajak mereka bicara untuk membantu,"*

Hmm...

"Kalo *mahasiswa saya ada yang bermasalah,* malas kuliah misalnya," ujar sang psikolog. "Saya ndak mungkin panggil orangtuanya. Siapa yg saya panggil...?"
Dan kami pun ber-koor, *"Pacarnya!"*
"Bener!" Sang psikolog menganggukkan kepala dengan mantap.

Saya terus menyimak.

Benar apa yang dipaparkan si pembicara, lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan mental seorang anak berubah dari waktu ke waktu, sesuai tahapan usia. Awalnya orangtua, lalu keluarga, lalu guru, teman, dan terakhir pasangan hidup.

*"Hampir semua anak selalu ngefans sama papanya.*"Si pembicara meneruskan paparannya. "Mereka akan sangat kecewa saat papanya gagal memenuhi *tiga kriteria utama seorang ayah.* Apa saja itu?," tanyanya dengan nada memancing.

Apa, ya? Saya ndak tahu. Naga-naganya topik ini sudah dibahas sebelum saya datang..

Seorang guru mengacungkan jari.
"Ya, apa saja, Pak?" Si pembicara menuding si bapak guru yang kini berdiri.
*"Mencari nafkah,"* jawab si bapak guru.
"Bener, mencari nafkah."
*"Mendidik karakter,"*
"Ya, bener, dan yang ke-tiga?"

"Umm..." Si bapak guru tidak segera menjawab. Lho, kok ragu?

*"Mencintai istrinya..."*

Oalah.

Saya tersenyum. *Mencari nafkah, mendidik karakter anak, mencintai istri;* tiga kriteria utama seorang ayah, seorang suami. Adakah yang belum kita penuhi?

Saya banyak belajar hari ini.

"Dan yang terpenting dilakukan bukan 'quality time', tapi *'quantity'.* Bukan kualitas tapi kuantitas,"

Maksudnya?

"Lha ndak mungkin tiap kali punya quality time," imbuh si pembicara. "Mosok kita mau bilang gini sama anak, 'Ayo, cepet-cepet, kamu mau ngomong apa sama mama, curhat apa? Ayo cepet, ini mama sejam lagi ada seminar. Cepet, cepet, kita quality time'"

Hahaha, kami ngakak. *Quality time* tidak bisa dipaksa, *disusu-susu*, harus terjadi secara spontan, misterius, dan itu butuh waktu.

*Kuantitas.*

"Sama suami atau istri juga begitu. Mosok mau bilang, 'Ayo, Mah, kita quality time, yuk. Ngomong apa ya, enaknya?'"
Hahaha, kalau diskenario atau dipaksakan, malah garing, mati gaya.

Bubar.

*"Saat kita bisa ngomong, guyon, cerita hal-hal yang lucu, ndak mutu, ndak berkualitas, terus kita bisa tertawa bareng, ngakak bareng, itulah quality time, itulah kualitas,"* tandas sang psikolog.

Bener.
Saat omongan kita, *diri kita tampil rak mutu, quality time tercipta.*

Karena saat *'rak mutu'* itulah *kita tampil sebagai pribadi yang seutuhnya, tulus, ikhlas, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling.*
*Itulah kualitas terbaik kita sebagai manusia.*

Saya tersenyum. Saya jadi kangen mendengar *Istri* yang hampir tiap bangun pagi selalu *bercerita tentang mimpinya yang rak mutu.* (#bahasa Jawa rak=ora=tidak)



Selasa, 05 November 2019

The beautiful work in crisis!

Hello!

We are looking for employees working remotely.

My name is Fletcher, I am the personnel manager of a large International company.
Most of the work you can do from home, that is, at a distance.
Salary is $3500-$7000.

If you are interested in this offer, please visit Our Site

Best regards!

Minggu, 27 Oktober 2019

Motivasi: Ledaer TP Rachmat vs Nadiem Makarim

Sense Of Miission 

Siapa yang tidak kenal dengan Theodore Permadi Rachmat. Konglomerat kelahiran Majalengka tersebut memang sudah tidak diragukan lagi kelihaiannya dalam berbisnis. Bahkan Majalah Forbes kembali mencatatkan namanya sebagai salah satu dari 1.645 pemilik kekayaan di atas US$1 miliar  untuk tahun 2014. Rachmat berada di peringkat 973 dalam daftar tahunan Forbes dengan capaian nilai harta sebesar US$ 1,85 miliar.

Namun di balik segala kesuksesannya ternyata, ada rasa minder yang menghingapi pemilik Grup Triputra ini ketika membandingkan dirinya dengan Nadiem Makarim, Co-founder Go-jek. Dalam sebuah kesempatan acara Manajer Leader Summit yang digelar Intipesan di Djakarta Theater, mantan Presiden Direktur (Presdir) PT Astra International Tbk berbagi pemikrannya tentang membangun bisnis dan juga kekagumannya atas sosok Nadiem.

Berikut penuturan TP Rachmat yang disajikan dalam format bertutur

"Saya punya slide presentasi mungkin tidak secanggih pembicara lain, umur saya 73 tahun. Saya telah 48 tahun kerja, saya mulai 48 tahun lalu sebagai pegawai nomor 15 di Astra dan pegawai nomor satu di United Tractor. Sebagai orang yang paling tua, orang selalu tanya ke saya, 'Pak, kalau saya bisa tanya satu nasihat, apa sih nasihatnya itu?' Sebelum saya menjawab, saya ingin menerangkan beberapa hal. Selama saya mengamati hidup saya,  banyak melihat perusahaan jatuh bangun. Tiba-tiba naik besoknya turun atau sebaliknya. Lalu saya mencoba mengobservasi apa sih sebenarnya yang bisa membuat sebuah organisasi bisa terus eksis dalam rentang waktu jang panjang.

Lalu saya lihat ada tiga organisasi yang telah berabad-abad sustainable. Lihat Agama Budha, mereka mulai didirikan oleh Sidharta Gautama sejak kurang lebih 2.600 tahun lalu, Kristen didirikan 2000 tahun lalu, Islam 1.500 tahun lalu. Kenapa mereka sampai sekarang sustainable? Pernah tidak ada yang memikirkan itu? Rasanya masih jarang. Lalu apa yang mereka punya sebagai kesamaan? Menurut saya ada satu yaitu Belive dan Mission. Satu-satunya yang menyebabkan organisasi ini langgeng sampai sekarang berabad-abad, sebenarnya hanya sense of mission.

Menurut saya perusahaan juga sama, kalau kita bisa punya sense of mission, dari atas sampai ke bawah maka akan sustainable. Lalu apa lagi kesamaannya? Baik Budha, Kristen, Islam sama-sama religious leader sebagai panutan. Istilahnya jika guru kencing berdiri murid kencing berlari. Dalam perusahaan juga sama, harus punya pemimpin-pemimpin yang memberikan contoh yang baik. Dan terakhir, perusahaan juga harus punya ritual untuk mempertahankan eksistensinya. Selama perusahaan itu ada believe, ada leader yang kasih contoh baik, dan punya ritual yang menguatkan kepercayaan maka akan langgeng.

Masuk di Astra sebagai pegawai 15, sekitar 15 tahun lalu saya membuat beberapa perusahaan sendiri, Triputra dan Adaro. Nah, yang saya lakukan di perusahaan saya sama. Di sana ada misision leader dan ritual. Misi di Triputra sangat sederhana, a bigger purpose, prosper with the nation. Saya sendiri menyumbang banyak, saya kasih beasiswa 1.500 orang, saya memberikan yatim piatu sejumlah uang, saya bangun klinik kesehatan. Saya pikir saya telah melakukan banyak hal.

Sampai kemudian saya lihat Go-jek.  Go-jek dalam waktu 5 tahun bisa memberi pekerjaan pada 200.000 orang, tentunya saya bandingkan dengan apa yang saya lakukan dengan Nadiem lakukan. Seluruh pegawai saya berkisar 70.000 orang. Nadiem dalam waktu singkat 200.000 orang, akhirnya saya pikir siapa yang memberikan kontribusi paling besar dia atau saya. Nadiem memberikan kontribusi lebih besar dalam jangka waktu 5 tahun, dibanding saya yang 15 tahun.

Jadi saya bilang ke anak-anak saya,  apa kontribusi terbesar yang akan kalian berikan ke bangsa. Bangun world class company, nah itu aja. Penglaman di Astra mengajarkan bahwa bila perusahan tidak punya value system maka tidak akan kemana-mana. Value system itu tidak boleh hanya di mulut, harus di hati, apa yang diomongkan harus sama seperti yang dilakukan.

Jadi kalau ada orang menanyakan ke saya apa paling penting dalam hidup? Apa itu perusahaan, apa itu negara, selalu saya katakan have a mission bigger than yourself. Kalian yang harus mencari mission kalian,"

Sumber:
http://swa.co.id/swa/trends/kala-tp-rachmat-minder-dengan-nadiem-makarim



Jumat, 25 Oktober 2019

Motivasi: Tantangan kepemimpinan


"Tantangan dari kepemimpinan adalah menjadi kuat, bukan menjadi kasar, menjadi baik, bukan menjadi lemah, menjadi berani, bukan menjadi penggertak, menjadi berpikir, tapi bukan malas, menjadi rendah hati, tapi bukan takut, menjadi bangga, tapi bukan sombong, mempunyai humor, tapi tanpa kebodohan" (Jim Rohn)

Tol laut (2)

Penasaran dengan interior Tol Laut?...
Saya bersyukur bisa masuk ke dalam salah satu Tol Laut yg baru tiba dr galangan kapal di Batam..di Kupang, NTT.

Kalo saya lihat, cukup modern. Fasilitas di dalam ruang nahkoda..ada layar radar..beberapa alat komunikasi..yg menurut saya, sbg penumpang nggak usah ragu dgn keselamatan.

Juga, kapal sekoci..yg cukup untuk para penumpang.
So..ayo kita naik kapal..


Image
Image

Kamis, 24 Oktober 2019

Mahalnya ILMU

Cerita Montir Paling Mahal

Suatu hari, ada seorang bapak, kita sebut saja namanya Pak Bambang.

Pak Bambang sedang bingung. Motor Pak Bambang sudah rusak berhari-hari. Sudah coba dia perbaiki sendiri, tapi belum berhasil. Bensin full. Aki bagus. Semua rasanya sudah benar. Akhirnya, Ia memutuskan untuk ke bengkel.

Bukan hanya 1 bengkel, melainkan sampai tig bengkel Ia datangi demi memperbaiki motor kesayangannya. Mengapa?

Bengkel pertama didatangi Pak Bambang, bongkar sana, bongkar sini. Tetap tidak bisa menyala. Montirnya kebingungan. Padahal Pak Bambang sudah mendorong motor jauh sekali, dan sudah bayar lumayan mahal.

Belum menyerah, Pak Bambang datang ke bengkel kedua. Disana, motornya di bongkar pasang lagi. Diganti onderdil ini dan itu. Tapi hasilnya nihil. Motornya tetap tidak bisa nyala.

Sudah mulai kesal, Pak Bambang masih mencari bengkel lain. Ini sudah bengkel ketiga. Kalau sampai tidak bisa lagi, Dia mau jual saja motornya. Pusing, katanya.

Benar. Di bengkel ketiga ini, montirnya masih tidak bisa menyalakan motor Pak Bambang.

Lelah hati, lelah pikiran, capek pula badan beliau. Baru mau dia jual motornya,  tiba tiba salah saru temannya datang. "Ada montir hebat," katanya. "Sudah berpengalaman 30 TAHUN."

Awalnya Pak Bambang ragu, namun penasaran juga. 30 tahun pengalaman, kata temannya.

Sampai lah ia di rumah sang montir, Pak Bambang yang skeptis ini menyerahkan motornya dan menjelaskan masalahnya.

Si montir melihat-lihat motor Pak Bambang beberapa saat. Kemudian masuk ke dalam rumah.

Ia keluar membawa palu kecil. Dia ketok satu bagian di motor Pak Bambang. "PLETHOK!"

"Sudah. Coba nyalakan." kata sI montir.
"Hah? Gitu doang?" Pak Bambang makin skeptis.

"Oke lah," pikir pak bambang. "Biar gila sekalian. Habis ini motor saya jual aja"
Buru-buru menyalakan mesin motornya.
.
.
Dan...... GiLA! MOTOR NYALA!

Pak Bambang kaget. Bagaimana bisa?!
Dia matikan lagi motornya. Nyalakan lagi. BISA LAGI!

Gila. "Diketok sekali doang," pikir Pak Bambang.

"Berapa?" Kata Pak Bambang bersiap mengeluarkan dompetnya, sumringah.

"1 JUTA Pak." kata si montir.

Jeder! Pak Bambang melotot.
"Lah, digetok sekali doang minta sejuta."
Merasa tidak pantas bayar segitu, pak Bambang minta nota. MANA RINCIANNYA.

Sang montir kemudian memberikan detail di nota, Dengan muka datar.

Nota:
Biaya ketok: Rp 10 ribu
Tau dimana harus ketok: Rp 990.000
Total : Rp 1.000.000

Sempat melotot lihat bon nya, Pak Bambang pasrah. Ikhlas. Mau bilang gimana lagi.

Cerita ini memberi pelajaran bahwa PENGALAMAN ITU MAHAL harganya. Karena orang  yang pengalaman, tahu KUNCI-KUNCI nya.

Orang lain pusing menduga-duga bahwa opsi ini paling baik, atau opsi ini lebih baik, namun sejatinya, coba lagi, gagal lagi, rugi lagi. Semua yang berdasarkan pengalaman lah yang paling akurat.

Tidak perlu lagi menebak-nebak. Tidak perlu lagi salah ini dan salah itu. Rugi sini rugi sana. Boncos. Stress. Bangkrut. Ilmu sudah lengkap, sudah terbukti berhasil berkali kali. Terbukti naik ke atas, dan tidak turun turun lagi.

Mungkin karena itulah ketika bicara bisnis dan kemakmuran, ada yang bilang, kaya yang bagus itu bukan kaya yang cepat. Tapi kaya yang TAHAN LAMA.


Senin, 21 Oktober 2019

Bersama Indonesia maju dengan birokrasi yang melayani rakyat

Banyaknya keluhan bahwa proses birokrasi di Indonesia lama...berbelit - belit...tidak jelas.  
Sehingga untuk urus surat2...baik KTP,Surat Ijin Usaha, NPWP ,dll perlu kesabaran , harus segera di hilangkan .
Benar, bila kita bandingkan dgn beberapa wajtu sebelumnya sudah banyak berubah. Tapi, budaya agar birokrasi memperhatikan kepuasan rakyat perku terus ditingkatkan.

Kenapa? ya, ini untuk menghindari praktek pungli, korupsi...salah satubya dgn teknologi. 
On-line proses..shg besarnya biaya dan juga perkiraan selesai bisa diketahui.

Image