Rabu, 08 Desember 2010

Narayanan Krishnan: Dermakan Hidup untuk Kaum Papa

Pada saat kariernya sebagai koki hotel bintang lima terus menanjak,dia malah banting setir mengurus orang miskin.Narayanan Krishnan dan anggota timnya memberi makan 400 orang miskin setiap hari. 


NARAYANAN Krishnan adalah seorang juru masak atau koki yang masih muda dan cerdas. Dia terkenal karena kerap meraih penghargaan koki di antara kelompok koki masak di hotel bintang lima.

Dia juga tercatat sebagai koki ”elite”dan mahal di Swiss. Tapi semua itu berubah cepat setelah dia mengunjungi rumahnya di India sebelum bertolak ke Eropa untuk urusan pekerjaan. Pada 2002, Krishnan mengunjungi kuil di selatan India, yakni Madurai. Saat itu, dia melihat seorang lelaki tinggal di bawah jembatan. Kerap terbayang-bayang keadaan itu,Krishnan pun berhenti dari pekerjaannya.Dia lalu kembali ke rumahnya di India untuk mempersiapkan tujuan baru hidupnya. ”Saya melihat banyak orang yang sudah tua memakan sampah. Ini sungguh sangat menyakiti hati saya.Saya benar-benar terkejut beberapa saat.

Setelah itu,saya mulai memberi makan orang-orang lanjut usia (lansia) dan saya memutuskan untuk terus melakukan hal ini seumur hidup saya,”
terangnya kepada CNN. Dia mengaku, situasi yang dialaminya selama di India menjadi pemantik dalam keputusan hidupnya. Bahkan, seakan menjadi percikan api bagi semangatnya.Tekadnya menguat untuk melayani seluruh orang miskin dan orang yang tidak bisa merawat dirinya sendiri. Akhirnya, Krishnan pun mendirikan lembaga nirlaba bernama Akshaya Trust pada 2003.Krishnan mengatakan nama Akshaya berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti membangun kembali hal yang sudah runtuh serta menguatkan keberadaan manusia agar tidak terhancurkan atau binasa begitu saja.

Spirit pertolongan ini harus dilakukan selamanya.Dalam mitologi Hindu, Dewa Annapoorani terlihat memegang mangkuk Akshaya untuk memberi makan kaum papa tanpa kehabisan sumber makan tersebut. Saat ini, ketika usianya mencapai 29 tahun, dia telah memberi makan lebih dari 1,2 juta orang. Menu yang disiapkan pun beragam, mulai dari nasi, sayurmayur, lauk pauk hingga buahbuahan. Makanan yang diberikan pun mulai dari sarapan, makan siang hingga makan malam ke seluruh orang miskin dan tunawisma di India.Kebanyakan kaum papa ini adalah orang tua atau lansia yang ditelantarkan keluarga dan mengalami penyiksaan. Krishnan memulai kegiatan setiap harinya pada pukul 04.00 pagi waktu setempat.

Dia dan timnya mendatangi setiap daerah hingga jangkauan 201,12 km dengan mobil hasil sumbangan. Mereka mencari para tunawisma di bawah jembatan,di sudut, dan di sela-sela kuil di seluruh kota. Mereka juga membawa makanan hangat, termasuk sayur-mayur dan buah-buahan yang sudah dipersiapkan untuk 400 orang setiap harinya. Krishnan juga membawa sikat, gunting, dan pisau cukur untuk mencukur atau memotong rambut para tunawisma. Sebelumnya dia juga sudah berlatih memotong rambut, tak ketinggalan dengan gaya atau model rambut terbaru. Dia mengatakan banyak dari para tunawisma tidak mengetahui nama ataupun asal usul mereka. Mereka juga jarang mengucapkan kata minta tolong atau mengucapkan terima kasih.

”Mereka mungkin kerap paranoid atau ketakutan dan saling bermusuhan karena kondisi mereka.Tapi saya tetap meneguhkan hati untuk menawarkan bantuan,”paparnya. Malah, lanjut dia, kepanikan, kemiskinan, dan kelaparan semakin memberikan kekuatan lebih kepada dia dan timnya di Akshaya untuk meneruskan perjuangan membantu saudara-saudara mereka di India. Adapun lembaganya menggunakan biaya operasional sebesar USD327 per hari. Mereka hanya mendapat donasi selama 22 hari dalam sebulan.Mau tak mau,Krishnan harus menyubsidi kekurangannya dari penyewaan rumah yang diberikan kakeknya, yakni USD88 per bulan. Krishnan tidur di dapur Akshaya yang sederhana dengan beberapa pekerjanya di lembaga tersebut.

Sejak menginvestasikan seluruh tabungannya sebanyak USD2.500 pada 2002,dia tidak lagi memiliki tabungan ataupun sisa gaji. Untungnya dia mendapat bantuan subsidi dari orangtua dan keluarganya. Karena kekurangan dana ini juga, lembaga nirlaba miliknya terpaksa harus menghentikan pembangunan Rumah Akshaya. Rencananya, rumah ini akan digunakan sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Meski dalam kondisi keuangan sulit,Krishnan mengaku tetap bisa menikmati kehidupannya. ”Saat ini saya merasa sangat nyaman dan sangat bahagia. Saya memiliki gairah dan semangat hidup.

Saya menikmati pekerjaan ini dan saya ingin hidup bersama saudara-saudara saya di India,
”ungkapnya. (susi)

Tidak ada komentar: