Kamis, 31 Desember 2009

Selamat TAHUN BARU 2010

JALAN HIDUP TAK SELALU LURUS



Ada tingkungan bernama KEGAGALAN,

ada bundaran bernama KEBINGUNGAN,

ada tanjakan bernama TEMAN,

ada rambu-rambu bernama KELUARGA,

ada lampu merah bernama MUSUH,

ada lampu kuning bernama PELUANG.



Kita akan mengalami ban kempes dan pecah.

Itulah hidup...tapi.. jika kita membawa:



ban serep bernama TEKAD,

mesin bernama KETEKUNAN,

asuransi bernama IMAN dan

kemudi bernama TUHAN



Sampailah kita di daerah yang di sebut SUKSES dan BAHAGIA





Selamat "TAHUN BARU 2010"....

Senin, 28 Desember 2009

MENGASIHI di saat yang TEPAT



Robertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel, yang sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak.

Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya.

Namun pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya.

Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,"
Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan Yesus yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolah-raga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson.

Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku…. sayangku…", Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

"Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?" tanya Muriel.Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel berbisik,"Aku bahagia!" Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah suatu perbuatan yang mulia.

Mengurus ayah/ibu atau mertua adalah tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu. Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Peliharalah mereka dengan kesabaran dan penuh kasih

TAK BERSALAH



Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White. Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka. Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku-orang luar-seperti sepupu jauh.


Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting. "Siapa yang melakukan ini?" ibuku membentak melihat dapur berantakan. "lni semua salahmu, Katharine," ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah atau mesin cuci piring rusak.


Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku saling meng­adu. Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan. Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa. Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka. lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal.


Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan. Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Floridake New York. Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas tahun. Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu.
Dengan tawanya yang lucu, ia memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.


Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi. Di suatu tempat di South Carolina, kami keluar dari jalan tol untuk makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau tidak memperhatikan atau tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami. Jane langsung meninggal.


Aku selamat hanya dengan sedikit memar. Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal. Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak. Saat suami-istri White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.


Kepala dibalut perban; kaki Amy digips. Mereka memeluk kami semua dan menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka. Mereka menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia belajar menggunakan kruknya. Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy, berulang-ulang mereka hanya berkata, "Kami gembira kalian masih hidup." Aku tercengang. Tak ada tuduhan. Tak ada tudingan.


Kemudian, aku menanyakan Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Bu White berkata, "Jane sudah tiada, dan kami sangat merindukannya. Tak ada yang dapat kami katakan atau perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang. Bagaimana ia bisa
menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami menyalahkannya atas kematian kakaknya?"


Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu. Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa. Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua bernama Jane. Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya tidak penting. Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali.

Senin, 30 November 2009

KALASHNIKOV: penemu senjata AK-47


Jangan menggugat Mikhail Timofeyevich Kalashnikov. Apalagi membuat dia harus bertanggung jawab atas merebaknya aksi bersenjata yang masih marak di beberapa tempat di planet Bumi ini. Pria yang pada 10 November lalu berusia 90 tahun ini mengatakan, ia menciptakan senjata AK-47 yang populer itu hanya untuk mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh.

Alasan Kalashnikov ini yang membuat dia bisa hidup praktis tanpa beban sampai usia senjanya. "Dalam usia ke-90 tahun, saya adalah manusia yang berbahagia," ujarnya dalam wawancara dengan surat kabar Pemerintah Rusia,Rossiiskaya Gazeta, belum lama ini.

Kalashnikov gembira saat Pemerintah Rusia memberikan penghargaan atas desain senjata AK-47 buatannya. Perayaan peringatan usia 90 tahun ini misalnya, diwarnai pembacaan puisi-puisi patriotik karya Kalashnikov. Puisi yang dia buat waktu masih berusia muda. Dia dengan lantang membacakan beberapa karyanya ini.

"Saya tidak pernah berniat membuat senjata untuk digunakan dalam berbagai konflik di seluruh dunia. Saya membuatnya untuk mempertahankan wilayah tanah air saya," tegas Kalashnikov saat pemberian penghargaan atas sukses AK-47 itu di Kremlin, Moskwa, ibu kota Rusia.

Kalashnikov diberi penghargaan prestisius, Pahlawan Rusia, yang diserahkan langsung oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev. "AK-47 adalah sebuah contoh brilian dari persenjataan Rusia, dan sebuah simbol nasional yang menumbuhkan rasa bangga pada setiap warga negara," kata Medvedev memuji.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin memuji Kalashnikov yang dia katakan sebagai "legendaris sesungguhnya". Acara penganugerahan penghargaan ini disiarkan langsung televisi nasional Rusia. Dua kosmonot Rusia yang berada di Stasiun Ruang Angkasa Internasional atau ISS juga memuji kehebatan kontribusi karya Kalashnikov tersebut.

"Nama Anda seperti kosmonot pertama Yury Gagarin, telah menjadi simbol dari negara kami pada abad XX," ujar komosnot Maxim Surayev dari ISS. Yuri Alekseyevich Gagarin menjadi pahlawan Uni Soviet karena dia merupakan manusia pertama yang mencapai ruang angkasa dan kembali ke orbit pada 12 April 1964.

Terjual 100 juta unit

Kalashnikov yang tampak sehat pada usia 90 tahun ini hidup sederhana di Izhevsk, sebuah kota industri sekitar 1.300 kilometer arah timur Moskwa. Padahal, senjata temuannya, AK-47, sudah terjual lebih dari 100 juta unit di seluruh dunia. Sebuah angka yang sebenarnya akan mendatangkan keuntungan finansial bagi penemunya.

Beberapa sumber menyebutkan, Kalashnikov hidup dengan uang pensiun sekitar 500 euro atau sekitar Rp 7 juta per bulan. Hal itu karena setiap warga negara bekas Uni Soviet tidak punya hak paten. Dia juga memperoleh sebuah vila mewah musim panas dan sebuah apartemen dengan empat kamar dari pemerintah.

AK-47 merupakan singkatan dari Avtomat Kalashnikova atau Automatic Kalashnikov, senjata serbu otomatis karya Kalashnikov. Sementara angka 47 menunjukkan senjata ini mulai diproduksi tahun 1947. AK-47 menjadi senjata serbu yang paling banyak diproduksi.

Angkatan Bersenjata Uni Soviet (kini Rusia) mulai menggunakan AK-47 tahun 1949, dua tahun setelah diproduksi dan ternyata efektif. Senjata ini kian populer di kalangan aksi bersenjata berhaluan komunis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Saat perang Vietnam, AK-47 berperan utama dalam aksi tentara Vietnam Utara menghadapi tentara Amerika Serikat dan Vietnam Selatan.

Kini, angkatan bersenjata di 55 negara di dunia menggunakan AK-47 (yang sudah dimodernisasi) sebagai senjata organik mereka. Angkatan bersenjata Indonesia juga pernah menggunakan senjata AK-47 pada era Orde Lama dan awal Orde Baru.

Beberapa negara seperti Mozambik dan Burkina Faso menempatkan gambar AK-47 pada bendera mereka. Begitu juga pada bendera kelompok bersenjata Hizbullah. Banyak anak laki-laki di Afrika diberi nama "Kalash", singkatan dari Kalashnikov karena AK-47 dianggap membantu perjuangan mereka.
Masa kecil
Di sisi lain, sikap Kalashnikov yang membuat AK-47 untuk membela tanah airnya juga masuk akal. Lahir di Kurya, wilayah Altai, masa kecil Kalashnikov sangat tragis. Ayahnya termasuk salah satu korban pengasingan diktator Uni Soviet, Joseph Stalin, pada tahun 1930.

Saat tentara Nazi Jerman menyerbu Uni Soviet, Kalashnikov ikut dalam divisi tank. Pada pertempuran Oktober tahun 1941 di Brysansk, dia cedera dan harus mundur ke garis belakang.
Dia kemudian bertugas di bengkel militer dan mulai mengutak-atik senjata. Apalagi saat itu Uni Soviet tengah mencari senjata yang ampuh, menyusul kekalahan mereka dari Jerman. Senjata yang bisa mempertahankan Soviet dari serbuan musuh.

Senjata Jerman, StG44 (Sturmgewehr 44), tahun 1946 menjadi pijakan desain Kalashnikov. StG44 memang dikenal ampuh, sederhana, dan bandel. Tak heran Jerman bisa unggul di semua sektor peperangan di Eropa dan Afrika Utara. Rancangan yang sederhana, mudah penggunaannya, serta biaya produksi yang relatif murah membuat senjata rancangan Kalashnikov diterima pimpinan militer Uni Soviet. Kini, AK-47 dalam versi terbaru juga dipakai angkatan bersenjata Rusia.

Senjata Kalashnikov memang simpel. Beratnya pada awal sekitar 4,3 kilogram. Namun kini dibuat versi dengan berat hanya 3,6 kilogram. Itu sebabnya, banyak anak-anak anggota kelompok bersenjata dengan enteng menyandang AK-47. Harga AK-47 juga relatif murah, bisa diperoleh dengan 125 dollar AS atau Rp 1,25 juta di pasar gelap.

Izhmash, produsen AK-47 di Rusia, mengaku, senjata AK-47 yang dipalsu diproduksi di Bulgaria, China, Polandia, dan AS. Aksi pemalsuan ini membuat Izhmash merugi hingga 360 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun per tahun.

Kalashnikov sendiri tak peduli dengan kerugian tersebut. "Tentu saja, seperti setiap orang pada umumnya, ada yang perlu disesalkan (dengan AK-47). Namun saya tegaskan, saya tidak akan memilih jalan hidup yang lain sekalipun ada peluang untuk itu," ujarnya.

"Saya membuat senjata ini untuk mempertahankan tanah air. Bukan salah saya jika senjata ini lalu digunakan untuk hal yang dianggap tak baik. Ini tanggung jawab para politisi," ujar Kalashnikov di Kremlin.

"Tak ada sebuah senjata pun yang memulai perang," ucapnya menambahkan, saat pameran senjata di Delft, Belanda, tahun 2003. Itu sebabnya, mengapa Kalashnikov bisa tetap hidup bahagia tanpa beban sampai usia senjanya kini.

Pelajaran dari sebuah PENCIL


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat . "Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai."
"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamubesar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita... Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik"..

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar"..

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

PELUKLAH Pasangan Anda Hari Ini



Pelukan, sebuah hal kecil yang dapat Anda lakukan bagi pasangan Anda namun dapat membawa dampak yang besar bagi hubungan pernikahan Anda. Banyak studi yang membuktikan hal ini. Sentuhan manusia bisa menyembuhkan dan meningkatkan harapan hidup seseorang. Sentuhan ini sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Berapa banyak dari kita yang merasa lebih mudah untuk mengumbar kemarahan dan emosi ketika sedang ada konflik dengan pasangan namun terasa sangat sulit untuk memberikan sentuhan kecil menyatakan kasih sayang? Percayalah, pasangan Anda membutuhkan sentuhan kasih sayang Anda setiap hari dibandingkan berjuta kata yang Anda ungkapkan baginya.

Apalagi ketika pasangan Anda sedang berada d bawah tekanan. Pelukan Anda sangat berarti dibandingkan ribuan tindakan lain yang dapat Anda berikan baginya karena pelukan itu membangkitkan semangat dan membuat pasangan kita merasa bahwa dirinya tidak sendiri. Dan ia percaya kita dapat membantunya menghadapi saat-saat tersulit dalam hidupnya.

Jangan pernah merasa canggung untuk memulainya. Tahukah Anda, seseorang yang sulit untuk memeluk orang lain, biasanya dialah yang paling membutuhkan sebuah pelukan? Percayalah pelukan akan membawa dampak yang luar biasa bagi hubungan Anda. Semakin sering Anda dan pasangan berpelukan, semakin intens hubungan yang akan tercipta di antara Anda berdua.

Mulailah dengan memeluknya ketika suami Anda hendak berangkat ke kantor atau pun sepulangnya dari kantor. Bahkan berpelukanlah sebelum Anda berdua beranjak tidur. Jangan lupa sertakan 'magic word' bersamaan dengan pelukan Anda, seperti "I love you", "Aku sayang kamu", "Semuanya akan baik-baik saja", dan lain-lain. Dijamin hasilnya akan lebih dahsyat.

Seperti yang terjadi pada saya beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya kami berdua berniat untuk pulang lebih cepat dari kantor karena berencana nonton bersama malam itu. Tapi pekerjaan suami ternyata tidak dapat ditinggal karena ada laporan yang harus diserahkannya esok pagi. Mau tidak mau, rencana kami malam itu pun buyar. Tapi daripada kecewa dan mengumbar emosi kekesalan, saya pun berusaha menikmati malam dengan melakukan apa saja yang saya sukai, termasuk tidur hehehe...

Jarum jam pun terus berputar sampai akhirnya menunjukkan pukul 21.15. Tanda-tanda kepulangan suami tak terlihat sama sekali. Akhirnya saya pun meneleponnya dan menanyakan apakah ia sudah makan malam atau belum. ternyata, untuk sekedar makan malam pun tak sempat dilakukannya. Suara lelah di telepon hanya membuat hati saya semakin trenyuh dan mulai mempersiapkan makan malam untuknya.

Sampai akhirnya, ia pun pulang ketika waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Dengan penuh sukacita karena akhirnya penantian panjang itu berakhir, saya pun langsung berlari menyambutnya di pintu depan. Sambil membantunya membuka pagar dan membawa tasnya, terlihat rona kelelahan yang tergambar jelas di wajahnya. Setelah selesai menutup pagar dan masuk ke dalam rumah,serta-merta saya langsung memeluknya sambil memberikan kecupan kecil di wajahnya. Dan Anda tahu apa yang terjadi? Matanya memancarkan binar yang
tak dapat saya gambarkan dengan kata-kata dan rona kelelahan di wajahnya lenyap dalam sekejap. Tak perlu banyak kata, tapi saya tahu ia mencintai saya, demikian juga sebaliknya.

Setelah selesai membersihkan diri dan menghabiskan makan malamnya, kami pun merebahkan diri di tempat tidur sambil ngobrol. Kebaikan kecil yang telah saya tunjukkan ketika ia pulang kantor tadi ternyata benar-benar menghilangkan kelelahan yang dirasakannya sepanjang hari. Karena obrolan kami tanpa terasa berlanjut sampai jam 1 pagi. Mungkin saya tidak mendapatkan film bagus yang berniat kami tonton bersama tapi saya mendapatkan apa yang paling saya butuhkan dalam pernikahan, yaitu keintiman emosional yang benar-benar kami rasakan satu sama lain.

Siapa bilang sebuah pelukan tidak membawa perubahan apa-apa? Karena hasilnya pasti akan berbeda kalau saya memilih untuk marah dan kecewa karena janji menghabiskan malam bersama yang harus dibatalkan hanya karena alasan pekerjaan. Jadi, peluklah pasangan Anda setiap hari dan lihatlah perbedaannya dalam hubungan pernikahan Anda. Sudahkan Anda memeluk pasangan Anda hari ini?

Penggusur Bill Gates yang Kontroversial : Carlos Slim Helu



Predikat Bill Gates sebagai pengusaha terkaya sejagat yang sempat disandangnya selama 13 tahun, akhirnya tumbang jua. Si dia yang berhasil mengunggulinya adalah Carlos Slim Helu. Uniknya, Carlos ternyata bukanlah pengusaha yang bermukim di negara kaya, melainkan warga negara Mexico, yakni salah satu negara berkembang di Amerika Latin yang 56% penduduknya
masih tergolong miskin.

Kejutan yang mencuat ke permukaan pada pekan lalu itu, seperti yang dilansir oleh Mexican Financial, sebuah media yang terbit di Mexico, yang menyatakan bahwa kekayaan pribadi Carlos saat ini telah mencapai US$ 67,8 miliar. Itu berarti, total kekayaan Chief Executive Officer (CEO) Telmex (Teléfonos de México)—konglomerasi yang bergerak di bidang
telekomunikasi—itu lebih besar US$ 8,6 miliar ketimbang kekayaan Bill Gates yang hanya US$ 59,2 miliar.

Fenomena Carlos memang menarik.
Harta kekayaannya mulai berkembang pesat, paling tidak menurut majalah Forbes, mulai dirasakan sejak dua tahun terakhir. Pada 2005, kekayaan yang dimilikinya baru mencapai US$ 23,8 miliar. Saat itu ia baru tercatat sebagai pengusaha terkaya di urutan keempat. Tapi pada akhir 2006, kekayaannya tiba-tiba bertambah luar biasa, totalnya mencapai US$ 50
miliar. Karena itu pula Carlos layak naik peringkat di urutan ketiga orang terkaya sedunia, kendati masih di bawah Bill Gates dan Warren Buffett.

Dendam Sang Miliarder
Kini, kekayaannya bertambah lagi sekitar US$ 18 miliar. Dengan kata lain, dalam kurun enam bulan terakhir, setiap bulannya pundi-pundi uangnya bertambah rata-rata US$ 3 miliar, atau sekitar Rp 27 triliun. Sebuah angka pertumbuhan yang amat fantastis.

Sebenarnya pula, "karir" Carlos bisa menumpuk harta hingga sebanyak itu, sudah diduga banyak kalangan. Malah, semula mereka memperkirakan, pada tahun ini Carlos hanya akan menggeser posisi Warren Buffett sebagai orang terkaya kedua di dunia. Kenyataannya, prediksi ini meleset total. Kendati tahun 2007 belum berakhir, faktanya Carlos malah berhasil mengungguli Bill Gates. Dan selama tahun ini pria bertumbuh tambun itu diperkirakan masih
akan mampu menambah kekayaannya hingga sekitar US$ 19 miliar.

Salah satu bisnis Carlos yang dipandang paling berjaya adalah sektor telekomunikasi. Secara global, sektor ini memang tengah berkembang amat pesat dan memiliki masa depan yang begitu cerah. Dengan bendera Telmex, bahkan Carlos mampu menguasai 99% jaringan fixed phone sambungan telepon tetap) di Mexico.

Begitu pula halnya di jalur telepon seluler dan telekomunikasi tanpa kabel,lewat Telcel dan America Movil, pengusaha ini berhasil menguasai pangsa pasar di dalam negerinya hingga 80%. Jumlah pengguna America Movil kini mencapai lebih dari 100 juta pelanggan. Menurutnya, bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang amat dibutuhkan oleh manusia saat ini. Dengan telekomunikasi penduduk di dunia bisa saling mengenal dan melakukan transaksi bisnis. "Jadi, mengembangkan telekomunikasi saat ini merupakan sebuah pilihan yang tepat," katanya.

Dan ternyata Carlos bukanlah jagoan kandang. Bisnis telekomunikasinya bahkan mampu merambah hingga ke Amerika. Nyatanya, hingga saat ini ia masih tercatat sebagai pemegang saham perorangan terbesar (13%) di MCI, yakni industri telekomunikasi asal Negeri Abang Sam yang jaringan bisnisnya menggurita hingga di 65 negara. Carlos juga memiliki saham di SBC
Communications, tak lain induk perusahaan telekomunikasi yang paling kesohor di Amerika, AT&T.

PERPUTARAN BISNIS PER TAHUNNYA MENCAPAI US$ 700 MILIAR

Bisnis Carlos juga mencakup bidang teknologi informasi (IT). Hal itu bisa disimak di daftar pemegang saham CompUSA, yakni perusahaan penjaja berbagai peralatan dan komponen komputer yang memiliki jaringan gerai terluas di Amerika. Di perusahaan yang bermarkas di Texas ini, bahkan Carlos tercatat sebagai pemegang saham mayoritas. Sampai saat ini, jaringan toko yang berada di genggaman perusahaan ini berjumlah lebih dari 200 unit, yang
tersebar mulai dari Amerika hingga Puerto Rico.

Selain itu, Carlos memiliki kerajaan bisnis yang mencakup ratusan perusahaan. Selain telekomunikasi dan IT, unit usaha lain yang digarapnya bergerak di bidang keuangan, stasiun televisi, kesehatan, industri rokok, investasi di pasar modal, konstruksi dan infrastruktur, dan
restoran.Hebatnya pula, jaringan bisnisnya tersebar mulai dari Amerika Latin,Amerika Serikat, Hong Kong, hingga Finlandia.

Buat ukuran masyarakat Indonesia, nama Carlos Slim Helu memang kurang dikenal. Tapi, publik di sini bisa mengamati sepak terjangnya lewat industri semen asal Mexico, Cemex. Sekitar empat tahun lalu perusahaan ini berhasil membeli saham pemerintah di Semen Gresik.

Layaknya sebuah konglomerasi, seluruh kerajaan bisnisnya dikendalikan lewat Grupo Carso, yakni perusahaan holding yang sengaja dibentuk untuk itu. Nama Carso merupakan simbol pemiliknya, yakni gabungan nama Carlos dan mendiang istrinya Soumaya. Untuk menggerakkan seluruh aset bisnisnya itu, kini Carlos dibantu oleh tiga orang putranya, ditambah seorang menantu laki-lakinya.


Jika ditotal, perputaran dana yang dialirkan Grupo Carso setiap tahunnya mencapai US$ 700 miliar. Dengan skala sebesar itu, bisa dimaklumi jika kelompok usaha ini juga menjadi tumpuan perekonomian negaranya. Nyatanya, sekitar 7% kegiatan ekonomi negara berpenduduk lebih dari 100 juta orang itu berasal dari bisnis Carlos.

Oleh karena itu, seharusnya penduduk Mexico patut berterima kasih kepadanya. Tapi, fenomena yang terjadi malah sebaliknya. Di negerinya sendiri, citra Carlos amatlah buruk. Itu, layaknya "nasib" para konglomerat yang berjaya di negeri yang mayoritas penduduknya masih miskin, sepak terjang mereka selalu dicurigai. Begitu juga dengan Carlos, ia bisa berjaya
karena dituding telah melakukan praktik monopoli.

Beberapa tahun lalu, bahkan CompUSA pernah berurusan dengan lembaga antimonopoli Amerika lantaran dituduh terlalu besar memberikan diskon kepada lebih dari 200 item produk yang dijualnya. Dan taktik bisnis seperti itu dianggap telah menyalahi peraturan dagang di Negeri Abang Sam.

Sejatinya, Carlos adalah lelaki yang saat ini berusia 67 tahun kelahiran Mexico City. Di kalangan lawan-lawan bisnisnya, ia dikenal sebagai pengusaha yang memiliki style mirip Warren Buffett. Maksudnya, Carlos juga dikenal piawai membeli perusahaan dengan harga murah, kemudian dijualnya kembali ketika harganya tengah melambung tinggi. Gaya bisnisnya ini pun tak
luput dari kritikan banyak kalangan. Pasalnya, ia kerap ketahuan melakukan cara-cara transaksi yang tidak etis.

Terlepas dari tudingan miring itu, bisa dibilang, Carlos patut digolongkan sebagai pebisnis tulen. Keterampilan berbisnisnya, tampaknya sudah mulai terasah sejak kecil. Kedua orang tuanya yang imigran dari Lebanon mewariskan kepadanya bisnis properti. Pada awalnya, usaha peninggalan ini hanya kecil-kecilan. Kemudian menjadi terkenal setelah Mexicomengalami
krisis ekonomi di awal 1980-an. Maklum saja, saat itu ia banyak membeli perusahaan yang ditawarkan dengan harga murah.

Setelah berjalan selama 10 tahun, kemudian ia berhasil membeli Telmex dari Pemerintah Mexico. Sejak saat itulah bisnisnya makin berkibar dan menggurita. Meski banyak yang mengkritiknya, tapi Carlos tak peduli.

"Kritik adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari seorang pengusaha yang sukses," katanya.

Belajar dari HARI TOILET : JACK SIM




Tahukah Anda kalau tanggal 19 November lalu adalah hari toilet sedunia. Hari toilet?Benar! Hari toilet. Maklum, banyak orang enggan bicara tentang ikhwal satu ini. Padahal, bicara toilet berarti bicara kesehatan. Ada sekitar dua juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena penyakit yang berhubungan dengan jeleknya sanitasi.

Jack Sim orang Singapura. Dia mengaku bukan orang sekolahan. Oleh karena itu dia memilih pekerjaan yang pasti dihindari oleh orang-orang berpendidikan tinggi: mengurus toilet. Tetapi, siapa bilang dia tidak cerdas? Justru kepintaran memilih profesi ini membawanya menjadi terkenal di seluruh dunia.

Kariernya dimulai sebagai pengelola kebersihan toilet umum di Singapura pada usia 24 tahun. Kegairahan pada pekerjaan membuat bisnisnya sukses dalam waktu singkat. Karena dia merasa bisnisnya sudah dapat diserahkan pada profesional, dia lalu membawa idenya menjadi urusan sosial.

Tahun 2001, dia mendirikan Organisasi Toilet Sedunia (WTO). Organisasi ini didedikasikan pada upaya memperbaiki kondisi toilet dan sanitasi di seluruh dunia. Organisasi yang didirikan oleh 15 anggota ini sekarang beranggotakan 151 anggota di 53 negara. Organisasi ini setiap tahun menyelenggarakan konferensi, pameran, dan forum tingkat tinggi yang setiap kali memberi masukan pada pemerintah negara berkembang untuk memperhatikan kebijakan kesehatan masyarakat, terutama yang berurusan dengan sanitasi dan persoalan air bersih.

Tahun 2005, Jack mendirikan World Toilet College, untuk menyelenggarakan pelatihan, pembuatan desain, perawatan, sekolah sanitasi,dan mengimplementasikan sistem sanitasi sehat. Melalui urusan toilet ini, Jack Sim mendapat pemenang pertama Social Entrepreneur of the Year di Singapura tahun 2006. Bahkan, pada tahun 2008 dia ditunjuk sebagai anggota
dewan World Economic Forum. Dia juga menjadi dosen dan mentor pada social entrepreneurship di INSEAD Asia dan Nanyang Polytechnic di Singapore.

Cerita Jack Sim ini layak menjadi contoh.
Pertama, sudah menjadi rumus umum, hasil karya kita akan tampil diperhatikan khalayak ketika kita membuat diferensiasi. Membuat sesuatu berbeda. Ketika semua orangmenghindari pekerjaan yang dianggap jorok ini, justru Jack Sim masuk disitu. Bahkan, dia percaya suatu hari nanti dia berharap toilet akanditempatkan sama tinggi nilai sosialnya dengan ponsel.

Kedua, semua profesi itu penting bergantung pada bagaimana kita menikmati dan menjalaninya. Hidup harus bermakna, begitu moto hidupnya. Berkat inisiatifnya WTO
meluncurkan website dan berambisi mengumpulkan uang sejuta dollar, untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan sanitasi sehat di negara-negara terbelakang.

Ketiga, hidup harus memiliki prinsip. Ketika dia yakin bahwa prinsipnya baik-baik saja, maka dibutuhkan upaya ngotot untuk membuat semua mimpi jadi nyata, kendati pada saat awal orang menghina dan mencemooh apa yang dilakukan. Prinsip ini kemudian ditulis dalam sebuah buku The Power of Unreasonable People.



Jangan percaya orang mampu mengurus pekerjaan lebih besar, jika mengurus toilet saja tidak becus!

Selasa, 24 November 2009

10 Orang TERKAYA di dunia 2009




Tahukan Anda, siapa orang terkaya di dunia tahun 2009 ?


Bulan Oktober 2009, Majalah Forbes merilis orang terkaya di Amerika Serikat AS 2009 bahkan mungkin di dunia. Sebagaimana diduga sebelumnya bahwa orang paling kaya di dunia masih dipegang oleh Bill Gates Bos Microsoft.


Nampaknya krisis global cukup berpengaruh terhadap peringkat terakhir kekayaan pebisnis internasional. Beberapa orang terkaya harus tergelincir dari peringkat sebelumnya seperti Warren Buffet yang harus kehilangan 100 triliunan rupiah atau USD 10 million dalam 12 bulan terkahir.


Untuk selengkapnya daftar orang terkaya USA dan dunia versi Majalah The Forbes 2009. Berikut ini daftar orang terkaya yang masuk ke dalam kategori The Forbes 400, versi majalah Forbes,yaitu:


1. William Henry Gates (53) kekayaan USD50 miliar.


Lebih dikenal dengan nama Bill Gates. Dia adalah founder Microsoft dan juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.


2. Warren Buffett (79) kekayaan USD40 miliar.


Pemilik Berkshire Hathaway dan juga seorang investor dan pengusaha Amerika Serikat.


3. Lawrence Ellison (65) kekayaan USD27 miliar.


Pendiri dan CEO dari perusahaan perangkat lunak database Oracle Corporation.


4. Christy Walton dan keluaga (54) kekayaan USD21,5 miliar pemilik Wal-Mart.


5. Jim C Walton (61) kekayaan USD19,6 miliar, bos Wal-Mart.


6. Alice Walton (60) kekayaan USD19,3 miliar, bos Wal-Mart.


7. S Robson Walton (65), kekayaan USD19 miliar, bos Wal-Mart.


8. Michael Bloomberg (67), kekayaan USD17,5 miliar, pemilik Bloomberg.


9. Charles Koch (73) kekayaan USD16 miliar, pengusaha di bidang manufaktur dan energi.


10. David Koch (69), kekayaan USD16 miliar, pengusaha di bidang manufaktur dan energi


Ezatullah Atef, Sosok Sukses Mantan Panglima Perang Afghanistan

Ezatullah Atef, seorang laki-laki gemuk dengan janggut pendek, kini merupakan seorang pengusaha di Afghanistan. Atef, yang mengenakan jaket ala barat untuk menutupi pakaian khas yang longgar, di masa lampau mengomandoi 1400 personel dan menjadi salah satu unit mujahidin yang mengusir Uni Soviet.

 

Milisinya juga memegang peranan dalam invasi Amerika Serikat lima tahun lalu. Kini, Atef tetap komandan, tidak secara militer tetapi sebagai manejer tempat wisata paling terkenal di Kabul, Danau Qargha.

 

Lokasi wisata itu menjadi tujuan piknik keluarga untuk berjalan-jalan menikmati keindahan taman maupun bermain air.

"Setelah kejatuhan Taliban, saya kira masa bersenjata di Afghanistan telah berlalu. Saya meletakkan senjata dan mencoba usaha," kata Atef, (46).

 

Atef adalah salah satu dari para panglima perang yang menyerahkan senjata mereka dalam program pelucutan senjata. Dia mengatakan menyerahkan lebih dari 800 senapan mesin, enam tank dan sejumlah artileri pada 2002.

 

Namun, program tersebut hanya mencatat penyerahan 640 senjata serta pembubaran 1.400 anak buahnya. Program Pelucutan, Pembubaran dan Penyatuan Kembali yang didukung PBB tersebut juga mencatat Atef menyerahkan empat truk penuh amunisi.

Atef masih didampingi dua pengawalnya dan penjaga-penjaga bersenjata berada di sudut-sudut kompleks Qargha.

 

Dia menjalankan usaha pariwisata di kawasan nasional Afghanistan yang punya pemandangan indah yaitu danau, hutan pinus dan belukar ungu yang dihiasi mawar kuning saat musim semi. Danau tersebut dibangun pada dasawarsa 60, dengan air yang berasal dari salju di kaki pegunungan Hindu Kush.

 

Awalnya, masuk ke Qargha tidak dipungut biaya kini, di gerbang ada karcis 40 Afhani (kurang dari Rp9 ribu) dan pengunjung juga harus membayar untuk parkir maupun mendirikan tenda.

 

Atef mendapat kontrak selama 20 tahun untuk mengelola tempat tersebut dan dia harus menyetor 2500 dolar setiap bulan kepada pemerintah.  Kini di tempat itu telah terdapat lusinan restoran dan kios es krim. Ada juga sewa sepeda air seharga satu dolar untuk setiap 15 menit dan pengantaran perahu keliling danau, juga seharga satu dolar.

 

Tempat itu bahkan menyediakan jetski, sesuatu yang masih jarang di Afghanistan. Atef, terinspirasi saat berkunjung ke Swiss, juga membangun pondokan bergaya vila pegunungan dengan tarif US$80 hingga US$200 semalam.

 

"Saya menghabiskan US$800 ribu untuk membangun kembali tempat ini dan saya dapat pemasukan selama 20 tahun," katanya. Sebelum memulai pembangunan, dia terpaksa meledakkan bendungan yang dibangun panglima perang saingannya agar air mengalir ke sungai.

 

Dia juga mendapat pemasukan dari kios-kios makanan, di mana para pengelola berbagi 50% keuntungan untuk manejemen Atef. Pada hari libur dan akhir pekan, pemasukan satu kios bisa mencapai US$2 ribu.

 

Langkah Atef mengeryitkan kening sebagian orang, di negeri di mana korupsi menjadi endemik, kasus kejahatan meninggi dan sekitar 2 ribu tentara pribadi masih berkeliaran.

"Ada yang bilang kontraknya tidak adil untuk pemerintah. Tapi Atef bagus dalam mengerjakan rekonstruksi. Lebih baik punya pengusaha yang korup dari pada panglima perang yang berbahaya," kata seorang pegawai negeri di Kabul, Sahpoor Zazai yang hampir setiap akhir pekan berkunjung ke Qargha.

 

Banyak mantan panglima perang era pendudukan Uni Soviet, kini menjadi masalah bagi pemerintahan presiden Hamid Karzai.

Beberapa masih menjalankan pasukan mereka dan mengabaikan kewenangan pemerintah.

"Kami mencatat ada dua ribu kelompok bersenjata dengan jumlah keseluruhan 180 ribu personel," kata juru bicara program pelucutan dan demobilisasi, Ariane Quentier. Kebanyakan kelompok tersebut terlibat dalam aktivitas yang tidak sah serta menghambat kemapanan kewenangan pemerintah dan hukum.

Para mantan komandan, beberapa di antaranya kini duduk di parlemen, diduga terlibat dalam berbagai kekejaman dalam konflik yang berlangsung hampir tiga dasawarsa, khususnya saat perang saudara yang menghancurkan Kabul serta menewaskan sekitar 80 ribu orang.

Beragam masalah yang dihadapi pemerintah, misalnya sejumlah tokoh yang dikenal sebagai pembebas Afghanistan akan dihadapkan ke pengadilan atas dugaan kejahatan perang.

"Siapa yang panglima perang dan siapa yang bukan, terserah penilaian masyarakat. Saya berjuang untuk kemerdekaan negara saya dan saya bangga,"

kata Atef lalu mengatakan sepenuhnya telah meninggalkan masa pejuangnya.

 

 

Arnon Milchan, Miliuner Penjual Senjata Asal Israel


ARNON Milchan adalah sosok pebisnis senjata paling berpengaruh di Israel. Selain menguasai lika-liku bisnis, Milchan juga ulung dalam berbagai negosiasi. Puluhan tahun ia berkiprah di bisnis jual beli senjata dan memasok berbagai peralatan tempur bagi tentara Israel.

Kini, dia juga memiliki pabrik pembuat senjata. Majalah Forbes mencatat, tahun ini kekayaan bersih Milchan mencapai US$ 2 miliar dan menempati peringkat 334 orang terkaya dunia.

Arnon Milchan adalah keturunan Yahudi pribumi tulen. Ia lahir di Tel Aviv, Israel, pada 6 Desember 1944. Dia menyebut dirinya sebagai, "Generasi ke-10 Palestina". Keluarga Milchan memang telah tinggal di wilayah tersebut selama lima abad. Di usia remaja, Milchan tidak banyak melewati masa-masa luang seperti kebanyakan pemuda Israel waktu itu.

Milchan justru menghabiskan waktu remajanya untuk mengasah diri membangun bisnis bersama ayahnya. Maklum, ia besar dari keluarga pebisnis. Ayah Milchan waktu itu menerima kontrak bisnis dari tentara Israel. Milchan muda sempat mengenyam bangku sekolah di London, Inggris. Namun dia tidak menamatkan sekolahnya. Ia memutuskan mudik ke Israel dan membantu bisnis sang ayah. Menginjak usia 22 tahun, ayah Milchan meninggal mendadak.

Milchan kemudian melanjutkan bisnis ayahnya. Ia mendapat warisan US$ 61.000 dan perusahaan pupuk yang hampir bangkrut. Warisan itu mengasahnya menjadi pebisnis sejati. Berkat tangan dingin Milchan, perusahaan pupuk itu perlahan bangkit. Ia pun sukses mengembalikan kejayaan bisnis warisan ayahnya. Bahkan belakangan ini perusahaan pupuk tersebut sudah menjelma menjadi perusahaan kimia dengan aset mencapai US$ 100 juta. Sembari mengurusi bisnis keluarga, Milchan mencoba mencari peluang bisnis lain.

Salah satunya adalah bisnis jual beli senjata super canggih. Awal mula menggeluti bisnis ini pada 1970-an. Waktu itu Milchan bertemu dengan koleganya sesama tokoh pemuda di Israel, seperti Shimon Perez, Moshe Dayan, Teddy Kolleck dan Chaim Herzog. Milchan bersama koleganya itu sering nongkrong di sebuah restoran di Tel Aviv untuk membicarakan urusan politik.



Maklum, kondisi Timur Tengah waktu itu sedang panas dan bergejolak, termasuk dalam urusan pengadaan senjata bagi tentara Israel. Milchan memang tertarik berdiskusi mengenai politik. Namun dia mengaku tak berminat menggelutinya. Dia hanya melihat ada peluang bisnis besar di balik dunia politik, yakni bisnis senjata api. Itu sebabnya Milchan tetap menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh politik dan menggunakan jaringannya untuk menjalankan bisnis penjualan senjata. Wajar saja, sepanjang 1970-an, 1980-an, hingga Perang Teluk 1991, Milchan adalah sosok strategis pengadaan alat perang di Israel. Dia merupakan penyuplai senjata utama bagi negara Yahudi itu. Sebagai contoh, pada saat Perang Teluk 1991, Milchan adalah pemasok tunggal misil Hawk dan Patriot ke Israel, guna menandingi kedigdayaan rudal Scud milik Irak.



Dalam perjalanan kariernya, jejaring bisnis yang dibangun Milchan, yakni Milchan Brothers, juga bergerak mewakili kepentingan militer Israel. Saat ini, Milchan Brothers menaungi anak usaha Raytheon, North American Rockwell, Beecharft, Bell Helicopter, dan Magnavox. Semuanya bergerak dalam bidang manufaktur pertahanan dan keamanan. Namun Milchan hanya akan menjalankan produksi persenjataan serta menjual berbagai alat perang untuk kepentingan Israel. "Saya merupakan wakil tentara Israel," kata Milchan. Maka itu, Milchan tak akan pernah menjual senjatanya ke negara lain, kecuali untuk Israel.

Saat ini, Milchan menempatkan diri sebagai miliuner dunia. Dia mengendalikan 30 perusahaan di 17 negara. Selain pernah menjadi pemasok senjata bagi tentara, Milchan juga menggeluti bisnis lain seperti bisnis kimia, agribisnis, pakaian olahraga hingga merambah dunia film dan hiburan. Majalah Forbes mencatat, tahun ini kekayaan bersih Milchan mencapai US$ 2 miliar atau Rp 20 triliun (kurs Rp 10.000 per dolar AS). Piawai berbisnis senjata Arnon Milchan memang piawai berbisnis senjata.

Milchan Brother, perusahaan milik Milchan, merupakan mitra utama pabrik-pabrik senjata ternama dunia, seperti Raytheon, North American Rockwell, Beechcraft, Bell Halicopter, dan Magnafox. Selama menggeluti bisnis senjata, Milchan sering terseret masalah dan harus berhadapan dengan aparat hukum. Semua itu menjadi sisi gelap karier bisnisnya. Dia akhirnya berhenti dari bisnis senjata usai Perang Teluk 1991. Puluhan tahun Arnon Milchan menggeluti usaha jual beli persenjataan.

Keterlibatannya dalam berbagai aksi kotor demi mengail keuntungan menjadi sisi kelam perjalanan hidupnya. Milchan berkali-kali terseret kasus yang berhubungan dengan transaksi senjata. Salah satunya terjadi tahun 1975.

Waktu itu, dia menerima komisi US$ 300.000 dari anak usaha Raytheon, karena berhasil menjual misil Hawk ke Pemerintah Israel. Para pejabat dan parlemen Israel mempersoalkan komisi yang dinilai terlalu tinggi. Namun Milchan dengan sigap dan cepat mampu meredam perkara tersebut. Kasus hitam lainya yang melibatkan Milchan adalah tuduhan penyelundupan senjata dari Amerika Serikat (AS) ke Israel. Pengadilan AS membeberkan, pada 1980 salah satu perusahaan Milchan membeli chrythrons, sejenis peralatan pendukung untuk memicu ledakan nuklir, secara ilegal dari perusahaan agen senjata bernama Milco. Tuduhan itu muncul karena aparat hukum Amerika menemukan bukti kedekatan Milco dan Milchan. Lebih dari 80% bisnis Milco selalu berhubungan dengan Milchan, senjata, dan Israel. Milco juga terindikasi melakukan 800 kali penyelundupan senjata, termasuk mengangkut chrythrons secara ilegal dari Amerika Serikat menuju Israel.

Selain memasok chrythrons, Milco memasok pula bahan baku kimia untuk roket, mesin laser, dan kondensor bertegangan tinggi kepada perusahaan Milchan. Dasar pintar berkelit, Milchan menyangkal segala tuduhan tersebut dan berhasil terbebas dari semua tuduhan. Pengusutan perkara ini juga makin sulit karena petinggi Milco, Richard Smythe, kabur dan menjadi buronan. Selain memasok senjata ke Israel, Milchan juga menjadi pemasok alat perang bagi Afrika Selatan pada era 1970-an. Bahkan, kabarnya Milchan menjembatani kerjasama pengembangan nuklir antara Israel dan Afrika Selatan. Konon, Milchan melobi karibnya, Shimon Perez yang waktu itu menjabat Menteri Pertahanan Israel, supaya bersedia meneken kerjasama pengembangan nuklir serta pemasokan senjata.

Milchan mendapat banyak keuntungan ganda dari kerjasama itu, yakni komisi pemasokan senjata, serta mendapat proyek sampingan senilai US$ 100 juta dari pemerintah Afrika Selatan. Dana tersebut untuk membungkam para politisi Afrika Selatan, serta menyogok media massa asing yang menentang kebijakan apartheid. Maklum, waktu itu, Afrika Selatan terisolasi dari pergaulan dunia internasional lantaran melakukan diskriminasi terhadap orang kulit hitam. Milchan menggunakan dana tersebut untuk menyogok para politisi, serta melakukan kampanye di berbagai negara untuk memulihkan citra buruk Afrika Selatan. "Kami saling bekerjasama untuk menjelaskan kepada dunia bahwa politik apartheid adalah cara yang tidak buruk," kenang Milchan. Namun banyak pula yang curiga, sebagian besar dana dari pemerintah Afrika Selatan itu masuk ke kantong pribadi Milchan. Masa-masa kelam bisnis Milchan berakhir di awal era 1990-an. Dia menyatakan berhenti dari bisnis senjata setelah Perang Teluk 1991.

Dalam konflik Teluk, Milchan sempat menjual misil Patriot ke Israel untuk mempertahankan diri dari gempuran rudal Scud Irak. Meski mengaku telah meninggalkan bisnis panas itu, sikap Milchan soal perdagangan senjata tetap mendua.

Dia mengaku setia terhadap Israel dan akan melakukan apapun untuk berbakti kepada negaranya. "Jika Anda menyatakan bisnis senjata perbuatan ilegal, di Israel, tidak ada bisnis yang tidak berhubungan dengan senjata dan pertahanan," ucap Milchan.

Menggarap bisnis hiburan dan film Selepas dari bisnis senjata, Arnon Milchan mulai serius menggarap bisnis hiburan dan film. Pria flamboyan ini mengibarkan Regency Enterprises dalam industri film Hollywood. Dia juga menggandeng sutradara ternama untuk menggarap film-film produksi Regency Enterprises. Hanya dalam waktu enam tahun sejak menggeluti bisnis hiburan, Milchan berhasil menembus Hollywood. Sederet filmnya produksinya masuk jajaran box office. Salah satunya Pretty Woman. Arnon Milchan menyatakan berhenti dari bisnis senjata setelah Perang Teluk 1991. Dalam konflik di kawasan Teluk itu, Milchan sempat menjual misil Patriot ke Israel untuk mempertahankan diri dari gempuran rudal Scud Irak. Lepas dari senjata, Milchan lebih berfokus menekuni industri film. Sebenarnya, Milchan sudah lama merintis bisnis film hampir bersamaan dengan kariernya di bisnis senjata. Namun, Milchan mengaku lebih asyik menggeluti bisnis senjata dan kurang memperhatikan bisnis film.

Pada 1977, Milchan memulai debut sebagai produser film di Israel. Waktu itu, film perdana garapan Milchan berjudul Black Joy. Sebagai seorang produser dan eksekutif produser, Milchan bertanggung jawab atas kesuksesan film-film garapannya. Agar film garapannya cepat tenar, Milchan memanfaatkan kepiawaiannya bernegosiasi untuk mendongkrak pamor filmnya. Seorang mantan karyawan Milchan mengungkapkan, Milchan pernah melobi pejabat Festival Film Cannes untuk menyertakan Black Joy dalam festival itu. Tidak puas memproduksi film di Israel, Milchan mencari peruntungan ke Prancis. Ia memproduksi film komersial untuk French TV dan tayangan drama seperti Amadeus dengan pemeran utama Roman Polanski. Milchan juga memproduksi drama Ipi Tombi dan It's Nice to Be Civilized. Hollywood tetap menjadi impian Milchan. Tahun 1982, Milchan mendirikan Regency Enterprises.

Kerajaan bisnis film dan hiburan Milchan berawal dari sini. Lewat Regency Enterprises inilah Milchan masuk ke Hollywood. Untuk menggarap lebih serius bisnis filmnya, Milchan sangat total dalam bekerja dan siap menghadapi berbagai risiko. Tak tanggung-tanggung, Milchan menggandeng beberapa sutradara terkenal dnia seperti Sydney Pollack, Sidney Lumet, Ridley Scott, Ron Shelton, dan Martin Scorsese. Ada pemeo, orang datang ke Hollywood untuk terlahir kembali.

Hollywood tidak begitu peduli dengan sejarah masa lalu seseorang. Ini sebenarnya menguntungkan bagi Arnon Milchan yang masa lalunya penuh dengan sisi gelap dan segudang kontroversi. Meski begitu, sepak terjang Milchan di masa lalu tidak serta merta hilang begitu saja. Sebagian kalangan di Hollywood tetap tak bisa melupakan track record Milchan. Bagi mereka Milchan adalah bagian dari peperangan yang dikobarkan Israel. Tidak sedikit yang mencap Milchan sebagai seorang pembajak. Toh, itu tak membuat Milchan ciut nyali.

Pada 1983, Milchan mencatatkan sejarah dengan masuk pentas Hollywood. Film perdananya di Hollywood adalah King of Comedy. Di film ini, Milchan menggandeng sutradara Martin Scorsese. Di Hollywood, penampilan Milchan juga ikut berubah. Milchan selalu tampil layaknya anak muda. Dia juga menggambarkan dirinya sebagai sosok yang ramping, berpandangan ke depan, ramah, dan cerdas. Bukan cuma itu, Milchan senang menggunakan kacamata berwarna, kain wol halus berlapis dua, yang membalut kemeja sutera dengan leher terbuka, seraya memperlihatkan bulu dadanya.

Film-film berkualitas pun bermunculan dari perusahaan milik pria flamboyan asal Israel ini. Menggandeng sutradara Sergio Leone, Milchan menggarap film Once Upon a Time in America pada 1984. Milchan juga berkolaborasi dengan Oliver Stone untuk menggarap film JFK pada 1991, Heaven and Earth (1993), Natural Born Killers (1994). Deretan film lainnya yang sukses di Hollywood adalah The War of the Roses (1989), Pretty Woman (1990), Under Siege (1992), Free Willy (1993), The Client (1994), dan Heat (1995).

Membangun Kerajaan Media Arnon Milchan ingin melupakan sisi gelap masa lalunya sebagai pemasok senjata dengan membangun kejayaan keluarganya lewat bisnis media. Makanya, dia mengangkat empat anak-anaknya untuk bekerja keras membangun kerajaan media mereka saat ini, Regency Enterprises. Dia juga menjalin kerjasama dengan orang-orang yang berpengaruh di bisnis hiburan, seperti Rupert Murdoch, serta terus menjalin relasi dengan mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres. Arnon Milchan terus membangun imperium bisnisnya. Salah satu strateginya, Milchan menggandeng pengusaha kawakan di bidang media dan hiburan. Pada 1997, Milchan menjalin kerjasama dengan raja media Rupert Murdoch, pemilik Fox News. Dalam kerjasama ini, Milchan menjual 20% sahamnya di New Regency Productions senilai US$ 200 juta kepada Murdoch.

Setelah itu, Murdoch menyuntik modal segar US$ 30 juta di jejaring televisi milik Milchan, Regency Television. Saat ini, porsi saham Murdoch dan Milchan di New Regency sudah mencapai masing-masing 50%. "Milchan menggandeng Fox untuk meyakinkan tingkat keamanan finansialnya," kata Ann Louise Bardach, wartawan yang menulis artikel tentang Milchan berjudul The Last Tycoon. Regency Enterprises, induk usaha media dan hiburan yang dibangun Milchan, bukan hanya mengendalikan New Regency. Regency Enterprises juga memiliki beberapa anak usaha seperti stasiun TV Regency Television dan BabyFirstTV, sebuah saluran televisi di AS untuk bayi berusia 0-3 tahun. Kemudian, Milchan juga menguasai The Israeli Network, sebuah saluran kabel yang menyasar pasar AS. Bisnis hiburan Milchan lainnya adalah Channel 10, sebuah stasiun televisi komersial di Israel. Untuk operasional bisnisnya itu, Milchan melibatkan anak-anaknya serta kerabatnya untuk mengelola perusahaannya. Sebagai contoh, Milchan mendaulat David Matalon, teman dari anaknya, sebagai pemimpin New Regency Productions.

Apalagi, orangtua David merupakan teman baik Milchan. Milchan juga menunjuk Alexandra Milchan, putri sulungnya, sebagai wakil pemimpin New Regency di Los Angeles. Adapun anak laki-laki Milchan, Yariv Milchan, menjadi seorang fotografer dan kamerawan di New Regency. Sedangkan anak perempuannya yang lain, Elinor Milchan, bekerja sebagai produser independen dan menggarap film dokumenter yang dibintangi oleh artis-artis pemula. Milchan sudah lama bercerai dengan istrinya Brigitte Genmaire, seorang model berdarah Prancis.

Belakangan, Milchan menikah lagi dengan Amanda Coetzer, mantan petenis dunia asal Afrika Selatan. Ketiga anaknya mengakui bahwa Milchan pernah menjadi seorang pemasok senjata dan agen Mossad Israel. Tapi, kini Milchan menjadi produser film ternama. Alexandra kagum kepada ayahnya lantaran mau secara sungguh-sungguh menghapus masa lalunya. Kendati besar dan sukses di Amerika, Milchan tidak pernah melupakan Israel sebagai tanah kelahirannya.

Apalagi dia memiliki sahabat karib, Shimon Peres, mantan Perdana Menteri Israel. Pernah Peres merekomendasikan dua buku untuk dibaca Milchan, berjudul The Name of the Rose dan The Remains of the Day. Belakangan, Milchan terinspirasi buku The Name of the Rose dan mengadaptasikan ke sebuah film. Suatu ketika, Milchan berkunjung ke kediaman Peres. Di tengah perbincangan, tiba-tiba Peres teringat janjnya untuk bertemu orang-orang Palestina. Sejurus kemudian, datang Nabil Shaat, ajudan pemimpin Palestina Yasser Arafat, bersama rombongan. Semula tidak ada yang memperhatikan Milchan. Kemudian, Peres mengenalkan Milchan. "Ini Arnon Milchan, sahabat saya. Dia produser film hebat," kata Perez seperti ditirukan oleh Milchan.

Salah seorang utusan Palestina mengenali sosok Milchan. Bahkan orang itu mengaku bahwa Yasser Arafat mengagumi salah satu karya Milchan, yakni Pretty Woman. Dari pertemuan tersebut, akhirnya mereka berniat membuat film yang menceritakan tentang kisah orang Palestina dan Yahudi.









Henry Ross Perot, Calon Presiden dan Pengusaha Komputer Asal Texas



Nama Henry Ross Perot beken dan mendunia ketika ia mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 1992. Ia maju sebagai calon presiden dari jalur perseorangan. Sebelumnya, Ross Perot hanya dikenal sebagai pengusaha kaya asal Texas. Ia memiliki perusahaan di bidang penyediaan jasa pemrosesan data. Tahun 2009, Majalah Forbes menempatkan Henry di urutan 468 orang terkaya dunia dengan kekayaan pribadi US$ 1,5 miliar. Henry Ross Perot lahir di Texarkana, Texas, Amerika Serikat 27 Juni 1930. Orang tuanya adalah pasangan Gabriel Ross Perot dan Lulu May Perot.



Ayahnya adalah seorang pedagang kapas dan penjual kuda. Henry tumbuh di tengah keluarga yang religius. Sang ibu mengajarkan kedisiplinan dan menjadi pemeluk agama yang taat. Setiap Minggu, ia dan keluarganya selalu ke gereja. Sementara darah bisnis ia warisi dari sang ayah. Jiwa kerja keras Ross Perot sudah tampak dari kecil. Di usia tujuh tahun, Ross Perot kecil sudah melakoni berbagai macam pekerjaan. Mulai menjadi loper koran dan majalah, kartu natal, tukang kebun, merawat kuda, jual beli peralatan menunggang kuda, serta menjadi pengepul dan ==penyortiran iklan untuk media massa. Kerja keras yang telah ia lakukan sejak kecil itu membuahkan hasil.



Setelah dewasa, ia menjadi pengusaha sukses yang bergerak di bidang penyediaan jasa pemrosesan data dan sistem komputerisasi terkenal di dunia.


Dia adalah pendiri Electronic Data Systems (EDS). Ross Perot menempuh pendidikan umum di kota kelahirannya, Texarkana yang bernama Patty Hill.



Sejak kecil, dia sudah aktif di organisasi kepanduan. Ia menjadi anggota pramuka Amerika sejak umur 12 tahun, dan mendirikan organisasi kepanduan Eagle. Dia adalah salah satu penerima penghargaan dari Eagle Scout. Dari organisasi inilah Perot tertarik pada dunia militer. Makanya selepas lulus sekolah umum tahun 1949, Henry langsung masuk ke Akademi Angkatan Laut AS.



Saat mengikuti pendidikan militer ini, Ross Perot terbilang paling menonjol di antara calon perwira angkatan laut lainnya. Tak heran jika ia terpilih sebagai ketua kelas. Lulus dari akademi angkatan laut tahun 1953, Perot menjadi komando batalyon. Akhir tahun 1954 ia naik pangkat menjadi letnan muda. Tapi karier Ross Perot di angkatan laut hanya seumur jagung. Ia tak puas menjalani kehidupan sebagai tentara angkatan laut. Ross Perot menginginkan kehidupan yang lebih baik secara ekonomi. Setelah empat tahun menjalani masa pengabdian di angkatan laut, dia pun akhirnya mengundurkan diri. Sebelum mundur dari angkatan laut, Ross Perot menikahi gadis asal Pensylvania, Morgot Birmingham, tahun 1956. Morgot berprofesi sebagai seorang pengajar. Perot mengenalnya saat menjadi tentara angkatan laut.



Setelah menikah, mereka tinggal di Dallas. Dari buah perkawinannya itu, Perot dan Morgot mendapat lima orang anak, yaitu Ross Junior, Nancy, Suzanne, Carolyne, dan Katherine. Sampai tahun 2007, Perot sudah memiliki 15 cucu dari kelima anaknya. S



Setelah meninggalkan dunia militer tahun 1957, Perot merintis karier sebagai pegawai swasta. Ia bekerja di perusahaan komputer, International Business Machine (IBM) sebagai tenaga penjual. Ross Perot direkrut oleh seorang perwakilan IBM yang terkesan dengan integritasnya saat masih bekerja di angkatan laut. Di IBM, prestasi Henry dengan cepat melejit. Target penjualan dalam setahun bisa ia capai hanya dalam tempo dua minggu. Kesuksesan pun ia raih dalam waktu singkat. Di IBM, ide-ide bisnis Perot cukup cemerlang. Ia misalnya pernah menawarkan usulan agar IBM tak cuma berbisnis jual beli komputer, tetapi juga menyediakan layanan penyewaan komputer kepada pelanggan yang membutuhkan. Ide yang aneh saat itu. Ross Perot yakin bisnis tersebut akan mendatangkan keuntungan besar. Sayang, atasannya di IBM tidak tertarik dengan ide yang dia ajukan tersebut.



Keluar dari IBM Keinginan Henry Ross Perot untuk memiliki usaha sendiri semakin menggebu-gebu. Makanya ia memilih keluar dari IBM dan mendirikan Electronic Data System (EDS). Pilihan bisnis Ross Perot rupanya tak salah. Dengan cepat, perusahaan ini menggaet pelanggan kakap. EDS juga mendapat kontrak dari pemerintah. Bisnis Ross Perot makin membesar setelah EDS meluncur ke lantai bursa pada 1968. Namun, ia juga pernah merugi besar ketika harga saham EDS rontok. Kurang lebih lima tahun Ross Perot bekerja sebagai tenaga penjual di IBM sebelum akhirnya ia memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut. Keinginan memiliki perusahaan sendiri terus membayanginya dan mendorongnya keluar dari IBM. Tahun 1962, berbekal duit pinjaman dari tabungan milik istrinya sebesar US$ 1.000, Ross Perot mendirikan perusahaan data processing bernama Electronic Data System (EDS).



Perusahaan ini bergerak di bidang pemrosesan data elektronik. EDS melayani penyusunan desain sekaligus mengoperasikan pemrosesan data komputer bagi pelanggan mereka. Bisnis yang tak lazim waktu itu. Perjalanan merintis usaha baru memang tak selalu mudah. Ross Perot juga mengalami itu. Awalnya banyak yang menolak penawaran produk ES ini. Ross Perot mengaku sempat merasakan 77 kali penolakan oleh pelanggan sebelum akhirnya mendapatkan kontrak pertamanya.



Pelanggan pertama EDS adalah Radio Collins di Iowa. EDS mendapatkan kontrak pengiriman rekaman suara dengan menggunakan program komputer ke perusahaan asuransi di Dallas. Tembus kontrak pertama, pelanggan berikutnya mulai berdatangan. EDS juga menyediakan layanan pemrosesan klaim kesehatan untuk Blue Cross dan perusahaan asuransi besar lain. Beberapa perusahaan yang juga tercatat sebagai pelanggannya adalah bank dan instansi pemerintah. Puncaknya, EDS mendapatkan proyek dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menangani pemrosesan data sistem rekam medis. Pada pertengahan 1960-an Pemerintah AS memang mulai mencanangkan program asuransi kesehatan untuk penduduk miskin dan manula.



Nah, EDS mendapatkan kontrak untuk mengurusi pemrosesan data tagihan klaim asuransi dari perusahaan swasta ke pemerintah. Setelah mendapat kontrak dari pemerintah itu, pamor Ross Perot dan EDC meningkat. Tahun 1968, EDC menjadi perusahaan publik. Harga sahamnya melompat tinggi dari US$ 16 ke US$ 160 per saham hanya dalam hitungan hari. Tak heran apabila Majalah Fortune menjulukinya sebagai "Orang Texas yang paling cepat kaya" di tahun 1968. Seiring perjalanan waktu, EDS berkembang menjadi perusahaan besar yang mampu mempekerjakan 70.000 karyawan.



Di perusahaannya, Ross Perot menetapkan aturan main yang cukup ketat bagi karyawannya. Sebagai contoh, dia mengharuskan karyawan training untuk meneken kontrak perjanjian. Isinya adalah kesanggupan para karyawan untuk tidak keluar dari EDS dan bekerja di perusahaan kompetitor setidaknya dalam jangka waktu tiga tahun sejak perekrutan mereka. Jika melanggar perjanjian ini, EDS mengenakan denda US$ 12.000 sebagai ganti rugi biaya training. Namun, usaha Ross Perot tak selalu berjalan mulus. Ia juga beberapa kali menjadi pergunjingan pelaku pasar. Sebagai contoh, awal 1970-an, EDS mencoba mendongkrak pasar pemrosesan data di Wall Street dengan membeli perusahaan pialang saham.



Sayangnya, anak usaha ini justru menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Padahal, Ross Perot secara pribadi telah merogoh kocek US$ 97 juta untuk menalangi perusahaan broker ini. Akhirnya ia menutup anak usaha tersebut meski harus merugi sekitar US$ 60 juta. April 1974, Ross Perot kembali mendapat sorotan lantaran harga saham EDS melorot tajam. Akibat penurunan harga saham EDS itu, Ross Perot harus menelan kerugian sekitar US$ 450 juta hanya dalam waktu sehari. Toh, itu tak membuatnya mundur mengembangkan EDS.



Ia sudah menyiapkan ekspansi baru buat EDS. Menjadi incaran perusahaan lain Electronic Data System (EDS), perusahaan milik Henry Ross Perot menjelma menjadi perusahaan besar. EDS pun menjadi incaran perusahaan lain. Tahun 1984-1986, Ross Perot menjual seluruh saham EDS kepada General Motors, senilai US$ 3,1 miliar. Kehilangan EDS, Perot membentuk usaha baru yang mirip EDS bernama Perot System. Kini, Perot System menjelma jadi perusahaan raksasa. Sukses di kandang sendiri, Henry Ross Perot berekspansi ke luar negeri. Pada tahun 1974, Electronic Data System (EDS) meraih kontrak pertama di luar negeri dari Universitas Saudi Arabia. Tahun 1976, EDS mendapat kontrak dari Pemerintah Iran untuk menangani data masyarakat.



Tapi, dua tahun kemudian, EDS memutuskan kerjasama ini lantaran Pemerintah Iran berhenti membayar kontrak. Penghentian kerjasama itu berbuntut panjang. Tahun 1979, Pemerintah Iran menangkap dan menahan dua karyawan EDS dengan tuduhan mencuri data. Ross Perot tak terima dengan perlakuan Pemerintah Iran terhadap dua karyawannya itu. Ia lantas membentuk tim pembebasan kedua pegawainya. Bahkan Ross Perot ikut terjun langsung dalam proses pembebasan mereka. Bisnis EDS yang berkembang pesat membuat perusahaan ini menjadi incaran perusahaan lain. General Motors (GM), tercatat paling ngebet menggaet EDS karena ada rekomendasi dari investment banking dari Salomon Brothers. Lagi pula, Direktur GM Robert Smith juga jatuh hati dengan EDS.


Setelah melewati proses negosiasi panjang, tahun 1984 Ross Perot bersedia menjual EDS ke GM senilai US$ 2,4 miliar. Pasca penjualan itu, Perot masih memiliki 45% saham EDS. Semula, dia enggan melepas semua kepemilikannya itu. Nyatanya, tahun 1986 GM membeli sisa saham EDS milik Perot US$ 700 juta. Dua tahun setelah melepas EDS, Perot mendirikan perusahaan baru bernama Perot System. Mainan baru Perot ini tak jauh-jauh dari bisnis lamanya di EDS. Perot System ini juga bergerak di bidang penyedia layanan teknologi informasi dan solusi bisnis. Untuk membesarkan Perot System, Ross Perot memanfaatkan kolega lamanya di EDS.



Makanya, Ross Perot tak membutuhkan waktu lama untuk menjaring pelanggan.



Pengguna jasa Perot System antara lain pemerintah, perbankan, perusahaan asuransi, pabrik, rumah sakit dan industri lainnya. Kini, jaringan Perot System sudah tersebar ke seantero dunia. Selain di AS, perusahaan ini juga beroperasi di lebih dari 25 negara lainna. Antara lain di India, Eropa, China, dan Meksiko. Kini Perot System sudah menjelma menjadi perusahaan raksasa dunia yang memiliki lebih dari 23.000 rekanan bisnis. Tahun 2008, Perot System berhasil meraup pendapatan sebesar US$ 2,8 miliar. Mencoba karir di bidang politik Sukses menekuni dunia bisnis, Henry Ross Perot mencoba karier di bidang politik. Tidak tanggung-tanggung, Ross Perot mengincar jabatan Presiden Amerika Serikat (AS). Dia mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari jalur non partai alias perseorangan pada tahun 1992. Meski kalah dari kandidat lain, ia bisa mendapatkan 19% suara.



Dengan modal itu, Ross Perot kembali mencalonkan diri pada pemilu 1996.


Namun, lagi-lagi dia gagal meraih kursi orang nomor satu di AS. Henry Ross Perot termasuk salah satu dermawan di Amerika Serikat. Lewat yayasan Keluarga Ross Perot, dia menyumbang minimal US$ 100 juta per tahun untuk kegiatan amal dan kegiatan sosial. Selain di bidang sosial, dia pun aktif membantu pemerintah di sela-sela kesibukannya berbisnis. Sebagai contoh, tahun 1979, Ross Perot menjadi Ketua Texas War on Drugs Committee. Ini adalah lembaga bentukan Gubernur Texas William P. Clements untuk memerangi peredaran narkotika. Awal tahun 1980-an, saat Ronald Reagen menjabat Presiden AS, Ross Perot juga menjadi salah satu anggota Penasehat Intelijen Kepresidenan alias President's Foreign Intellegence Advisory Board (PFIAB).



Tugas PFIAB adalah memberi pertimbangan dan persetujuan kepada presiden mengenai misi rahasia AS di seluruh dunia. Jauh sebelumnya, Ross Perot terlibat dalam pembebasan tawanan perang Vietnam. Selama perang Vietnam, ia membantu perawatan bagi tentara Amerika Serikat (AS) yang menjadi tawanan perang di Vietnam Utara. Ross Perot mengirim suplai makanan, pakaian, dan obat-obatan. Sukses membebaskan tawanan perang, Ross Perot menggelar pesta akhir pekan bagi para mantan tawanan perang. Bahkan dia merekrut para veteran tentara Vietnam untuk mengisi posisi staf di Electronic Data System (EDS). Ross Perot juga kolektor dokumen sejarah. Tahun 1984 misalnya, ia membeli salinan piagam Magna Charta. Salinan ini adalah satu dari sedikit salinan piagam yang mendapat izin keluar dari Pemerintah Inggris. Ia lalu meminjamkan dokumen ini ke arsip nasional Washington DC. Pada lelang yang berlangsung 18 Desember 2007, salinan piagam ini terjual US$ 21,3 juta.



Sukses di dunia bisnis, Ross Perot mulai tertarik menekuni dunia politik.



Ia tercatat menjadi kandidat calon presiden AS dalam dua kali pemilu. Tahun 1992, Ross Perot mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari jalur perseorangan dan menghabiskan US$ 57 juta untuk berkampanye. Tapi, dia kalah bersaing dengan kandidat dari Partai Republik, George Walker Bush.



Walau tak mendapat sokongan partai politik, Ross Perot mampu mengantongi 19% suara. Dari perolehan tersebut, 20% berasal dari kaum liberal, 27% dari kaum yang menganut paham konservatif, dan 53% dari kaum moderat. Dari status ekonomi, kalangan pemilih Ross Perot kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas yang berpenghasilan antara US$ 15.000 sampai di atas US$ 50.000 per tahun. Meski tidak berhasil meraih tiket ke Gedung Putih, Ross Perot belum kapok mencalonkan diri lagi menjadi kandidat Presiden AS. Tahun


1995 ia mendirikan Partai Reformasi dan memiliki perwakilan di setiap negara bagian. Ia berharap partai ini bisa menandingi dominasi Partai Demokrat dan Partai Republik. Setahun kemudian, ia mendapat mandat dari partainya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu tahun 1996.



Lagi-lagi Ross Perot tak beruntung. Dia kalah bersaing dengan William "Bill" Clinton. Malah perolehan suaranya kali ini menurun ketimbang perolehan suara tahun 1992 silam. Pada pemilu waktu itu, Ross Perot hanya mengantongi 8% suara. Padahal Ross Perot lebih banyak menghabiskan dana kampanye ketimbang anggaran kampanye 1992. Kubu Ros Perot menilai penurunan perolehan suara Ross Perot akibat kandidat yang satu ini tidak pernah disertakan dalam debat calon presiden kala itu. Ross Perot tak bisa ikut dalam debat kandidat lantaran Partai Reformasi yang mengusungnya tak bisa mendapatkan suara lebih dari 15%.





10 Orang Terkaya Di Dunia Tahun 2009

Tahukan Anda, siapa orang terkaya di dunia tahun 2009 ?

Bulan Oktober ini Majalah Forbes merilis orang terkaya di Amerika Serikat

AS 2009 bahkan mungkin di dunia. Sebagaimana diduga sebelumnya bahwa orang

paling kaya di dunia masih dipegang oleh Bill Gates Bos Microsoft.

 

Nampaknya krisis global cukup berpengaruh terhadap peringkat terakhir

kekayaan pebisnis internasional. Beberapa orang terkaya harus tergelincir

dari peringkat sebelumnya seperti Warren Buffet yang harus kehilangan 100

triliunan rupiah atau USD 10 million dalam 12 bulan terkahir.

 

Untuk selengkapnya daftar orang terkaya USA dan dunia versi Majalah The

Forbes 2009. Berikut ini daftar orang terkaya yang masuk ke dalam kategori

The Forbes 400, versi majalah Forbes.

 

1. William Henry Gates (53) kekayaan USD50 miliar.

Lebih dikenal dengan nama Bill Gates. Dia adalah founder Microsoft dan juga

merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda

Gates.

 

2. Warren Buffett (79) kekayaan USD40 miliar.

Pemilik Berkshire Hathaway dan juga seorang investor dan pengusaha Amerika

Serikat.

 

3. Lawrence Ellison (65) kekayaan USD27 miliar.

Pendiri dan CEO dari perusahaan perangkat lunak database Oracle

Corporation.

 

4. Christy Walton dan keluaga (54) kekayaan USD21,5 miliar

pemilik Wal-Mart.

 

5. Jim C Walton (61) kekayaan USD19,6 miliar, bos Wal-Mart.

 

6. Alice Walton (60) kekayaan USD19,3 miliar, bos Wal-Mart.

 

7. S Robson Walton (65), kekayaan USD19 miliar, bos Wal-Mart.

 

8. Michael Bloomberg (67), kekayaan USD17,5 miliar, pemilik Bloomberg.

 

9. Charles Koch (73) kekayaan USD16 miliar, pengusaha di bidang manufaktur

dan energi.

 

10. David Koch (69), kekayaan USD16 miliar, pengusaha di bidang manufaktur

dan energi