Jumat, 20 Maret 2020

Renungan di saat Wabah Corona


Vatikan sepi.
Yerusalem sunyi.
Tembok Ratapan dipagari.
Gereja ditutup.
Jemaat dirumahkan.
Misa batal.
Jalan Salib distop.
Paskah tak pasti.
Litani doa berubah.
Air suci menguap.

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan bahwa Ritual itu rapuh!

Ketika Corona datang,
Engkau dipaksa mencari Tuhan.
Bukan di Basilika Santo Petrus.
Bukan di dalam gereja.
Bukan di mimbar kotbah.
Bukan dalam baptis.
Bukan pada panggilan lonceng.
Bukan dalam misa Minggu.
Bukan dengan jabat tangan.

Melainkan,
Pada kesendirianmu.
Pada mulutmu yang terkunci.
Pada hakikat yang senyap.
Pada keheningan yang bermakna.

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian.
Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.
Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa.
*Kecuali Tuhan itu sendiri!*

datangi, temui dlm doa dan kenali DIA melalui perkataan-Nya di Saat yg Teduh..

_Pdt. Em. Ronnie Setiamukti_

Corona Virus berbahaya kah?


Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan timbulnya infeksi pernafasan Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19 memang cukup unik untuk diamati pergerakannya.

Dari siapa saja yang diserangnya, level usia, bahkan dapat pula diperhatikan bagaimana virus berbasis flu tersebut senang bersemayam di manusia dengan penyakit akut bawaan tertentu, atau dia justru takut dan tidak kuat berada di dalam tubuh manusia yang sudah terjangkit virus yang jauh lebih besar dan mematikan.

Ketika seseorang masih sehat, tapi Coronavirus sudah ada di dalam tubuhnya, memang belum terjadi apa-apa. Tapi ketika ia tiba-tiba 'down', kondisi tubuh menurun, virus Corona akan langsung menyerang dengan sangat kejam.

Berdasarkan data Chinese Center for Disease Control and Prevention (CDC), bisa ditarik beberapa fakta menarik betapa 'kerdil' COVID-19 itu sebenarnya. Sehingga tidak perlu panik apalagi takut, cukup waspada saja, karena ia hanya benalu yang bisa disingkirkan.

1. Virus kanker lebih kuat dari Corona.

Menurut data yang berhasil didapatkan Pusat Pengendalian dan Penanganan Wabah di China, hingga 11 Februari, pasien positif Corona dengan penyakit bawaan kanker ada 107 kasus dengan korban meninggasl dunia 6 (enam) orang. Tingkat kematiannya sangat rendah, atau hanya 5,6% pada level dan jenisnya.

2. Corona tidak kuat menyerang manusia usia muda berimunitas.

Rekomendasi World Health Organization (WHO), menjaga imun tubuh menjadi salah satu cara menghindari masuknya virus Corona. Hal ini terjawab dengan data hasil penelitian CDC bahwa manusia dengan rentang umur 0-39 tahun kuat terhadap COVID-19.

Positif Corona bagi manusia 10-19 tahun, 549 kasus dengan satu kematian (fatality rate 0,2%).

Positif Corona bagi manusia 20-29 tahun, 3.619 dengan tujuh kematian (fatality rate 0,2%).

Positif Corona bagi manusia 30-39 tahun, 7.600 kasus dengan 18 kematian (fatality rate 0,2%).

Dalam rentang usia muda dan produktif, sistem kekebalan tubuh manusia memang masih tertata dengan baik. Belum muncul penyakit-penyakit bawaan atau penyakit-penyakit yang terpicu akibat makanan maupun minuman yang selama ini dikonsumsi dengan sangat masif. Artinya, imunitas menjadi musuh menakutkan bagi virus Corona.

3. COVID-19 hanya perkasa menyerang usia 40 tahun keatas.

Ketika usia manusia masuk angka 40 tahun, ini sebenarnya sudah warning atau peringatan baginya untuk memperbaiki semua 'kenakalan hidup' yang selama ini dilakukan. Tidak memiliki pola makan teratur, menyantap semua menu makanan maupun minuman tanpa berpikir dua kali, menganggap remeh obat-obatan herbal penambah stamina ketika masih muda, hingga tidak suka olahraga.

Usia 40 tahun keatas (40 sampai 80+), fungsi organ tubuh maupun imun mulai berkurang. Di sinilah celah Corona masuk, berdiam diri dalam tubuh, lantas menunggu waktu yang tepat melancarkan serangan mematikan. Hal ini dinilai bertalian erat dalam hukum sebab-akibat melalui data hasil penelitian CDC bahwa manusia dengan rentang umur 40-80+ sangat rentan diserang virus Corona.

Positif Corona bagi manusia 40-49 tahun, 8.571 kasus dengan 38 kematian (fatality rate 0,4%).

Positif Corona bagi manusia 50-59 tahun, 10.008 kasus dengan 130 kematian (fatality rate 1,3%).

Positif Corona bagi manusia 60-69 tahun, 8.583 kasus dengan 309 kematian (fatality rate 3,6%).

Positif Corona bagi manusia 70-79 tahun, 3.918 kasus dengan 312 kematian (fatality rate 8.0%).

Positif Corona bagi manusia 80 tahun keatas, 1.408 kasus dengan 208 kematian (fatality rate 14,8%).

4. Corona menempel pada manusia berpenyakit bawaan jantung, hipertensi dan diabetes.

Terjawab melalui data CDC, bahwa pasien positif Corona dengan penyakit bawaan yang berkaitan dengan gangguan pada fungsi jantung, adalah paling beresiko. Salah satu penyakit bawaan tersebut adalah kardiovaskular atau cardiovascular disease (CVD), yang merupakan penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah, contohnya gangguan jantung iskemik, stroke, dan PAD yang melibatkan atherosclerosis.

Selain itu, mereka yang punya penyakit bawaan seperti hipertensi dan diabetes juga tak kalah 'seksi' bagi Corona untuk menempel kepada manusia sekaligus merusaknya.

Positif Corona dengan penyakit bawaan hipertensi, 2.683 kasus dengan 161 kematian (fatality rate 6,0%).

Positif Corona dengan penyakit bawaan diabetes, 1.102 kasus dengan 80 kematian (fatality rate 7,3%).

Positif Corona dengan penyakit bawaan kardiovaskular, 873 kasus dengan 92 kematian (fatality rate 10,5%).

Positif Corona dengan penyakit bawaan paru-paru, asma, dan alergi, 511 kasus dengan 32 kematian (fatality rate 6,3%).

Dengan semua penyakit bawaan seperti di atas, sangat mudah COVID-19 menjadi penyebab kematian. Karena Corona ini menyerang dengan double-kill, yakni flu dibarengi batuk tak henti dengan cairan yang terus menerus meleleh hingga mengganggu fungsi pernafasan, terutama jantung hingga pembuluh darah. Dengan batuk tak henti, tekanan darah akan naik dan sangat berbahaya bagi manusia dengan penyakit bawaan hipertensi.

Manusia dengan penyakit bawaan paru-paru, asma, dan alergi, juga berada dalam posisi sulut dan terancam meninggal dunia jika diserang Coronavirus dengan gejala-gejala sangat masif. Sesak nafas bagi penderita asma yang terutama, itulah yang 'membantu' keberhasilan COVID-19 untuk menjadi penyebab kematian 'menakutkan'.

Sementara jika bicara diabetes, penyakit bawaan ini berhubungan dengan kadar glukosa dalam darah, dengan gejala komplikasi merusak pembuluh darah. Penderita diabetes dua kali lebih berisiko untuk mendapat penyakit kardiovaskular (gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah). Dan sekitar 75 persen kematian akibat diabetes disebabkan oleh penyakit jantung korner. Sedangkan penyakit pembuluh besar lainnya adalah stroke, serta penyakit pembuluh darah tepi (peripheral vascular disease).

Nah, pasien positif Corona dengan penyakit bawaan diabetes juga tak kalah menderita. Dia akan berujung kematian dengan proses berkala, namun bisa juga langsung 'menghadap Tuhan' apabila virus Corona berhasil memicu komplikasi dengan pembuluh darah dan fungsi jantung, yang sebenarnya sudah satu paket buat penderita diabetes. Dengan kehadiran Corona, 'paket' tersebut dibuka untuk membawa manusia langsung pada kematian.

5. Manusia waspada imunitas bisa membunuh Corona.

Data memang menakutkan dan kadang bisa masuk akal maupun tidak. Tergantung cara pembaca menginterpretasikannya saja. Tapi satu hal yang harus diingat dan menjadi utama adalah, virus Corona tidak kuat menyerang usia muda produktif karena mereka masih memiliki imunitas kuat. Apakah usia yang sudah tidak muda lagi bisa memiliki imun kuat?

Jawabannya tentu bisa. Karena imun itu berkaitan dengan kebugaran tubuh. Jika badan bugar, sehat, sistem organ dalam bekerja dengan baik, pasti penyakit tidak mudah hinggap termasuk virus 'benalu' seperti Corona.

Ramuan herbal sederhana sangat disarankan. Jahe, temulawak, kunyit, ketiganya disatukan. Kupas dan cuci bersih terlebih dahulu, kemudian masing-masing dipotong maksimal jadi 8 (delapan) bagian, lantas rebus dengan air. Hasil air rebusannya disaring, kemudian minum setiap pagi. Lakukan itu setiap hari, dan imunitas tubuh atau kebugaran maupun stamina akan terjaga.

Tentunya nanti diikuti pola hidup teratur, seperti memperhatikan kebersihan tubuh, terutama tangan. Rajin mencuci tangan dengan sabun lalu bilas di bawah air yang mengalir selama 20 detik. Ingat, semisal ingin melakukan sesuatu Anda cuci tangan, sesudahnya ditutup dengan cuci tangan pula.

Kemudian memperhatikan pola makan teratur agar tidak terjadi gangguan lambung. Menu makanan juga dijaga, junk food dikurangi, perbanyak makanan sehat berserat dengan kandungan vitamin A dan C secukupnya.

Perhatikan juga kebersihan makanan, tempat Anda makan, harus detil. Ini bukan mempersulit hidup, tapi inilah yang seharusnya dilakukan. Terakhir adalah, hentikan rokok, minuman beralkohol, dan sedapat mungkin kurangi tidur larut malam.

Jika hidup teratur, bukan cuma virus Corona yang bisa ditangkal, tapi hampir seluruh wabah yang berkaitan dengan imunitas bakal teratasi. Ingat, mati memang sekali dan merupakan kehendak Tuhan. Tapi manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi, yang bisa menjaga sekaligus menghancurkan bumi itu sendiri, sehingga sangat sempurna lengkap dengan akal budi. Pergunakanlah akal budi itu untuk mempertahankan hidup agar tidak mati konyol.

Manusia menggunakan akal budinya untuk hidup teratur dan bersih, menyerahkan sisa hidup kepada Tuhan dengan rajin ibadah, itu membunuh Corona gaeeesss....Yuk dilakukan sama-sama. 

Corona Virus vs Iman


Bagus sekali bagi yang merasa punya iman yang teguh sehingga tidak takut pada corona. Dan tidak peduli imbauan pemerintah n dokter.
========================
*IMAN DAN CORONAVIRUS*
========================
Misalkan nih Anda orang yang imannya kuaaat sekali. Bisa mindahin gunung dan lebih besar dari biji sesawi. Anda punya doa khusus penolak bala sakit penyakit (aka Mazmur 91). Jadi waktu terpapar virus apapun, virusnya tidak mempan masuk ke tubuh kamu. Oleh sebab itu, kamu kebal coronavirus, Puji Tuhan.

Tapi kemudian  coronavirus nempel di tangan dan baju kamu. Kemudian kamu jabat tangan orang lain yang imannya kurang besar dan tidak pernah berdoa. Akhirnya orang itu terinfeksilah dengan virus.

Temanmu itu masih muda dan kuat seperti kamu, jadi walaupun sakit cepat sembuhnya. Tapi temanmu masih tinggal serumah dengan papa mamanya yang sudah tua. Mamanya masih kuat jagain cucu meskipun punya riwayat asma kronik. Papanya juga masih punya semangat hidup yang tinggi meskipun jantungnya sudah dipasangi ring. Kedua orangtua yang tidak pernah kemana-mana itu akhirnya terjangkit juga virus.

Beberapa hari kemudian mereka pun jatuh sakit. Mereka kesulitan bernafas dan karena daya tahan tubuh melemah, terjadi sepsis (minjem istilah Dr. Terawan). Virus itu akhirnya mematikan mereka.

Sementara itu kamu melanjutkan hidup seperti biasa. Bertemu banyak orang kamu anggap pelayanan. Pulang ke rumah sudah malam, kamu  mandi dan tidak lupa sebelum tidur berdoa. Di doa kamu sebut-sebut lagi Maz 91, kamu juga berterima kasih pada Tuhan karena meski dunia heboh dan orang-orang panik kamu tetap tenang. Kamu memuji Tuhan karena kuasanya meluputkankan kamu dari penyakit. Tak lupa kamu pasang status di FB untuk mencela gereja online sebagai sesuatu yang sesat dan hanya untuk orang yang tidak beriman.

Pagi harinya Mbak di rumah ambil baju kotor yang kamu pakai kemarin dan dicucinya. Sebelum dicuci baju itu diraba-raba dulu untuk mencari jangan-jangan  ada uang  yang terselip. Si Mbak kebetulan punya diabetes dan darah tinggi yang tidak pernah diketahuinya. Uang terselip yang dicarinya ternyata gak ada karena kamu memang bokek, tapi virus yang tadinya nempel di baju itu pindah ke badan dia. Beberapa hari kemudian si Mbak jatuh sakit. Ia pun ngalamin komplikasi. Waktu ke rumah sakit, ia ditolak karena rumah sakit penuh. Ternyata BPJS si Mbak gak punya, dan kamu pun tidak pernah daftarin dia.

Kamu yang beriman terus optimis dan berkeliaran seakan-akan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu di pihak kamu. Tanpa sadar kamu telah menyebabkan kecelakaan bagi orang lain.

Mazmur 91:3 , berkata "Sungguh dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk..." Sayang, tidak lebih jauh menyebut tentang Mbak kamu yang punya kepercayaan lain, dan orangtua teman kamu yang belum percaya Tuhan.

Firman Tuhan bukanlah mantra yang bisa kita gunakan untuk menjustifikasi sikap ignorant kita. Firman Tuhan itu ada konteksnya dan tidak berlaku absolut. Hanya Tuhan yang tahu mengapa seorang sakit dan yang lain tidak, padahal doanya sama.

Mari anggap  kejadian luar biasa ini juga terjadi atas seijin Tuhan. Dari setiap masalah, kesulitan, tragedi, ada  rencana Tuhan dibalikknya. Tujuannya supaya kita lebih dewasa. Ujian akan membuat kita semakin kuat dan rendah hati.

Banyak sekali yang bisa kita pelajari lewat musibah global ini:
1. Kita berharap pada Tuhan dan menggantungkan hidup kita padaNya.
2. Hidup di dunia ini demikian rapuh. Hiduplah dengan baik dan jadi berkat.
3. Kita belajar solidaritas dan compassion. Kita bukan hanya orang beriman tapi kita juga adalah warga negara Indonesia. Itu adalah anugerah.
4. Kita belajar skills untuk bertahan hidup. Belajar masak untuk orang serumah walau bahan terbatas. Kreatifias muncul ketika sumber daya terbatas.
5. Kita akhirnya dekat dengan anggota keluarga lain yang jarang ketemu. Keluarin lagi tuh ular tangga dan monopoli.
6. Kita yang gaptek mau gak mau belajar untuk bisa hidup online. Puji Tuhan, inilah keahlian 21th Century yang harus kita kuasai, yang kalau tidak terpaksa kita gak mau belajar.
7. Kita belatih sabar dan self-regulation. Tadinya gak bisa diam, apa-apa maunya instan, eh sekarang harus nahan diri.
8. Dulunya gak ngerti tapi sekarang kita belajar tentang kebersihan dan menjaga kesehatan untuk menangkal penyakit.
9. Ilmu pengetahun kita tentang macam-macam virus, penyakit dan penularannya lebih luas lagi. Suatu saat nanti akan berguna.
10. ??? (Your own case)

Mari praktekkan iman kita bersama-sama dengan orang yang sepaham, dengan rekan seiman dan keluarga. Tapi ketika kita berada di tempat umum, jadikan iman kita antara kita dan Tuhan saja. Di public place pikirkan keselamatan orang lain. Jangan berhenti berdoa tapi jauhi dulu orang banyak.