Jumat, 24 Oktober 2014

Sara Blakely; Miliarder Muda



Sara Blakely dinobatkan menjadi miliarder termuda berkat kesuksesannya membangun bisnisnya sendiri pada tahun 2000. Seperti beberapa entrepreneur lain, Blakely juga mengalami masa-masa sulit di awal membangun usahanya. Tetapi, semangatnya menjadi pengusaha sukses, membuatnya selalu bangkit saat terjatuh.

Dikutip dari laman Forbes, Kamis 23 Oktober 2014, Blakely menceritakan kisah suksesnya. Pada masa-masa awal mendirikan Spanx, sebuah perusahaan pakaian dalam miliknya, keinginannya membuat hak paten atas produk ciptaannya terhalang, karena dia tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara.

Tak patah arang, dia pun mempelajari cara memperoleh hak paten sendiri. Ia menghabiskan malam di perpustakaan Georgia Tech untuk mencari referensi segala hal yang berhubungan dengan pembuatan hak paten sebuah produk. Dia lalu menulis hak paten produknya sendiri, dengan buku teks dari Barnes dan Noble.

Untuk memproduksi pakaian dalam kreasinya, dia juga harus menempuh perjalanan hingga 5 jam ke North Carolina. Tanpa malu ia mendatangi satu per satu pabrik kaos kaki yang bersedia bekerja sama memproduksi produknya.

Kamar apartemennya di Atlanta, ia gunakan sepenuhnya sebagai kantor. Semua tempat, kamar mandi hingga ruang tamu, penuh dengan produk yang sudah ia buat.

Kini, ia mengenang manis masa-masa sulit saat awal membangun bisnis. Usaha kerasnya terbayar. Forbes pada 2012 menobatkan Blakely menjadi miliarder termuda di dunia yang sukses membangun bisnisnya dari awal sendiri. Dia juga pernah mendarat di sampul Forbes pada 2012.

Blakely hingga sekarang tetap memiliki 100 persen saham Spanx, brand yang memiliki nilai sebesar US$1 miliar. Dia tak pernah secara resmi memasang iklan. Popularitas dan keberhasilan produk buatannya sepenuhnya dari mulut ke mulut.

Minggu, 05 Oktober 2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan


John Coudwell adalah salah satu miliarder di Inggris dengan jumlah kekayaan mencapai 2 miliar euro. Tak hanya itu, ia juga memiliki dua rumah mewah yang sangat luas, kapal pesiar mewah, helikopter, dan koleksi mobil-mobil mewah.

Dilansir Daily Mail, Jumat 3 Oktober 2014, Caudwell dikenal sebagai raja produsen ponsel. Dia pendiri Phones 4U. Saat berjaya, dia sangat menikmati kemewahan dan kelimpahan harta yang makin bertambah. Tapi demi itu, dia juga harus bekerja keras.

"Hal favorit yang sering saya lakukan adalah datang ke London dari rumah saya di Staffordshire dengan helikopter pribadi," ujarnya.

Rumah mewahnya di Staffordshire ditaksir memiliki harga 10 juta euro, sementara rumah yang di London seharga 85 juta euro.

Gaya hidup mewah dan berkelimpahan harta mungkin membuat sebagian orang merasa iri dan ingin sepertinya. Tetapi, ada duka di balik pintu rumahnya yang berlapis emas.

Baru-baru ini terungkap, bahwa anak tertua Caudwell dari mantan istrinya Kathryn McFarlane, Rufus, yang baru berusia 19 tahun menderita agorafobia, ketakutan saat berada di tempat di mana bantuan tidak tersedia. Penderita agorafobia selalu merasa takut di kerumunan dan lebih memilih untuk menyendiri.

Penyakit itu menyebabkan anak lelakinya menghabiskan sebagian besar hidupnya terbatas di kamar tidur, ia tidak pernah meninggalkan rumah.

Sementara itu, pekan ini, Caudwell dengan Claire Johnson, teman hidupnya selama 15 tahun memutuskan untuk berpisah. Saat ini, mereka hanya mengkhawatirkan Jacobi, anak mereka yang berusia 10 tahun.

"Kami telah melewati pembicaraan yang menyakitkan dan sampai pada titik di mana kami memilih untuk berpisah. Ini solusi yang lebih baik, dibanding tetap hidup berama-sama," ujarnya.

"Jacobi, anak kami, memang menjadi fokus perhatian kami, kami sangat khawatir dia akan berdampak dengan perpisahan ini. Yang saat ini bisa kami lakukan adalah meyakinkan dia bahwa dia memiliki orang tua yang sangat mencintainya," ungkapnya.

Situasi lain yang menjadi fokusnya adalah perkembangan Rufus yang menderita agorafobia. Menurutnya, sudah 8,5 tahun Rufus berjuang mati-matian untuk menghadapi penyakitnya yang semakin parah.

"Melihat penderitaan anak yang kita cintai setiap hari, itu sangat menyakitkan. Dia telah berjuang 8,5 tahun melawan penyakit itu, dan kami telah mengupayakan pengobatan yang terbaik di berbagai negara," paparnya.

"Sebelumnya dia sangat tampan, anak yang sangat berbakat. Saya sangat sedih melihat kondisinya. Dia dikelilingi banyak orang yang mencintainya, tapi cinta itu tak bisa menyembuhkan depresinya. Kalau saja itu bisa," katanya sembari menangis.

"Mungkin saya orang pertama yang mengatakan bahwa kekurangan uang memang bisa menyebabkan penderitaan. Tetapi, yang lebih penting, uang tidak bisa membeli kebahagiaan," imbuhnya.

"Saat Anda merasakan apa yang saya alami saat ini, Anda pasti akan mengatakan hal yang sama. Uang tidak mampu menjadi solusi permasalahan Anda, uang tidak bisa mengubah ketdakberdayaan Anda saat melihat darah daging Anda berjuang melawan penyakitnya," katanya.

"Yang benar-benar penting pada akhirnya adalah kesehatan. Jika Anda tidak memiliki itu, maka semua uang yang ada di dunia ini sekalipun tidak akan pernah membuat Anda bahagia," katanya.


Selasa, 23 September 2014

Peran orang dibalik kesuksesan Bill Gates


Bill Gates

Siapa tak kenal dengan Bill Gates, miliarder terkaya duniayang juga populer sebagai pendiri Microsoft. Tapi tahukah Anda siapa orang yang paling berjasa membantu Bill Gates hingga menjadi super kaya seperti sekarang?.

Anda pasti belum pernah mendengar nama Michael Larson, pria yang selama puluhan tahun menjadi orang paling berjasa bagi Gates dalam mengumpulkan seluruh hartanya.

Gates merekrut Larson 20 tahun lalu saat jumlah kekayaannya masih berjumlah US$ 5 miliar saja. Kini, Bill Gates memiliki total harta yang melimpah luar biasa hingga mencapai US$ 81,6 miliar dan terus meningkat setiap tahunnya.

Larson menjalankan perusahaan investasi swasta milik Gates bernama Cascade Investment LLC yang seutuhnya didirikan pendiri Microsoft tersebut.

Pada saat mendirikan Cascade, sumber kekayaan Gates hanya berasal dari Microsoft. Tapi beberapa tahun kemudian, dia menjual sebagian besar sahamnya di Microsoft.

Meskipun Gates membuat investasinya sendiri di bidang teknologi, tapi Larson melalui Cascade merupakan pria yang mengelola seluruh harta Gates dan mendiversifikasikannya.

Gates kini memiliki sejumlah investasi yang tersebar di bidang properti hingga beberapa perusahaan non-teknologi seperti Canadian National Railway Co., AutoNation Inc., dan Republic Services Inc.

Seluruh investasi tersebut yang kemudian membantu Gates menemukan dana untuk aksi amalnya. Berkat Larson, Gates kini berhasil menjadi lebih kaya dalam waktu yang leih cepat bahkan dengan berbagai donasi yang digelontorkan sebesar US$ 38 miliar.

Hartanya meningkat hampir US$ 6 miliar hanya dalam waktu enam bulan sejak Maret 2014. Pada Februari tahun ini, Gates bahkan merayakan hubungan kerjasamanya dengan Larson yang telah berusia 20 tahun.

Dalam pesta tersebut, Gates memberitahu para tamu bahwa dirinya sangat mempercayai Larson. Artinya, pria tersebut menginvestasikan uang Gates, membeli dan menjual saham dengan kuasa penuh.

Saking besarnya jasa Larson pada Gates soal investasi, dia diberi gelar sebagai `Gateskeeper`. Larson dikenal memiliki sejumlah trik hebat untuk menjaga nama Bill Gates dan Cascade dalam sejumlah investasinya.

Dia juga memiliki trik bisnis hebat hingga banyak orang tak mengetahui bahwa Gates, melalui Cascade, memiliki saham di hotel mewah Four Seasons. Meski memiliki otoritas besar atas keuangan Gates, tapi dia tidak pernah boros dalam mengeluarkan harta bosnya.

Para pegawai Cascade yang diketahui sekitar 100 orang tidak diizinkan untuk menginap di Four Seasons dalam perjalanan bisnis. Bahkan jika bisnisnya mengenai Four Seasons, hal tersebut tetap tidak diperbolehkan.

Para pegawai tetap harus memilih penginapan yang harganya lebih murah. Begitulah, berkat bantuan Larson, Bill Gates akhirnya dapat menjadi miliarder terkaya dunia. 


Jack Ma `Alibaba`, Ditolak Kerja Takdirnya Malah Jadi Miliarder

From Zero to Hero. Ungkapan tersebut tampak jelas berada pada sosok CEO Alibaba Group Jack Ma yang kini telah menjadi orang terkaya di China dan berada di posisi ke-23 jajaran miliarder dunia. Sebelum sukses seperti sekarang, pria yang baru berulangtahun ke-50 ini ternyata pernah puluhan kali ditolak kerja.

Lucunya, dia pernah melamar kerja di KFC, dari total 24 pelamar, hanya Jack yang tidak diterima. Sementara 23 pelamar lainnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan cepat saji tersebut.

Sebagai pria muda, dia pernah melamar pekerjaan di 30 perusahaan dan selalu ditolak. Dia tak pernah mendapatkan pekerjaan apapun dari 30 perusahaan yang dilamarnya.

Akhirnya, dia memutuskan menjadi guru bahasa Inggris di Hangzhou Electronics Technology College. Meski merupakan penduduk China, Jack justru menemukan mimpi besarnya di AS.

Mimpi tersebut juga diwujudkan di AS dan menjadikannya sebagai miliarder terkaya di China. Prestasi lain masih terus dicetaknya, pekan lalu, IPO Alibaba bahkan menghasilkan transaksi penjualan terbesar sepanjang sejarah dunia.