Jumat, 21 November 2008

Kisah sang KATAK

 

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari.....

 

Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah bukit yang tinggi dan curam !!!

Banyak penonton berkumpul bersama menyaksikan perlombaan untuk memberi semangat para peserta..... . dan peluit ditiup...

 

priiittt... perlombaan dimulai...!! !

 

Sejujurnya, tak satu pun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak bukit curam itu.

 

Penonton berteriak :

 

'Wow... jalannya terlalu suliiittt... !!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak bukit... percuma'

 

'Tidak ada kesempatan untuk berhasil... bukitnya terlalu curam...!!!'

 

Sepanjang perlombaan katak-katak kecil mulai berjatuhan.. . satu per satu...

 

dimulai dng yang kegemukan & tidak mempersiapkan diri...

 

ada yang kecapaian karena bermental LOSER...

 

ada yang berhenti karena TIDAK ADA MOTIVASI...

 

ada yang malah sibuk 'berakrobat' ...

 

ada pula yang tidak waspada dan 'dimakan' musuh...

 

kecuali yang tetap semangat terus menaiki menara perlahan-lahan semakin

tinggi dan semakin tinggi...

 

Penonton kegirangan dan terus bersorak:

'Terlalu sulit.... terlalu sulit... Tak seekor pun akan berhasil...!!!'

 

Maka lebih banyak lagi katak kecil kelelahan dan menyerah...

 

ada yang gdn kemasan alasan & excuse yg cantik...

 

ada yang lupa diri dan tidak konsentrasi...

 

banyak yang tidak mengakui & membela diri...

 

Penonton pun makin mabuk kesenangan :

'Betul apa kata kita... TIDAK MUNGKIN BISA... dan

terlalu sulit...!!!'

 

Maka 'habis' sudah semangat mereka dan makin banyak yang jatuh...

 

yang berpotensi berhasil pun... ikut menyerah!!!

 

yang terparah seperti ini... see ya !!!

tapi ada SEEKOR katak yang terus melaju tidak menghiraukan sorakan penonton

hingga dia naik semakin tinggi dan tinggi...

 

nampak bersemangat dan pantang menyerah...

 

dia berlari dan melompat dng hati...

 

Akhirnya semua menyerah menaiki bukit kecuali SATU katak kecil ini yang dengan

usaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak...!!!

 

Penonton dan SEMUA katak kecil yang lain sangat

penasaran ingin tahu... 'bagaimana dia bisa melakukannya ya...???'

 

Kemudian seorang penonton bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan...???

 

Sang katak ini diam TIDAK MENJAWAB...hanya dua jempolnya diacungkan ke si penanya...

 

... TERNYATA katak yang juara itu TULI...!!!

 

MORAL CERITA :

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif atau pun pesimis...

mereka mengambil sebagian besar mimpi-mimpimu dan menjauhkannya darimu.

 

Berlakulah TULI jika orang menganggapmu tidak bisa menggapai cita-citamu. .!!!

 

Selalu berpikirlah. .. POSITIVE.... ! !!

 

 

 

 

IMPIAN dan TELADAN Seorang Ayah

 

 

Botol Acar - Buku Chicken Soup for the Parent Soul

 

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan,

tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria

dan seorang ayah

 

++ Will Rogers ++

 

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari

di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong

celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu.

Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang

dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol

itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika

isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu,

mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti

harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

 

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur,

menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa

keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar.

Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di

antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank,

Ayah memandangku dengan penuh harap. ?????Karena koin-koin ini kau tidak

perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada

nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu.?????

Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank,

Ayah selalu tersenyum bangga. ?????Ini uang kuliah putraku. Dia takkan

bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.?????.

 

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli

es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang

vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu

menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. ?????Sampai di

rumah, kita isi botol itu lagi.?????

 

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol

yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring,

kami saling berpandangan sambil tersenyum. ?????Kau akan bisa kuliah

berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter,????? katanya. ?????Kau

pasti bisa kuliah. ayah jamin.?????

 

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan

lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah,

waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar

tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu

sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana.

Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping

lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

 

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi

aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan.

Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih

nyata daripada kata-kata indah.

 

Setelah menikah, kuceritakan kepada susan, istriku, betapa pentingnya

peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku,

botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam

keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi

botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah

diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan

buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di

ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari

seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya

sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan

keluar bagiku. ?????Kalau kau sudah tamat kuliah,????? katanya dengan mata

berkilat-kilat, ?????kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang

mau.?????

 

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami

habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk

berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka.

Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah.

?????Mungkin popoknya basah,????? kata susan, lalu di bawanya Jessica ke

kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

 

Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia

meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan

tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. ?????Lihat,????? katanya lembut,

matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai,

seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua

itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

 

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan

segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam

botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica

dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan . Aku tahu,

Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

 

++++++++++++++++++

Sebuah cerita yang luar biasa bukan? Inilah sebuah cerita

yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya

memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam

prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya

tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran

tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang

menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya

mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh

lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang

dikatakan orangtuanya. Semoga cerita ini menginspirasi bagi kita semua.

 

Peace!

 

Mengapa harus meningkatkan PRESTASI ?

 

"Good is the enemy of great. – Baik adalah musuh dari luar biasa."

~ Jim Collin

 

Memang sudah seharusnya kita semua tidak berhenti setelah berhasil

mencapai prestasi. Jika Anda hanya puas setelah mencapai satu

prestasi, tentu Anda tidak dapat lagi menjadi lebih baik 10 kali

lipat, 20 kali lipat dan seterusnya. Meningkatkan prestasi kerja di

dunia yang terus berkembang pesat sudah pasti memberikan berjuta

manfaat yang mungkin belum pernah Anda pikirkan sebelumnya.

 

 

Ironisnya, ternyata makin banyak saja orang yang memilih hidup aman,

menjalani kehidupan rutin tanpa tantangan sama sekali. Kehidupan

mereka tak pernah berubah, karena mereka tak pernah mencoba sesuatu

yang baru apalagi meningkatkan standar prestasi. Mereka rela menerima

hidup apa adanya dan tak pernah lebih baik dari sebelumnya, karena

takut gagal atau membuat kesalahan.

 

 

Lebih parah lagi, mereka hanya berpikir bagaimana mencari aman, bukan

mencari kesempatan untuk mendapatkan kehidupan lebih baik. Orang yang

berprinsip demikian, 'only security, no opportunity' – hanya rasa

aman, tanpa kesempatan, sebenarnya justru dalam posisi berbahaya.

Mereka lambat laun akan terlindas oleh perubahan, dan akan semakin

kehilangan kesempatan untuk memiliki kebanggaan, kebahagiaan dan

semangat hidup.

 

 

"The greater danger of most of us is not that our aim is too high and

we miss it, but it is too low and we reach it. – Bahaya besar bukan

karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh

lebih berbahaya jika kita mempunyai terget yang terlalu rendah dan

kita berhasil mencapainya," demikian pendapat Michelangelo.

 

 

Bila kita melihat tokoh-tokoh sukses dan terpandang di dunia, mereka

semua mempunyai target pencapaian baru dalam bisnis maupun peningkatan

kualitas personal. Oleh sebab itu mereka mempunyai semangat hidup yang

besar dan kesungguhan mewujudkan target baru. Bagi mereka, melakukan

tanggung jawab pekerjaan untuk mencapai target yang lebih besar

merupakan kesenangan dan akan berubah menjadi kepuasan jika sudah

berhasil.

 

 

Sebut saja Donald Trump masih aktif menjalankan bisnisnya, meskipun

sudah mempunyai kekayaan yang luar biasa. Begitu pula dengan Bill

Gates, Steven Spielberg, Oprah Winfrey, Martha Tilaar, yang masih saja

antusias menjalankan pekerjaan mereka dan menciptakan manuver bisnis

yang luar biasa. Kalaupun sudah berhasil, mereka akan segera membuat

target yang lebih besar lagi.

 

 

Thomas Alfa Edison adalah contoh lainnya. Tentu dia tak akan dikenal

sebagai pemilik hak paten terbanyak sepanjang masa jika hanya

menciptakan 1 penemuan. Thomas Alfa Edison menikmati dunia penelitian,

dan ia akan bahagia sekaligus bangga jika berhasil menciptakan

penemuan baru. Karena itulah ia terus menerus melakukan penelitian

sampai berhasil menciptakan 1093 paten atau terbanyak sepanjang masa.

 

 

Contoh lain adalah Sir Edmund Hillary yang sudah cukup kaya dan

mempunyai status sosial tinggi. Ia memilih untuk bersusah payah

mendaki Gunung Everest yang berketinggian 29.028 kaki, karena

memecahkan rekor pendakian atas gunung tertinggi di dunia itu menjadi

sumber kebahagiannya. Dengan semangat dan optimisme, ia berhasil

menorehkan tinta emas dalam sejarah sebagai penakhluk pertama gunung

tersebut pada tanggal 29, Mei 1953. Karena sudah menjadi kesenangan,

sampai menjelang akhir hayatnya Sir Edmund Hillary masih melakukan

aktifitas pendakian gunung.

lembah LOLIPOP

Saudara-saudara ku  terkasih, di sela-sela kesibukan kita, mari kita coba merenung akan makna hidup kita, bahagia kah hidup kita. Coba kita baca refleksi kehidupan Bob dan Bib berikut :

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat."

Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!".

 

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu
sudah sangat jauh di depan saya."

"Kenapa kamu memanggil saya?" Tanya Bob.
"Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!"
Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan
permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen
itu ke dalam tas karungnya. Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.


Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob
di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia. Pernahkah Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada "anak muda", biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah...nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat saya punya anak yang sangat saya cintai ... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan saya sudah sangat besar... cukup untuk saya berlibur"

Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat 'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus
kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetapi semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

 

Uniknya,  pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati nikmatnya duduk-duduk di ayunan beranda depan, pada saat kita naik sepeda dengan anak bungsu kita dan mendengarkan cerita-cerita  lucu, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam atau pada saat membagikan kain bekas dalam acara bakti sosial di kompleks kita; terasa hidup menjadi lebih indah, terasa hidup menjadi lebih hidup.  Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa Indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop. 

 

Kamis, 20 November 2008

Tzippie : Apa yang kau tabur akan kau tuai kemudian

Pada suatu hari yang panas di musim panas, sepasang suami-istri dan putri mereka yang baru empat tahun, Tzippie, sedang dalam perjalanan ke kawasan pegunungan untuk berlibur selama beberapa pekan. Tiba-tiba, sebuah truk besar entah bagaimana masuk ke jalur yang sama dari arah berlawanan, akibatnya tabrakan depan lawan depan tak dapat dihindari. Suami-istri itu mengalami luka parah, dan si kecil Tzippie mengalami patah tulang di beberapa tempat. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, di mana Tzippie di rawat di bagian anak sedangkan kedua orangtuanya dibawa ke unit perawatan instensif. Sebagaimana terbayang oleh semua, Tzippie tidak hanya menderita sakit yang luar biasa, ia juga sangat ketakutan karena tidak ada orangtua di dekatnya yang dapat menghiburnya.

Martha, perawat yang ditugasi merawat Tzippie, adalah seorang wanita agak berumur yang tidak menikah. Ia memahami rasa takut dan rasa tidak aman yang dialami oleh Tzippie dan merawatnya dengan penuh perhatian. Apabila Martha telah menyelesaikan giliran berjaganya, ia bukannya pulang ke rumah, tetapi dengan sukarela terus menunggui Tzippie pada malam hari. Tentu saja, Tzippie semakin suka kepadanya dan bergantung kepadanya atas apa pun yang ia perlukan. Martha membawakannya kue-kue, buku-buku bergambar, dan mainan; ia bernyanyi untuknya dan bercerita banyak sekali.

Ketika Tzippie sudah dapat bergerak, Martha menaruhnya ke dalam sebuah kursi roda kemudian membawanya menjenguk orangtuanya setiap hari. Sesudah berbulan-bulan di rumah sakit, keluarga itu boleh pulang. Sebelum menginggalkan rumah sakit, sang orangtua mengucapkan terima kasih kepada Martha atas pengbdian dan perawatannya yang penuh kasih sayang dan mengundangnya berkunjung ke rumah mereka. Tzippie tidak mau berpisah dengan Martha, dan memaksanya agar mau tinggal bersama mereka. Martha juga tidak ingin berpisah dengan si kecil Tzippie, tetapi panggilan hidupnya adalah di bagian anak-anak rumah sakit itu, dan ia tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja dari situ. Semua orang yang mengerti terharu ketika menyaksikan Tzippie dan perawat yang ramah itu saling mengucapkan salam perpisahan. Selama beberapa bulan keluarga itu terus berhubungan erat dengan Martha – meskipun hanya melalui telepon, karena jarak yang memisahkan mereka terlalu jauh. Namun, ketika keluarga itu pindah ke luar negeri, mereka saling kehilangan kontak.

Lebih dari tiga puluh tahun telah berlalu. Pada suatu musim dingin, Martha yang sekarang berusia tujuh puluhan, menderita sakit parah karena pneumonia dan dirawat di bagian orang jompo sebuah rumah sakit dekat tempat tinggalnya. Di antara perawat yang bertugas ada seorang yang memperhatikan bahwa tamu yang menjenguk Martha sedikit sekali. Ia mencoba memberikan perawatan sebaik-baiknya kepada wanita lanjut usia ini, dan ia melihat bahwa wanita ini orang yang peka dan cerdas.

Pada suatu malam ketika perawat itu duduk dekat pasien tadi, mereka berbincang-bincang perlahan. Sang perawat mengaku kepada wanita itu tentang apa yang telah mendorongnya menjadi perawat. Ketika usianya empat tahun, tuturnya, dan ia bersama kedua orangtuanya mengalami kecelakaan lalu lintas, ada seorang perawat yang sangat ramah yang telah merawatnya sampai sembuh dengan penuh kasih sayang dan pengabdian. Ketika ia semakin besar, ia bertekad bahwa pada suatu hari ia juga akan menjadi perawat dan menolong sesama – dari muda sampai tua – seperti yang telah diperbuat oleh perawat itu kepadanya.

Sesudah lulus dari sekolah perawat di luar negeri, ia bertemu dengan seorang pemuda dari Amerika, dan ketika mereka menikah, mereka pulang ke AS. Beberapa bulan sebelum ini mereka pindah ke kota ini, karena sang suami ditawari pekerjaan yang sangat baik, dan ia juga bersyukur karena mendapatkan pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit ini. Begitu riwayat sang perawat terungkap, air mata mengalir membasahi pipi pasien lanjut usia itu, karena kini ia yakin bahwa perawat ini pasti si kecil Tzippie, yang pernah di rawatnya sesudah mengalami kecelakaan.

Ketika perawat itu menyelesaikan ceritanya, Martha berkata dengan lembut, “tzippie, kita berjumpa lagi, tapi kali ini kau yang merawatku!”. Mata Tzippie terbelalak ketika menatap Martha, tiba-tiba mengenalinya lagi. “Sungguh?” pekiknya. “Entah berapa kali saya memikirkan Anda dan berdoa agar suatu hari kita bertemu lagi!”

Ketika Martha sembuh dari penyakitnya, Tzippie – kali ini – tidak memohon kepadanya agar datang dan tinggal bersama keluarganya. Sebalikny, ia langsung mengepak barang-barang Martha dan membawanya pulang. Ia tinggal bersama Tzippie sam pai hari ini, dan suami Tzippie serta anak-anak menyambutnya seperti menyambut seorang nenek yang paling istimewa.

Ruchoma Shain
Fr Chicken Soup for Unsinkable Soul

Sebuah CIUMANSelamat Tinggal

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.
“Waduhhh,memalukan sekali aku ini, diusia tua kok tambah ngaco..”
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakanSaat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisahlain-lainnya.
“Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu.” Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.
“Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dansaudara-saudara lainnya yang masih dirumah.”
Ia menatap kami dan berkata, “Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.”
Suara Frank mulai merendah sedikit.
“Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semogabisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yangbaik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!”
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, “Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal.Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.’Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. ‘Kau benar,’ katanya. ‘Kau sudah jadi pemuda besar……seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi.’”
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. “Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.”
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.
Frank menyambung lagi, “Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku….untuk merasakan wajah tuanya yang kasar……untuk mencium bau air laut dan samudra padanya…..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau akuseorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah ciuman selamat tinggal.”
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan cinta kasih kita…..

By Thomas Charles Clary

Selasa, 18 November 2008

Unlimited POWER

Seberapa besar potensi kecedasan dalam hidup manusia? Banyak pakar berpendapat bahwa rata-rata seorang DEWASA hanya menggunakan sekitar 10% dari potensi kecerdasannya dalam hidupnya. Seiring berjalan waktu, pendapat tersebut dibantah oleh A. Winter dan R. Winter, penulis Build Your Brainpower, yang mengatakan bahwa rata-rata seorang dewasa hanya menggunakan dengan sungguh-sungguh sepersepuluh ribu (1/10.000) dari potensi kecerdasannya selama hidup.

Orang yang bahkan dianggap paling jenius seperti Albert Einstein diperkirakan hanya menggunakan 10% dari potensi kecerdasannya. Dengan kata lain, bagian terbesar dari potensi kecerdasan manusia dibawa keliang kubur tanpa pernah digunakan.
Jika pendapat para pakar tersebut benar, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan telah mempercayakan atau menginvestasikan potensi yang luar biasa dalam hidup kita. Sayangnya, hal itu tidak pernah digunakan dan dimaksimalkan. Bahkan ironis sekali jika kita hanya menggunakan 1/10.000 dari potensi kecerdasan yang dimiliki.

Penemuan-penemuan baru, serta inovasi-inovasi yang bermunculan hari-hari ini semakin membuktikan bahwa potensi manusia itu luar biasa. Saat belum ditenukannya pesawat terbang, manusia bisa terbang adalah hal yang mustahil, tapi nyatanya sekarang menjadi kenyataan. Kita tidak tahu penemuan-penemuan luar biasa macam apa lagi yang akan dihasilkan ditahun-tahun mendatang. Itu bukti bahwa potensi manusia itu luar biasa.

Pertanyaannya, bagaimana kita menggali dan memaksimalkan potensi kecerdasan kita. Sebab otak kita akan berharga jika digunakan, bukan dibiarkan dalam keadaan “orisinil”. Semakin kita sering menggunakan kemampuan kita untuk berpikir, semakin tajam juga pemikiran kita dan semakin banyak lagi gagasan-gagasan yang kita ciptakan akibat proses tersebut. Semakin sering digunakan, kita sendiri akan semakin terkejut melihat betapa kreatif dan luar biasanya diri kita.


SEPANJANG SEJARAH MANUSIA, BELUM ADA YANG BISA
MENENTUKAN BATAS POTENSI MANUSIA!