Jumat, 31 Oktober 2014

Kisah sukses Man Li

KESUKSESAN Wong Man Li dalam membangun bisnis perabotan ditunjang oleh kejelian sang miliarder melihat potensi pasar. Atas dasar itu, Man Li membidik China menjadi salah satu negara tujuan pasar produk mebel.

Man Li menilai, ada tiga faktor yang membuat Tiongkok menjadi pasar yang potensial. Yaitu pertumbuhan pesat penjualan apartemen, tingkat urbanisasi, serta peningkatan konsumsi masyarakat. Nah, tiga faktor itu merupakan indikator penting bagi pengembangan bisnisnya.

Mebel tradisional China memang umumnya terbuat dari kayu. Namun, konsep penjualan kursi yang lebih nyaman, seperti sofa, oleh Man Li justru mendapat respon positif dari konsumen di negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia itu. Patut dicatat, keberhasilan Man Wah Holdings, perusahaan furnitur Man Li, berbisnis adalah membuat produk yang berkualitas.

Misalnya saja soal pemilihan busa. Konsumen dibuat takjub dengan hasil pengetesan produk busa Man Wah Holdings yang bisa bertahan hingga 72 tahun.

Memiliki produk yang berkualitas tentu saja belum cukup untuk membawa Man Wah Holdings sukses seperti saat ini. Konsep pemasaran menjadi bagian penting lain yang tidak bisa diabaikan. Man Li mengembangkan konsep waralaba untuk memperluas pemasaran produk.

Saat ini, Man Wah Holdings telah memiliki sekitar 1.000 gerai furnitur dengan konsep waralaba. Hingga tahun 2015 nanti, Man Li menargetkan membuka 500 gerai lagi, yang sebagian besar berada di wilayah China.

Untuk mendukung ekspansi usahanya, Man Li mendirikan pabrik keempat di Tianjin, China. Pabrik tersebut berdiri pada pertengahan tahun 2014.

Bagi Man Li, produksi dan distribusi haruslah berjalan beriringan untuk menekan ongkos pengiriman. Selain itu, memastikan dan menjaga agar persediaan produk di setiap gerai mencukupi. Tak lupa, Man Li membekali para mitra waralaba dengan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan omzet penjualan.

Berkat berbagai strategi itu, bisnis Man Li mampu bertahan saat terjadi krisis ekonomi dunia. Semua konsep, mulai dari kualitas produk hingga teknik pemasaran oleh mitra waralaba, menjadi bagian penting dari bisnis furnitur Man Wah Holdings.

"Kami berharap dapat memperoleh pertumbuhan dua digit setiap tahun. Walaupun hanya menggarap 1% dari pasar mebel China yang sangat besar, kami sudah sangat berkembang," ujar Man Li, seperti diwartakan Forbes.

Pengalaman selama 21 tahun dalam bisnis furnitur membuat Man Li sudah cukup paham peta persaingan pasar. Selain di China, Man Wah Holdings juga menyasar konsumen lain dengan menggandeng Harvey Norman, peritel terbesar di Australia dan DFS untuk pasar Eropa. Tahun ini, Man Wah Holdings sedang melakukan terobosan baru dengan Costco di  Amerika Serikat.

Asal tahu saja, keluarga juga berperan dalam bisnis Man Wah Holdings. Selain didampingi oleh sang istri, dalam menjalankan bisnis Man Li juga dibantu putrinya yang bernama Zoe. Lulusan University of Wisconsin ini menangani pemasaran dan perencanaan strategi periklanan Man Wah Holdings.

Man Li juga mempercayakan pengembangan Man Wah Holdings kepada kalangan profesional lain. Alan Marnie dan Stephen Barr merupakan sosok pekerja keras yang digandeng Man Li.

Stephen Barr yang tumbuh besar dari keluarga peritel mebel, memiliki kualitas manajerial yang mumpuni. Stephen-lah yang mendorong ekspansi Man Wah dan menciptakan produk-produk inovatif baru



Senin, 27 Oktober 2014

Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan


Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-M. Jusuf Kalla mengangkat wanita yang tak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Siapa dia?

Dia lahir di Pangandaran, Jawa Barat pada 15 Januari 1965. Susi merupakan pengusaha dan pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang merupakan perusahaan pengekspor hasil perikanan. Dia juga pemilik PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan maskapai penerbangan Susi Air.

Tercatat, Susi mengawali bisnis maskapai penerbangan pada 2004 setelah sebelumnya dia menjadi eksportir perikanan dengan memiliki 2 unit pesawat. Pada 2013 lalu, Susi Air telah berkembang dengan memiliki 49 unit pesawat yang menghubungkan ratusan rute penerbangan di kota-kota terpencil di Tanah Air.

Susi Air memiliki berbagai armada tipe pesawat seperti Cesna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter, dan Piaggio P180 Avanti. Tercatat, Susi Aie mempekerjakan 175 pilot asing dari 179 pilot.

Pada 2012 lalu, Susi Air meraup pendapatan mencapai Rp300 miliar dan telah melayani lebih dari 200 penerbangan perintis di Indonesia.

Susi yang lahir dan besar di Pangandaran ternyata hanya memiliki ijasah SMP. Dia memang sempat mengenyam pendidikan SMA di Yogyakarta, namun dikeluarkan pada saat kelas II SMA.

Pada 1983, Susi mengawali bisnis sebagai pengepul ikan di Pantai Pangandaran. Perkembangan bisnisnya terbilang pesat sehingga dia mendirikan pabrik pengolahan ikan pada 1996 dengan nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product.

Pesawat yang dibeli seharga Rp20 miliar tadinya hanya untuk mengangkut produk lobster dan ikan segar kemudian berubah setelah terjadi Tsunami Aceh pada 2004.

Cessna Susi tercatat menjadi pesawat pertama yang mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di wilayah terisolir. Akhirnya, istri dari mekanik pesawat asal Jerman Christian Von Stombeck itu mengubah arah bisnis dengan mendirikan maskapai penerbangan.

Berikut jabatan yang diduduki Susi Pudjiastuti:

1. CEO of PT. ASI Pudjiastuti (Marine).
2. CEO of PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air).
3. CEO of PT ASI Pudjiastuti Flying School (Susi Flying School).
4. CEO of PT ASI Geosurvey.
5. Board of Advisor of HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).
6. Independent Environmental Activist.
7. Ketua Komite Pembangunan UKM Kadin Indonesia

Berikut penghargaan yang diterima Susi Pudjiastuti:

1. People of The Year 2013; by MNC Group Newspaper (Koran Sindo), 2014.
2. Award For Innovative Achievements, Extraordinary Leadership and Significant Contributions to the Economy; APEC Women and the economy summit (WES),
3. U.S; by APEC, 2011.
4. Ganesha Widya Jasa Aditama Award; by Institut Teknologi Bandung, 2011.
5. The Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur Award; by Ministry of Cooperative & SMEs, 2010.
6. Sofyan Ilyas Award, by Ministry of Marine Affair and Fisheries, 2009.
7. The Best Indonesia Berprestasi Award; by PT. Excelcomindo Pratama, 2009.
8. Saudagar Tatar Sunda, by KADIN of West Java, 2008.
9. Tokoh Wanita Inspiratif Penggerak Pembangunan, by Governor of West Java, 2008.
10. Award for Economics, Inspiring Woman Award for Economics; by Metro TV, 2006.
11. Pelopor Ekspor Ikan Laut; by Governor of West Java, 2005.
12. Young Entrepreneur of the Year; by Ernst and Young Indonesia, 2005.
13. Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise; by President of RI, 2005.
14. Pelopor Wisata; by West Java Department of Culture & Tourism, 2004.
15. Purwa Citra Priangan, Peningkatan Kehidupan Nelayan; by Pikiran Rakyat, 2004.

 

Minggu, 26 Oktober 2014

Gabriel Escarrer, CEO Melia Hotel


Gabriel Escarrer telah bergelut dengan dunia bisnis sejak usia belia. Sebagai generasi kedua dari sebuah keluarga pebisnis, Escarrer yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua dan Chief Executive Officer (CEO) Melia Hotels International itu mengaku banyak belajar dari anggota-anggota keluarganya yang sudah berkecimpung dalam bisnis hotel selama 60 tahun.

"Sejak kecil, saya kerap dengan ayah saya mengunjungi properti-properti hotel keluarga kami,"terang pria asal Italia itu,"Penting bagi kami untuk dekat dengan (staf -red) hotel dan operasional, dekat dengan klien, GM (general managers -red) dan dikelilingi oleh tim yang hebat."

Menjadi seorang entrepreneur dan sukses, tentu saja tidak boleh melupakan kontribusi semua anggota tim kita. Begitu juga yang dilakukan oleh Escarrer. Ia menandaskan ia bangga telah memiliki sebuah tim yang selama ini bekerja dengan kompak dan bagus. "Saya bangga dengan tim saya dan saya selalu ingin dikelilingi oleh orang-orang yang paling cerdas di industri ini, apa yang saya capai juga berkat mereka dan inilah mengapa saya bisa mendapatkan penghargaan Entrepreneur of the Year tahun 2013."

Mengelola sebuah perusahaan keluarga tentu bukan perkara mudah. Escarrer pun merasakan tantangan-tantangan dalam mengelola Melia Hotels International hingga sebesar sekarang ini. "Tantangan terbesar adalah bagaimana agar mitra (partner) tidak kecewa." Banyak tempat di dunia ini terutama di Asia Tenggara dan Amerika Selatan, kebanyakan pengembang real estat adalah perusahaan yang dimiliki oleh keluarga. Jadi Melia Hotels International sebagai  perusahaan manajemen hotel yang dimiliki oleh keluarga cukup unik.  Dan inilah yang menurut Escarrer menjadi kelebihan kompetitif (competitif advantage) bagi Melia Hotels International.

Bergerak dalam bidang industri perhotelan, Escarrer tidak bisa hanya berkutat dengan tujuan dan target jangka pendek.  Alumni Wharton School University of Pennsylvania ini membina hubungan jangka panjang dengan banyak pihak demi kelanggengan jaringan bisnis hotelnya. Saat pendahulunya mendirikan Melia Bali 30 tahun lalu, pihaknya juga bisa mewujudkannya dengan memperkokoh kerjasama dengan mitra bisnisnya yang juga sebuah keluarga dari kota Surabaya.  Ia menyebutkan semangat kekeluargaan yang hangat dalam membina kemitraan ini menjadi satu keunggulan Melia jiak dibandingkan perusahaan hotel sejenisnya di industri perhotelan yang meski sudah melantai di bursa saham tetapi tidak dimiliki dan dikelola keluarga. 


Lin Jianhua, mantan buruh pabrik yang jadi miliarder


China kembali menambah daftar panjang miliarder terkaya kelas dunia di negaranya. Lin Jianhua yang merupakan mantan pegawai pabrik pupuk milik negara, kini telah menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia.

Pria berusia 52 tahun ini merupakan pimpinan Hangzhou First PV Material, perusahaan pemasok film dan bahan baku pembangkit listrik tenaga surya.

Akhir pekan lalu, nilai jual saham-saham perusahaan tersebut melonjak hingga 44 persen setelah perusahaan melepas sahamnya ke bursa saham China, Shanghai Stock Exchange. Hangzhou First berhasil mencetak pendapatan US$ 1,6 miliar yuan dari penjualan 60 juta lembar saham.

Nilai sahamnya terus meningkat hingga 10 persen pada perdagangan hari ini. Tak heran, Lin beserta sang istri, Zhang Hong yang memiliki 78 persen saham perusahaan berhasil menjadi miliarder.

Jumlah saham yang dimilikinya kini bernilai sekitar US$ 2,2 miliar.

Pada 1982-1994, Lin hanyalah seorang pegawai di sebuah pabrik pupuk milik negara Provinsi Zhejian. Setelah itu, Lin pindah dan bekerja di sebuah perusahaan plastik.

Usai bekerja di dua perusahaan tersebut, Lin memutuskan untuk bekerja di bisnis perfilman milik sang ayah. Lin lantas mendirikan Hangzhou First PV pada 2003 bersama sang istri dan saudara kandungnya, Lin Jianqing.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadi pasar pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. Salah satu perusahaan di industri tersebut, Hanergy juga kini dinahkodai seorang miliarder.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Tekuni Bisnis Video Games, Pria Ini Sukses Jadi Miliarder


Jon Yarbrough tahun ini sukses masuk ke dalam daftar 400 miliarder Amerika Serikat. Ia menduduki orang terkaya ke-368 dengan jumlah kekayaan bersih US$1,7 miliar.

Yarbrough membuat kejutan ke pasa pada Juli lalu, saat dia mengumumkan penjualan Video Gaming Technologies (VGT), penyedia mesin games, ke Aristocrat, perusahaan games asal Australia seharga US$1,28 miliar tunai.

Tahun lalu, VGT memiliki pendapatan hingga US$236 juta dengan EBITDA US$157 juta. Tahun lalu, VGT mampu menginstal 20.200 mesin yang disewakan.

Sebelum menjadi pebisnis video games, Yarbrough adalah mahasiswa yang kuliah di Tennessee Tech.

"Saat menjadi mahasiswa saya hobi bermain sepakbola meja dan ikut dalam berbagai turnamen. Kemudian saya mendapatkan beasiswa di bidang itu di NASA di California, dan bekerja di Viking probe," ujarnya.

Selesai magang di California, dia kemudian membeli permainan sepakbola meja sendiri untuk berlatih. Dari situ, muncullah keinginannya untuk berwirausaha.

"Ketika kembali dari California, saya langsung berpikir untuk menjadi pengusaha, menekuni hobi yang saya sukai. Saat itu, saya memiliki keterbatasan tempat, saya harus berbagi tempat untuk meletakkan meja permainan sepakbola meja, dan lainnya," ungkapnya.

Setelah membeli beberapa meja permainan sepakbola meja, ia kemudian memilih masuk ke video games. Yarbrough lalu membeli Space Invaders.

Jiwa kewirausahaan Yarbrough pun terus berkembang. Untuk membiayai operasi games yang mulai berkembang, ia menjual video games rancangannya dari rumah ke rumah.

Ia lalu mengikuti konvensi video games. Dari situ, Yarbrough baru mengetahui bahwa dia bisa mengimpor konten dari Jepang. Hal itu, bisa menyelamatkan anggaran yang akan dia keluarkan.

Tak lama kemudian, dia memiliki 650 kerja sama dengan asosiasi, dan memiliki misi untuk membuat mesin video games sendiri.

Ia pun lalu memulai ide membuat mesin video games dari garasi rumahnya. Dia mulai merekrut orang-orang yang bisa diajak bekerja sama. Yarbrough juga menempatkan programmer yang khusus untuk merawat perangkat lunaknya.

Setelah dia berhasil membuat prototipe, dia meletakkan dengan menggunakan truk dan membawanya ke California, di mana dia kemudian bertemu dengan tiga distributor video games besar di negara itu.

"Kami hanya fokus pada visi dan misi yang kami tetapkan, yakni terus tumbuh. Kemudian Aristocrat (perusahaan video games asal Australia) tertarik dengan prototipe kami," tuturnya.

Aristocrat memberikan penawaran dengan membeli prototipe buatan Yarbrough seharga US$1,28 miliar.

"Kami menerima tawaran itu, Aristocrat adalah perusahaan besar dan saya siap menyerahkan bayi buatan saya dan tim saya ke mereka," ungkapnya.

Dalam kesepakatannya, Yarbrough akan menyerahkan sepenuhnya VGT ke Aristocrat pada semester pertama 2015.

Selanjutnya, apa yang akan dia lakukan? Yarbrough mengaku, dia akan mengejar impiannya yang lain, yakni menjadi penerbang.

Saat ini dia sedang mengambil les setiap akhir pekan untuk mendapatkan lisensi izin terbang. Ia pun kini telah membeli sebuah jet mewah


Jumat, 24 Oktober 2014

Sara Blakely; Miliarder Muda



Sara Blakely dinobatkan menjadi miliarder termuda berkat kesuksesannya membangun bisnisnya sendiri pada tahun 2000. Seperti beberapa entrepreneur lain, Blakely juga mengalami masa-masa sulit di awal membangun usahanya. Tetapi, semangatnya menjadi pengusaha sukses, membuatnya selalu bangkit saat terjatuh.

Blakely menceritakan kisah suksesnya. Pada masa-masa awal mendirikan Spanx, sebuah perusahaan pakaian dalam miliknya, keinginannya membuat hak paten atas produk ciptaannya terhalang, karena dia tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara.

Tak patah arang, dia pun mempelajari cara memperoleh hak paten sendiri. Ia menghabiskan malam di perpustakaan Georgia Tech untuk mencari referensi segala hal yang berhubungan dengan pembuatan hak paten sebuah produk. Dia lalu menulis hak paten produknya sendiri, dengan buku teks dari Barnes dan Noble.

Untuk memproduksi pakaian dalam kreasinya, dia juga harus menempuh perjalanan hingga 5 jam ke North Carolina. Tanpa malu ia mendatangi satu per satu pabrik kaos kaki yang bersedia bekerja sama memproduksi produknya.

Kamar apartemennya di Atlanta, ia gunakan sepenuhnya sebagai kantor. Semua tempat, kamar mandi hingga ruang tamu, penuh dengan produk yang sudah ia buat.

Kini, ia mengenang manis masa-masa sulit saat awal membangun bisnis. Usaha kerasnya terbayar. Forbes pada 2012 menobatkan Blakely menjadi miliarder termuda di dunia yang sukses membangun bisnisnya dari awal sendiri. Dia juga pernah mendarat di sampul Forbes pada 2012.

Blakely hingga sekarang tetap memiliki 100 persen saham Spanx, brand yang memiliki nilai sebesar US$1 miliar. Dia tak pernah secara resmi memasang iklan. Popularitas dan keberhasilan produk buatannya sepenuhnya dari mulut ke mulut.

Minggu, 05 Oktober 2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan


John Coudwell adalah salah satu miliarder di Inggris dengan jumlah kekayaan mencapai 2 miliar euro. Tak hanya itu, ia juga memiliki dua rumah mewah yang sangat luas, kapal pesiar mewah, helikopter, dan koleksi mobil-mobil mewah.

Caudwell dikenal sebagai raja produsen ponsel. Dia pendiri Phones 4U. Saat berjaya, dia sangat menikmati kemewahan dan kelimpahan harta yang makin bertambah. Tapi demi itu, dia juga harus bekerja keras.

"Hal favorit yang sering saya lakukan adalah datang ke London dari rumah saya di Staffordshire dengan helikopter pribadi," ujarnya.

Rumah mewahnya di Staffordshire ditaksir memiliki harga 10 juta euro, sementara rumah yang di London seharga 85 juta euro.

Gaya hidup mewah dan berkelimpahan harta mungkin membuat sebagian orang merasa iri dan ingin sepertinya. Tetapi, ada duka di balik pintu rumahnya yang berlapis emas.

Baru-baru ini terungkap, bahwa anak tertua Caudwell dari mantan istrinya Kathryn McFarlane, Rufus, yang baru berusia 19 tahun menderita agorafobia, ketakutan saat berada di tempat di mana bantuan tidak tersedia. Penderita agorafobia selalu merasa takut di kerumunan dan lebih memilih untuk menyendiri.

Penyakit itu menyebabkan anak lelakinya menghabiskan sebagian besar hidupnya terbatas di kamar tidur, ia tidak pernah meninggalkan rumah.

Sementara itu, pekan ini, Caudwell dengan Claire Johnson, teman hidupnya selama 15 tahun memutuskan untuk berpisah. Saat ini, mereka hanya mengkhawatirkan Jacobi, anak mereka yang berusia 10 tahun.

"Kami telah melewati pembicaraan yang menyakitkan dan sampai pada titik di mana kami memilih untuk berpisah. Ini solusi yang lebih baik, dibanding tetap hidup berama-sama," ujarnya.

"Jacobi, anak kami, memang menjadi fokus perhatian kami, kami sangat khawatir dia akan berdampak dengan perpisahan ini. Yang saat ini bisa kami lakukan adalah meyakinkan dia bahwa dia memiliki orang tua yang sangat mencintainya," ungkapnya.

Situasi lain yang menjadi fokusnya adalah perkembangan Rufus yang menderita agorafobia. Menurutnya, sudah 8,5 tahun Rufus berjuang mati-matian untuk menghadapi penyakitnya yang semakin parah.

"Melihat penderitaan anak yang kita cintai setiap hari, itu sangat menyakitkan. Dia telah berjuang 8,5 tahun melawan penyakit itu, dan kami telah mengupayakan pengobatan yang terbaik di berbagai negara," paparnya.

"Sebelumnya dia sangat tampan, anak yang sangat berbakat. Saya sangat sedih melihat kondisinya. Dia dikelilingi banyak orang yang mencintainya, tapi cinta itu tak bisa menyembuhkan depresinya. Kalau saja itu bisa," katanya sembari menangis.

"Mungkin saya orang pertama yang mengatakan bahwa kekurangan uang memang bisa menyebabkan penderitaan. Tetapi, yang lebih penting, uang tidak bisa membeli kebahagiaan," imbuhnya.

"Saat Anda merasakan apa yang saya alami saat ini, Anda pasti akan mengatakan hal yang sama. Uang tidak mampu menjadi solusi permasalahan Anda, uang tidak bisa mengubah ketdakberdayaan Anda saat melihat darah daging Anda berjuang melawan penyakitnya," katanya.

"Yang benar-benar penting pada akhirnya adalah kesehatan. Jika Anda tidak memiliki itu, maka semua uang yang ada di dunia ini sekalipun tidak akan pernah membuat Anda bahagia," katanya.