Selasa, 03 September 2019

Pelajaran dari seorang Taiichi Ohno

Siapkah Taiichi Ohno?

Taiichi Ohno adalah penggagas sistem produksi yang kini dikenal sebagai The Toyota Way. Sistem ini terkenal karena sangat efisien. Penerapannya membutuhkan disiplin tinggi.

Ohno lahir di Dalin, Cina, tahun 1912. Ia kuliah di Nagoya, kemudian bergabung dengan perusahaan milik keluarga Toyoda, yang merupakan teman ayahnya.

Perusahaan itu membuat mesin pemintal benang. Ya, bisnis pertama Toyota yang dirintis oleh Sakichi Toyoda adalah bisnis pembuatan mesin pintal dan tenun, bukan otomotif.

Toyota baru mulai membuat mobil tahun 1938. Hingga saat ini Toyota masih membuat mesin tenun, dan wujud sebagai pembuat mesin nomor satu di dunia.

Tahun 1948 Ohno pindah ke divisi otomotif. Dia kemudian menghasilkan gagasan tentang lean manufacturing.

 

Konon ceritanya, gagasan itu ia dapat saat melihat supermarket di Amerika. Di supermarket ini disimpan stok dalam jumlah terbatas, sesuai debit penjualan barang. Ohno kemudian memakai prinsip itu untuk jalur produksi di pabriknya. Ia yang memperkenalkan konsep “7 Kemubaziran” atau Nanatsu No Muda.

Berikut adalah 10 prinsip dalam bekerja yang diajarkan oleh Ohno.

1. Kamu adalah biaya. Dalam konteks perusahaan, setiap orang adalah sumber biaya. Ia digaji, diberi ruang kerja, dan berbagai fasilitas untuk kerja. Itu semua berbiaya. Setiap orang bertanggung jawab atas biaya yang timbul. Logisnya, kita bekerja menghasilkan sesuatu, jauh melebihi dari biaya yang dikeluarkan untuk kita. Bila tidak demikian maka kita adalah beban perusahaan. Hal-hal yang sifatnya beban, harus dibuang.

2. Selalulah katakan,”Saya bisa.” Selalulah mencoba. Tidak ada hal yang kita putuskan tidak bisa, sebelum kita mencobanya. Saya coba, dan saya bisa. Saya coba banyak hal, membuat saya bisa banyak hal. Tidak ada orang yang serba bisa. Kita tidak serba bisa. Tapi kita bisa mencoba, dan menjadi bisa.

3. Tempat kerja adalah guru. Hanya di tempat kerjalah kamu bisa menemukan jawaban. Dalam bahasa Jepang ini disebut genba shugi. Keahlian diperoleh dari lapangan, tempat kita bekerja, bukan melalui sederet buku teori. Juga bukan dari hasil perenungan di balik meja. Arti sebaliknya adalah, belajarlah dari hal-hal yang kamu kerjakan. Bukan sekedar melakukannya dengan pikiran kosong.

4. Lakukan segala sesuatu dengan segera. Memulai sesuatu sekarang adalah satu-satunya cara untuk menang. Jangan biasakan menunda, membuat pekerjaan menumpuk, sehingga kita tak sanggup lagi mengatasinya. Jangan tunggu hingga terdesak baru mengerjakan. Jangan baru memulai saat semangat kita sudah mulai luntur.

5. Sekali mulai, lakukan dengan gigih sampai tujuan tercapai. Tidak ada tujuan yang tidak bisa dicapai. Tak ada mimpi yang bisa diraih. Tak ada jalan buntu. Semua yang kita hadapi hanyalah tembok yang bisa kita panjati, lompati, atau kalau perlu kita hancurkan. Tembok di depan kita hanya akan jadi jalan buntu kalau kita memandangnya sebagai jalan buntu.

6. Jelaskan hal-hal sulit dengan mudah. Puncak pemahaman seseorang adalah saat ia mampu menjelaskan hal sulit dengan cara yang mudah dipahami orang. Berempatilah pada orang yang belum paham. Itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang punya kemauan kuat untuk berbagi.

7. Kemubaziran itu selalu tersembunyi. Jangan sembunyikan. Jadikan ia selalu terlihat, sehingga selalu disadari sebagai masalah. Biasakan untuk berpikir, mencari sumber kemubaziran, dan memunculkannya ke permukaan.

8. Gerakan sia-sia sama halnya dengan memperpendek umur. Hidup ini terbatas waktunya. Hidup kita dinilai dari berapa banyak hal bermanfaat yang kita lakukan selama hidup. Bila banyak amal sia-sia, amal bermanfaat kita hanya sedikit. Mungkin kita akan kalah dari orang yang pendek umur tapi banyak amal bermanfaat, padahal umur kita lebih panjang dari dia.

9. Perbaiki yang sudah diperbaiki, untuk jadi lebih baik lagi. Tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Selalu ada ruang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas. Tidak boleh ada kata berhenti atau selesai untuk perbaikan.

10. Kebijasanaan ada pada setiap orang. Yang membedakannya adalah yang mempraktekkannya. Kebijaksanaan bukan bawaan lahir. Ia dihasilkan dari sikap yang terus menerus diasah dalam interksi kita dengan orang lain. Orang bijak tidak hidup di gua, menghasilkan kebijakan dari perenungan. Orang bijak hidup bersama manusia lain, mengasah kebijakannya melalui interaksi.


Tidak ada komentar: