Sabtu, 01 November 2014

10 orang terkaya di China

Jack Ma kini resmi menjadi orang paling tajir di China setelah  perusahaannya menawarkan saham perdana di dunia. Laporan Hurun Report mengatakan, pendiri Alibaba ini menjadi orang paling kaya di China dengan nilai kekayaan mencapai US$ 25 miliar.

Padahal, tahun lalu, Ma bahkan tidak masuk dalam 10 besar orang kaya di China. Namun, setelah melepas saham Alibaba di New York Stock Exchange, kekayaannya menggelembung mencapai US$ 25 miliar. Ini karena pada perdagangan perdana saham Alibaba melonjak sebesar 38%. 

Ma mengalahkan kekayaan Wang Jialin, salah seorang taipan properti terbesar di China. Menurut Hurun, nilai kekayaan Wang mencapai US$ 24,2 miliar. 

Di tempat ketiga ada Li Hejun yang memiliki perusahaan energi bernama Hanergy.  Nilai kekayaan Le ini setara dengan orang kaya keempat di China yakni Zong Qinghou, pendiri dan CEO perusahaan minuman.  Di tempat kelima ada CEO Tencent yakni Pony Ma.

Hurun Report Chairman dan Chief Researcher Rupert Hoogewerf mengatakan, Jack Ma merupakan orang kesebelas yang menduduki posisi pertama orang terkaya di dunia selama 16 tahun. Menurutnya, perubahan daftar orang terkaya China ini menunjukan perekonomian yang dinamis. "Sepuluh tahun lalu cuma ada tiga triliuner , sekarang ada 354 orang," katanya. 

Berikut 10 orang kaya China menurut Hurun:
1. Jack Ma Yun, nilai kekayaan US$ 25 miliar
2. Wang Jialin nilai kekayaan US$ 24,2 miliar
3. Li Hejun, nilai kekayaan US$ 20,8 miliar
4. Zong Qinghou, nilai kekayaan US$ 20,8 miliar
5. Pony Ma Huateng, nilai kekayaan US$ 18,1 miliar
6. Robin Li, nilai kekayaan US$ 17,5 miliar
7. Yan Jiehe dan Yan Hao, nilai kekayaan US$ 14,2 miliar
8. Yang Bin, nilai kekayaan US$ 10 miliar
9. Richard Liu, nilai kekayaan US$ 8,8 miliar
10. Lei Jun, nilai kekayaan US$ 7,5 miliar


Wong Man Li, pekerja keras

PERJALANAN bisnis Man Wah Holdings resmi dimulai pada September 1992 silam. Kala itu, Wong Man Li nekat menjajal bisnis furnitur dengan mendirikan pabrik di kawasan perbatasan China dengan Hong Kong, Shenzhen.

Man Li membangun pabrik dengan duit hasil penjualan apartemen miliknya. Man Li menguras seluruh harta dan tabungan hasil jerih payah menjadi karyawan selama 12 tahun. 

Menurut Man Li, keberanian dan kerja keras menjadi modal terpenting dalam membangun bisnis. Prinsip inilah yang dipakai Man Li dalam membangun kerajaan bisnis Man Wah.  

Keberanian Man Li membangun Man Wah termaktub dalam logo perusahaannya. Arti kata Man Wah dan logo perusahaan yang membentuk angka 100 diartikan sebagai filosofi perusahaan yang meyakini kerja usaha 100% bakal berbuah kesuksesan. 

Di tahun-tahun awal membangun bisnis, Man Li menyebutnya dengan ungkapan "Asian Tiger" atau periode anugerah berlimpah bagi para pebisnis mebel. Sebab, kala itu Hong Kong tengah memasuki tahap pembangunan besar-besaran yang memicu lonjakan permintaan barang furnitur.

Booming furnitur pun dibarengi kemudahan berbisnis. Man Li menjajal bisnis furnitur tanpa memiliki pengalaman sedikit pun tentang bisnis mebel. Sebab, selama belasan tahun hijrah ke Hong Kong dari Fujian, China, Man Li bekerja di pabrik elektronik.  

Dengan modal nekat, Man Li menilai bahwa booming permintaan furnitur bisa mendatangkan berkah, termasuk bagi pemain pemula. "Bisnis furnitur tidak memerlukan pabrik besar, produknya tidak rumit, dan sangat mudah menemukan pelanggan di Hong Kong," ujarnya seperti dikutip Forbes. 

Insting bisnis Man Li terbukti jitu. Kerja keras Man Li berbuah manis. Pada tahun pertama berdiri,  Man Wah sukses meraup penjualan sebesar US$ 3 juta. Tidak cepat puas, Man Li terus mengembangkan bisnisnya. Tak butuh waktu lama, pada tahun 1994, Man Li langsung ekspansi.

Man Li mendirikan dua pabrik tambahan di bawah entitas Man Wah Industry Company Limited dan New Uifa Furniture Manufacturing. Awalnya, Man Li fokus membidik segmen bisnis sofa. Namun akhirnya berkembang ke berbagai segmen furnitur. 

Sukses di tahun perdana, Man Li memperbanyak anak usaha dan menambah pabrik di Shenzhen dan Huizhou. Bahkan, pada tahun 1998, Man Wah mendapat berbagai penghargaan sebagai perusahaan yang tengah naik daun. Misal, penghargaan bertajuk "Top Ten Enterprises" oleh International Furniture and Decoration Association Hong Kong.

Sukses di pasar lokal, Man Li tancap gas melebarkan sayap bisnis ke pasar global. Langkah pertama, Man Li memboyong perusahaannya ke bursa saham Singapura pada Juni 2005. Sebagai financial hub, bendera bisnis Man Wah yang bercokol di Singapura bakal mendongkrak gengsi Man Wah di pasar global.  
Sejak mendarat di bursa Singapura, produk mebel Man Wah mulai merambah pasar China hingga Amerika Serikat (AS). Strategi Man Wah yakni memasok mebel kepada peritel besar.  

Di AS, Man Li sukses menggandeng peritel Macy's. "Pengecer besar membeli dalam jumlah besar sehingga ongkos pengiriman lebih efisien," ujar Man Li. 

Puncaknya, produk mebel Man Wah sukses menguasai pasar furnitur AS pada tahun 2012. Data Furniture Today mengungkapkan, furnitur pabrikan Man Wah tercatat sebagai pemasok mebel paling banyak di pasar AS. Pendapatan Man Wah diprediksi menembus angka US$ 700 juta pada tahun ini




Jumat, 31 Oktober 2014

Kisah sukses Man Li

KESUKSESAN Wong Man Li dalam membangun bisnis perabotan ditunjang oleh kejelian sang miliarder melihat potensi pasar. Atas dasar itu, Man Li membidik China menjadi salah satu negara tujuan pasar produk mebel.

Man Li menilai, ada tiga faktor yang membuat Tiongkok menjadi pasar yang potensial. Yaitu pertumbuhan pesat penjualan apartemen, tingkat urbanisasi, serta peningkatan konsumsi masyarakat. Nah, tiga faktor itu merupakan indikator penting bagi pengembangan bisnisnya.

Mebel tradisional China memang umumnya terbuat dari kayu. Namun, konsep penjualan kursi yang lebih nyaman, seperti sofa, oleh Man Li justru mendapat respon positif dari konsumen di negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia itu. Patut dicatat, keberhasilan Man Wah Holdings, perusahaan furnitur Man Li, berbisnis adalah membuat produk yang berkualitas.

Misalnya saja soal pemilihan busa. Konsumen dibuat takjub dengan hasil pengetesan produk busa Man Wah Holdings yang bisa bertahan hingga 72 tahun.

Memiliki produk yang berkualitas tentu saja belum cukup untuk membawa Man Wah Holdings sukses seperti saat ini. Konsep pemasaran menjadi bagian penting lain yang tidak bisa diabaikan. Man Li mengembangkan konsep waralaba untuk memperluas pemasaran produk.

Saat ini, Man Wah Holdings telah memiliki sekitar 1.000 gerai furnitur dengan konsep waralaba. Hingga tahun 2015 nanti, Man Li menargetkan membuka 500 gerai lagi, yang sebagian besar berada di wilayah China.

Untuk mendukung ekspansi usahanya, Man Li mendirikan pabrik keempat di Tianjin, China. Pabrik tersebut berdiri pada pertengahan tahun 2014.

Bagi Man Li, produksi dan distribusi haruslah berjalan beriringan untuk menekan ongkos pengiriman. Selain itu, memastikan dan menjaga agar persediaan produk di setiap gerai mencukupi. Tak lupa, Man Li membekali para mitra waralaba dengan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan omzet penjualan.

Berkat berbagai strategi itu, bisnis Man Li mampu bertahan saat terjadi krisis ekonomi dunia. Semua konsep, mulai dari kualitas produk hingga teknik pemasaran oleh mitra waralaba, menjadi bagian penting dari bisnis furnitur Man Wah Holdings.

"Kami berharap dapat memperoleh pertumbuhan dua digit setiap tahun. Walaupun hanya menggarap 1% dari pasar mebel China yang sangat besar, kami sudah sangat berkembang," ujar Man Li, seperti diwartakan Forbes.

Pengalaman selama 21 tahun dalam bisnis furnitur membuat Man Li sudah cukup paham peta persaingan pasar. Selain di China, Man Wah Holdings juga menyasar konsumen lain dengan menggandeng Harvey Norman, peritel terbesar di Australia dan DFS untuk pasar Eropa. Tahun ini, Man Wah Holdings sedang melakukan terobosan baru dengan Costco di  Amerika Serikat.

Asal tahu saja, keluarga juga berperan dalam bisnis Man Wah Holdings. Selain didampingi oleh sang istri, dalam menjalankan bisnis Man Li juga dibantu putrinya yang bernama Zoe. Lulusan University of Wisconsin ini menangani pemasaran dan perencanaan strategi periklanan Man Wah Holdings.

Man Li juga mempercayakan pengembangan Man Wah Holdings kepada kalangan profesional lain. Alan Marnie dan Stephen Barr merupakan sosok pekerja keras yang digandeng Man Li.

Stephen Barr yang tumbuh besar dari keluarga peritel mebel, memiliki kualitas manajerial yang mumpuni. Stephen-lah yang mendorong ekspansi Man Wah dan menciptakan produk-produk inovatif baru



Senin, 27 Oktober 2014

Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan


Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-M. Jusuf Kalla mengangkat wanita yang tak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Siapa dia?

Dia lahir di Pangandaran, Jawa Barat pada 15 Januari 1965. Susi merupakan pengusaha dan pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang merupakan perusahaan pengekspor hasil perikanan. Dia juga pemilik PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan maskapai penerbangan Susi Air.

Tercatat, Susi mengawali bisnis maskapai penerbangan pada 2004 setelah sebelumnya dia menjadi eksportir perikanan dengan memiliki 2 unit pesawat. Pada 2013 lalu, Susi Air telah berkembang dengan memiliki 49 unit pesawat yang menghubungkan ratusan rute penerbangan di kota-kota terpencil di Tanah Air.

Susi Air memiliki berbagai armada tipe pesawat seperti Cesna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter, dan Piaggio P180 Avanti. Tercatat, Susi Aie mempekerjakan 175 pilot asing dari 179 pilot.

Pada 2012 lalu, Susi Air meraup pendapatan mencapai Rp300 miliar dan telah melayani lebih dari 200 penerbangan perintis di Indonesia.

Susi yang lahir dan besar di Pangandaran ternyata hanya memiliki ijasah SMP. Dia memang sempat mengenyam pendidikan SMA di Yogyakarta, namun dikeluarkan pada saat kelas II SMA.

Pada 1983, Susi mengawali bisnis sebagai pengepul ikan di Pantai Pangandaran. Perkembangan bisnisnya terbilang pesat sehingga dia mendirikan pabrik pengolahan ikan pada 1996 dengan nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product.

Pesawat yang dibeli seharga Rp20 miliar tadinya hanya untuk mengangkut produk lobster dan ikan segar kemudian berubah setelah terjadi Tsunami Aceh pada 2004.

Cessna Susi tercatat menjadi pesawat pertama yang mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di wilayah terisolir. Akhirnya, istri dari mekanik pesawat asal Jerman Christian Von Stombeck itu mengubah arah bisnis dengan mendirikan maskapai penerbangan.

Berikut jabatan yang diduduki Susi Pudjiastuti:

1. CEO of PT. ASI Pudjiastuti (Marine).
2. CEO of PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air).
3. CEO of PT ASI Pudjiastuti Flying School (Susi Flying School).
4. CEO of PT ASI Geosurvey.
5. Board of Advisor of HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).
6. Independent Environmental Activist.
7. Ketua Komite Pembangunan UKM Kadin Indonesia

Berikut penghargaan yang diterima Susi Pudjiastuti:

1. People of The Year 2013; by MNC Group Newspaper (Koran Sindo), 2014.
2. Award For Innovative Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the Economy; APEC Women and the economy summit (WES),
3. U.S; by APEC, 2011.
4. Ganesha Widya Jasa Aditama Award; by Institut Teknologi Bandung, 2011.
5. The Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur Award; by Ministry of Cooperative & SMEs, 2010.
6. Sofyan Ilyas Award, by Ministry of Marine Affair and Fisheries, 2009.
7. The Best Indonesia Berprestasi Award; by PT. Excelcomindo Pratama, 2009.
8. Saudagar Tatar Sunda, by KADIN of West Java, 2008.
9. Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan, by Governor of West Java, 2008.
10. Award for Economics, Inspiring Woman Award for Economics; by Metro TV, 2006.
11. Pelopor Ekspor Ikan Laut; by Governor of West Java, 2005.
12. Young Entrepreneur of the Year; by Ernst and Young Indonesia, 2005.
13. Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise; by President of RI, 2005.
14. Pelopor Wisata; by West Java Department of Culture & Tourism, 2004.
15. Purwa Citra Priangan, Peningkatan Kehidupan Nelayan; by Pikiran Rakyat, 2004.

Sent from Samsung Mobile.

Minggu, 26 Oktober 2014

Gabriel Escarrer, CEO Melia Hotel


Gabriel Escarrer telah bergelut dengan dunia bisnis sejak usia belia. Sebagai generasi kedua dari sebuah keluarga pebisnis, Escarrer yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua dan Chief Executive Officer (CEO) Melia Hotels International itu mengaku banyak belajar dari anggota-anggota keluarganya yang sudah berkecimpung dalam bisnis hotel selama 60 tahun.

"Sejak kecil, saya kerap dengan ayah saya mengunjungi properti-properti hotel keluarga kami,"terang pria asal Italia itu,"Penting bagi kami untuk dekat dengan (staf -red) hotel dan operasional, dekat dengan klien, GM (general managers -red) dan dikelilingi oleh tim yang hebat."

Menjadi seorang entrepreneur dan sukses, tentu saja tidak boleh melupakan kontribusi semua anggota tim kita. Begitu juga yang dilakukan oleh Escarrer. Ia menandaskan ia bangga telah memiliki sebuah tim yang selama ini bekerja dengan kompak dan bagus. "Saya bangga dengan tim saya dan saya selalu ingin dikelilingi oleh orang-orang yang paling cerdas di industri ini, apa yang saya capai juga berkat mereka dan inilah mengapa saya bisa mendapatkan penghargaan Entrepreneur of the Year tahun 2013."

Mengelola sebuah perusahaan keluarga tentu bukan perkara mudah. Escarrer pun merasakan tantangan-tantangan dalam mengelola Melia Hotels International hingga sebesar sekarang ini. "Tantangan terbesar adalah bagaimana agar mitra (partner) tidak kecewa." Banyak tempat di dunia ini terutama di Asia Tenggara dan Amerika Selatan, kebanyakan pengembang real estat adalah perusahaan yang dimiliki oleh keluarga. Jadi Melia Hotels International sebagai  perusahaan manajemen hotel yang dimiliki oleh keluarga cukup unik.  Dan inilah yang menurut Escarrer menjadi kelebihan kompetitif (competitif advantage) bagi Melia Hotels International.

Bergerak dalam bidang industri perhotelan, Escarrer tidak bisa hanya berkutat dengan tujuan dan target jangka pendek.  Alumni Wharton School University of Pennsylvania ini membina hubungan jangka panjang dengan banyak pihak demi kelanggengan jaringan bisnis hotelnya. Saat pendahulunya mendirikan Melia Bali 30 tahun lalu, pihaknya juga bisa mewujudkannya dengan memperkokoh kerjasama dengan mitra bisnisnya yang juga sebuah keluarga dari kota Surabaya.  Ia menyebutkan semangat kekeluargaan yang hangat dalam membina kemitraan ini menjadi satu keunggulan Melia jiak dibandingkan perusahaan hotel sejenisnya di industri perhotelan yang meski sudah melantai di bursa saham tetapi tidak dimiliki dan dikelola keluarga. 


Lin Jianhua, mantan buruh pabrik yang jadi miliarder


China kembali menambah daftar panjang miliarder terkaya kelas dunia di negaranya. Lin Jianhua yang merupakan mantan pegawai pabrik pupuk milik negara, kini telah menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia.

Mengutip laman Forbes, Rabu (10/9/2014), pria berusia 52 tahun ini merupakan pimpinan Hangzhou First PV Material, perusahaan pemasok film dan bahan baku pembangkit listrik tenaga surya.

Akhir pekan lalu, nilai jual saham-saham perusahaan tersebut melonjak hingga 44 persen setelah perusahaan melepas sahamnya ke bursa saham China, Shanghai Stock Exchange. Hangzhou First berhasil mencetak pendapatan US$ 1,6 miliar yuan dari penjualan 60 juta lembar saham.

Nilai sahamnya terus meningkat hingga 10 persen pada perdagangan hari ini. Tak heran, Lin beserta sang istri, Zhang Hong yang memiliki 78 persen saham perusahaan berhasil menjadi miliarder.

Jumlah saham yang dimilikinya kini bernilai sekitar US$ 2,2 miliar.

Pada 1982-1994, Lin hanyalah seorang pegawai di sebuah pabrik pupuk milik negara Provinsi Zhejian. Setelah itu, Lin pindah dan bekerja di sebuah perusahaan plastik.

Usai bekerja di dua perusahaan tersebut, Lin memutuskan untuk bekerja di bisnis perfilman milik sang ayah. Lin lantas mendirikan Hangzhou First PV pada 2003 bersama sang istri dan saudara kandungnya, Lin Jianqing.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadi pasar pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. Salah satu perusahaan di industri tersebut, Hanergy juga kini dinahkodai seorang miliarder.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Tekuni Bisnis Video Games, Pria Ini Sukses Jadi Miliarder


Jon Yarbrough tahun ini sukses masuk ke dalam daftar 400 miliarder Amerika Serikat. Ia menduduki orang terkaya ke-368 dengan jumlah kekayaan bersih US$1,7 miliar.

Dikutip dari laman Forbes, Rabu 22 Oktober 2014, Yarbrough membuat kejutan ke pasa pada Juli lalu, saat dia mengumumkan penjualan Video Gaming Technologies (VGT), penyedia mesin games, ke Aristocrat, perusahaan games asal Australia seharga US$1,28 miliar tunai.

Tahun lalu, VGT memiliki pendapatan hingga US$236 juta dengan EBITDA US$157 juta. Tahun lalu, VGT mampu menginstal 20.200 mesin yang disewakan.

Sebelum menjadi pebisnis video games, Yarbrough adalah mahasiswa yang kuliah di Tennessee Tech.

"Saat menjadi mahasiswa saya hobi bermain sepakbola meja dan ikut dalam berbagai turnamen. Kemudian saya mendapatkan beasiswa di bidang itu di NASA di California, dan bekerja di Viking probe," ujarnya.

Selesai magang di California, dia kemudian membeli permainan sepakbola meja sendiri untuk berlatih. Dari situ, muncullah keinginannya untuk berwirausaha.

"Ketika kembali dari California, saya langsung berpikir untuk menjadi pengusaha, menekuni hobi yang saya sukai. Saat itu, saya memiliki keterbatasan tempat, saya harus berbagi tempat untuk meletakkan meja permainan sepakbola meja, dan lainnya," ungkapnya.

Setelah membeli beberapa meja permainan sepakbola meja, ia kemudian memilih masuk ke video games. Yarbrough lalu membeli Space Invaders.

Jiwa kewirausahaan Yarbrough pun terus berkembang. Untuk membiayai operasi games yang mulai berkembang, ia menjual video games rancangannya dari rumah ke rumah.

Ia lalu mengikuti konvensi video games. Dari situ, Yarbrough baru mengetahui bahwa dia bisa mengimpor konten dari Jepang. Hal itu, bisa menyelamatkan anggaran yang akan dia keluarkan.

Tak lama kemudian, dia memiliki 650 kerja sama dengan asosiasi, dan memiliki misi untuk membuat mesin video games sendiri.

Ia pun lalu memulai ide membuat mesin video games dari garasi rumahnya. Dia mulai merekrut orang-orang yang bisa diajak bekerja sama. Yarbrough juga menempatkan programmer yang khusus untuk merawat perangkat lunaknya.

Setelah dia berhasil membuat prototipe, dia meletakkan dengan menggunakan truk dan membawanya ke California, di mana dia kemudian bertemu dengan tiga distributor video games besar di negara itu.

"Kami hanya fokus pada visi dan misi yang kami tetapkan, yakni terus tumbuh. Kemudian Aristocrat (perusahaan video games asal Australia) tertarik dengan prototipe kami," tuturnya.

Aristocrat memberikan penawaran dengan membeli prototipe buatan Yarbrough seharga US$1,28 miliar.

"Kami menerima tawaran itu, Aristocrat adalah perusahaan besar dan saya siap menyerahkan bayi buatan saya dan tim saya ke mereka," ungkapnya.

Dalam kesepakatannya, Yarbrough akan menyerahkan sepenuhnya VGT ke Aristocrat pada semester pertama 2015.

Selanjutnya, apa yang akan dia lakukan? Yarbrough mengaku, dia akan mengejar impiannya yang lain, yakni menjadi penerbang.

Saat ini dia sedang mengambil les setiap akhir pekan untuk mendapatkan lisensi izin terbang. Ia pun kini telah membeli sebuah jet mewah