Rabu, 04 September 2019

Renungan: Jika masih ada waktu



Setiap kali pulang dari rumah duka, kita selalu diajak untuk merenung lebih dalam tentang kehidupan...

Dalam 2 bulan terakhir, saya kehilangan 2 teman yang meninggal dunia karena suatu penyakit.

Yang satu berusia 49 tahun. Yang lainnya baru berusia 30 tahun.
Tiga bulan sebelumnya, keduanya masih tampak sehat walafiat dan masih olahraga dan ngopi bersama.
Tiba-tiba mereka merasa kurang sehat, lalu divonis dokter menderita suatu penyakit stadium 4.
Jarak saat vonis dijatuhkan hingga ajal datang menjemput, waktunya tidak sampai 2 bulan.

Di rumah duka, kita pasti akan disadarkan, *bahwa dunia ini adalah sebuah terminal,* di mana kita semua sedang duduk.
Kita semua sedang menunggu giliran......
*Ketika nama kita dipanggil, kita mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, harus berangkat.*

Suatu penyakit, serangan jantung atau penyakit lainnya, termasuk juga kecelakaan atau bencana alam, hanyalah sebuah sarana.
*Lucunya, kita semua tahu tentang kebenaran ini tapi kita tidak pernah sungguh-sungguh menyadarinya.*

Kita kadang menganggap akan hidup lama di dunia ini atau juga, seperti kata seorang sahabat saya :
*Kita berpikir kematian itu hanya milik orang lain......*
Di tengah-tengah waktu yang berlari dengan sangat cepat, kehidupan kita - anda dan saya - sedang melaju dengan pasti menuju titik akhir.
*Kita bahkan tidak tahu sama sekali titik akhir itu ada di mana.*
Mungkin ia berjarak 30 tahun, 20 tahun, 10 tahun atau jangan-jangan hanya hitungan hari. *Siapa yang bisa tahu ?*

Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengandalkan kesehatan, kekuatan dan kekayaannya untuk menangguhkan kematiannya....
Saya tidak tahu anda berusia berapa..
Tapi, jika saat ini ada yg berusia 20-an tahun dan anda tengah mengagungkan kemudaan anda, percayalah, anda sedang ada di dalam mimpi..
Saat Anda tersadar, tentang fananya dunia kehidupan ini.
Anda akan melihat rambut Anda mulai menipis, memutih dan pasti menua di dalam proses kehidupan ..

Tiga puluh tahun lalu saya adalah seorang anak muda yang enerjik, penuh cita-cita, hampir tidak pernah berpikir tentang kematian..
*Lalu semuanya berlalu dengan sangat amat cepat.*
Dulu orang-orang memanggil saya dengan sebutan nama, lalu mas, koh dan kemudian berubah menjadi om.
Tak lama lagi, orang-orang mungkin akan memanggil saya dengan sebutan kakek atau opa.

Saya punya seorang teman yang kini berusia 50 tahun lebih.
Beberapa tahun lalu, ia terperangah karena tiba-tiba orang-orang mulai menyebut dia sebagai om.
Ia tidak bisa menerima kenyataan ini..
Tiap kali orang-orang memanggil dia om, entah itu pelayan restoran atau penjaga toko, ia marah besar.
Ia belum bisa menerima kenyataan.

Ya, kenyataan yang tidak bisa dibantah adalah kita semua - seberapa banyaknya pun harta atau tinggi ilmunya, pengetahuan kita - kita semua *setiap hari akan bertambah tua.*
Menua setiap hari adalah kodrat kita sebagai manusia.
Saat kita melihat di depan cermin, kita mungkin melihat sosok diri kita yang sama dengan kemarin.
*Namun, sesungguhnya perubahan sedang terjadi dalam diri kita..*
Perubahan menjadi tua......

*Tidak ada yang sama antara kemarin, hari ini, dan besok.*
Bukan hanya tubuh kita, tapi juga semua benda yang ada di sekeliling kita.
Semua barang kita: rumah, televisi, jam tangan, lemari, pakaian, mobil, sepedamotor, semuanya sedang berada dalam proses penuaan. *Kita tidak melihat apapun, tetapi kemerosotan sedang terjadi di dalam barang-barang tersebut.*
Begitu juga dengan tubuh kita....
Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Lalu, jika kemerosotan secara fisik setiap saat berproses dalam diri kita, dan kematian hanya soal waktu, *apakah kita akan menjalani kehidupan ini dengan ratapan dan tangisan ?*
Kita memang tidak bisa melawan proses penuaan tubuh kita, *namun kita bisa melawan kemerosotan dari sesuatu yang justru menghidupi tubuh kita, yakni batin kita.*
Jika tubuh kita berubah menjadi tua dan lemah setiap hari, *mengapa kita tidak mengubah batin kita menjadi lebih baik dan lebih baik setiap hari ?*

Tidak ada yang tetap sama dalam kehidupan ini.

Begitu juga dengan pola pikir dan paradigma kita.
Sementara tubuh kita mengalami kemerosotan, *kita memperbaharui cara berpikir - hati kita - dari hari ke hari.*
Memahami sungguh-sungguh bahwa kehidupan ini hanya sangat sementara dan *karena itu waktu yang tersisa amatlah bernilai,* akan membuat kita benar-benar menghargai kehidupan ini.

Tidak ada yang lebih baik dalam kehidupan ini, *selain setiap hari terus belajar untuk mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang baik, mencintai dengan lebih baik, mengerti orang lain dengan lebih baik dan berpikir yang bijaksana, mengampuni dengan lebih baik, membantu orang lain dengan lebih baik, dan dengan itulah kematian akan menganugerahkan kehidupan yang jauh lebih baik buat kita.*

Selamat pagi sahabatku
_*So much to do*_
_*If I only had time*_

Tidak ada komentar: