Minggu, 08 Februari 2015

Kisah Djudjuk Srimulat Tanggapi Panggilan Yesus Kristus

Salah satu anggota grup komedi legendaris Srimulat, Djudjuk Djuariah, meninggal Jumat (6/2) sore. Meninggalkan duka, tetapi terselip sukacita karena ia aman dalam Yesus Kristus.

Sebab, pada 2003 lalu ia memutuskan untuk menjadi Kristen mengikuti jejak keempat anaknya. Semasa hidup Djudjuk menjadi anggota bahkan aktif di Gereja Bethel Indonesia Keluarga Allah di Surakarta. Bagaimana kisahnya, sehingga ia bertemu dengan sang Juru Selamat, Yesus Kristus?

Kisahnya dimulai saat sang suami, Kho Tjien Tiong atau Teguh Slamet Rahardjo atau yang populer dengan nama Teguh Srimulat meninggal dunia pada 1996. Djudjuk memutuskan menikah kembali dengan seorang perjaka.

Awalnya, ia mengira pernikahan ini akan membuatnya berbahagia, seperti yang direguknya bersama Teguh dulu. Ternyata tidak. Malah, di antara mereka sering terjadi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi pertengkaran. "Rumah tangga saya bagaikan neraka," kata Djudjuk waktu itu.

Dengan berbagai persoalan yang begitu pelik itulah membuat fisik dan mental ibu empat orang anak ini lemah. "Saya tertekan, bahkan tak kuasa menahannya. Kejadian ini saya rasakan saat tampil di panggung bersama pelantun tembang-tembang campur sari, Didik Kempot.

Sampai di rumah tubuh saya limbung dan gelap sekali. Saya benar-benar rapuh. Dalam kegelapan itu saya mencoba memanjatkan doa permohonan sesuai dengan kepercayaan saya dulu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan dalam bahasa Jawa, "Muliho, muliho," artinya pulanglah-pulanglah. Mendengar panggilan itu saya ketakutan luar biasa. Sebab yang saya pahami dari nenek moyang saya dulu, pulang itu bisa berarti dipanggil Tuhan alias meninggal.

Inilah yang membuat saya takut luar biasa. Jujur saja saya belum siap kalau Tuhan panggil. Maka secara spontan saya mengajukan permohonan kepada Tuhan, jangan Kau panggil saya sekarang Tuhan, karena saya belum siap mati. Tetapi suara itu tetap terdengar bahkan sampai tiga kali. Nah pada panggilan ketiga, suara itu menambahkan supaya saya pulang dengan membawa semua barang-barang saya yang ketika itu dikuasai oleh suami kedua saya ini. Di sinilah saya meyakini bahwa panggilan pulang itu supaya saya ke rumah dulu dan membawa barang-barang saya, Saya meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan," kata Djudjuk.

Minta Didoakan

Dengan sisa tenaga yang masih ada, Djudjuk segera pulang ke rumahnya. Seperti perintah yang diyakini sebagai suara Tuhan, ia mengambil dan membawa serta barang-barang berharga miliknya. "Sebenarnya barang-barang itu juga hasil jerih lelah saya selama ini.

Saya makin yakin itu suara Tuhan, seminggu setelah saya mendapatkan kabar ada masalah dengan orang yang bersengketa dengan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa Tuhan itu memang baik. Karenanya saya minta keempat anak saya untuk mendoakan. Sebab mereka sudah terima Yesus terlebih dahulu. Awalnya mereka kaget. "Mama tahu kan apa doa saya?"tanya mereka. Lalu saya katakan saya tahu, tetapi tolong mama didoakan. Sewaktu didoakan itulah saya menangis sejadi-jadinya dan bicara tidak karuan. Sekarang saya baru tahu kalau yang saya alami itu adalah bahasa Roh. Saya mengerti apa yang saya katakan, tetapi anak-anak dan hamba Tuhan yang mendoakan waktu itu sama sekali tidak tahu apa maksud kata-kata saya itu. Sejak itulah, saya memutuskan untuk menerima Yesus, bahkan sekarang aktif di GBI Keluarga Allah Solo, dan pelayanan secara Oikumene," kisahnya.

Melalui peristiwa inilah segala beban berat yang ada dalam dirinya terangkat. Dan yang lebih dahsyat lagi, Tuhan meminta untuk mengampuni orang yang bermasalah dengannya. "Jujur itu sangat berat, sebab orang seperti itu tak layak mendapat pengampunan. Selama satu tahun saya bergumul untuk bisa mengampuninya. Dan luar biasa akhirnya saya bisa melakukannya," ujarnya. Setelah menerima Yesus. Mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidup saya, "Rasanya saya sampai tidak bisa bercerita mukjizat yang saya alami satu persatu karena saking banyaknya," katanya.

Dan, pada kemarin Djudjuk menanggapi panggilan sang Juru Selamat untuk menikmati kehidupan kekal di dalam Dia. Selamat jalan Bu Djudjuk.

Tidak ada komentar: