Jumat, 16 Juli 2010

Enyahkan Keraguan,Buktikan Afsel Mampu


Danny Jordan adalah salah seorang yang paling lega ketika final Piala Dunia 2010 selesai.Tugas beratnya sebagai ketua penyelenggara lokal Piala Dunia pun berakhir ketika Spanyol merayakan pesta juara.


STRIKER Uruguay Diego Forlan ataupun gelandang Spanyol Andress Iniesta dan sederet nama beken pesepak bola lainnya memang menjadi aktor utama di panggung akbar Piala Dunia 2010.Namun,di balik gemerlap sinar aktor lapangan hijau itu terdapat jasa besar seorang Jordan.

Mantan guru sejarah itu memang tidak menciptakan gol, tapi kerja kerasnya sudah membuat perhelatan Piala Dunia 2010 berjalan sesuai harapan, aman,dan kondusif.Dialah otak di balik kesuksesan Afrika Selatan (Afsel) sebagai tuan rumah. Kesuksesan ini jelas berbanding terbalik dengan sikap sinis banyak orang yang sebelumnya meyakini Afsel tidak akan mampu menyelenggarakan event akbar sekelas Piala Dunia.Harus diakui,Piala Dunia 2010 memang masih memperlihatkan banyak kekurangan seperti banyaknya kriminalitas, pemogokan pekerja hingga tidak terdistribusinya tiket secara benar. Namun,di luar kekurangan itu, Afsel membuktikan diri bisa menyelenggarakan Piala Dunia 2010 dengan baik.




"Dunia telah mencatat kami sebagai salah satu negara yang memiliki kapasitas dan kemampuan besar untuk menyelenggarakan event akbar. Saya yakin jutaan orang yang menyaksikan Piala Dunia terkesan dengan Afsel," papar Jordan kepada Reuters. Kerja keras Jordan untuk menyukseskan Piala Dunia bukan hanya dilakukan dalam sebulan terakhir. Dia sudah memulainya 16 tahun lalu saat dirinya menjadi bagian dari Federasi Sepak bola Afsel (SAFA) dan menegaskannya saat negara tersebut merencanakan bidding (penawaran diri sebagai tuan rumah Piala Dunia) pertama kalinya pada awal 2000-an silam.

Jordan tahu tugasnya sebagai ketua panitia biddingtidak mudah karena harus melakukan perjalanan sejauh ribuan mil,mengirim pesan, dan meyakinkan banyak pihak atas kesiapan Afsel."Dia sudah melakukan perjalanan ke hampir seluruh negara di dunia dan mengorbankan kehidupan pribadi demi kepentingan Afsel,"tutur Kirsten Nematandani, Presiden SAFA. Kendati sudah kerja ekstrakeras, bidding Afsel untuk Piala Dunia 2006 toh akhirnya digagalkan Jerman walaupun negara tersebut akhirnya bisa tersenyum saat FIFA akhirnya menunjuk Afsel sebagai tuan rumah untuk 2010. Kedekatan Jordan dengan pemimpin negara-negara Afrika menjadi kunci penting bagi bersatunya benua hitam untuk mengajukan Afsel sebagai tuan rumah.

Mesir dan Maroko yang sebelumnya ngotot ingin mencatatkan diri sebagai negara benua hitam pertama yang menjadi penyelenggara Piala Dunia pun akhirnya mengalah kepada Jordan. Di dalam negeri, pria bernama lengkap Danny Daniel Alexander Jordan itu juga dengan giat merayu anggota parlemen sehingga akhirnya kalangan legislatif serta eksekutif negara tersebut bisa bahu-membahu mewujudkan impian menjadi tuan rumah Piala Dunia."Dia tidak pernah berhenti melobi dan bekerja keras sehingga kami tidak bisa berbuat banyak," papar mantan Ketua Federasi Sepak bola Inggris (FA) David Davies yang bersaing dengan Afsel untuk biddingPiala Dunia 2010. Jordan bukanlah wajah baru dalam sepak bola ataupun FIFA.

Pria berkaca mata ini sebelumnya pernah menjabat sebagai koordinator penyelenggaraan Piala Dunia U-20, Piala Konfederasi 2001, dan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan/ Jepang. Selain aktif di FIFA dan sepak bola,Jordan juga menjadi anggota Dewan Pemasaran Internasional (ICM). Jordan lahir di Port Elizabeth.Sejak remaja,putra pasangan Maxine dan Alexandre Jordaan tersebut menunjukkan minat yang sangat besar terhadap olahraga dan politik. Dia sudah aktif dalam perjuangan anti-apartheid sejak 1970-an dengan bergabung di Organisasi Mahasiswa Afrika Selatan (SASO). Di sanalah dia bahu-membahu memperjuangkan keberadaan mahasiswa hitam di universitas-universitas Afsel

Aktivitasnya di dunia politik membawanya menjadi anggota Front Demokrasi Bersatu dan Kongres Nasional Afrika (ANC). Bagi Jordan remaja, tidak ada hal lain yang diinginkannya selain memajukan warga Afsel. Karena itulah dia memutuskan untuk menjadi pendidik.Uniknya,di saat bersamaan Jordan memiliki profesi lain sebagai pemain kriket dan pesepak bola pada kurun waktu 1970– 1983. Bukan seorang Jordan kalau kedua profesi itu tidak dimanfaatkan secara maksimal. Di tangannya, dia gabungkan aktivitas politik dan olahraga menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Lewat olahraga, dia melakukan banyak terobosan di bidang politik, terutama perjuangan menghilangkan politik apartheid dari bumi Afsel.

 

Jordan bahkan bisa memangku dua jabatan yang sama pentingnya pada 1990, yakni sebagai wakil ketua sebuah klub olahraga serta Presiden ANC cabang Port Elizabeth North. Sepak terjangnya di dunia politik terus bersinar saat terpilih sebagai anggota parlemen pada 1994 atau saat negaranya bebas dari apartheid.Pada 1997,dia terpilih sebagai Direktur Utama SAFA dan memulai melakukan bidding untuk Piala Dunia 2006.Usaha pertamanya ini gagal karena FIFA akhirnya menunjuk Jerman sebagai tuan rumah. Tidak ingin putus harapan,Jordan kembali giat melobi FIFA dan ratusan anggota lain agar memilih Afsel sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010.

Pun setelah Afsel terpilih, Jordan harus bekerja keras tiga kali lipat untuk memastikan penyelenggaraan Piala Dunia 2010 berjalan sesuai dengan keinginan dunia. Lulusan Universitas Western Cape ini bukan hanya mengecek pembangunan stadion, jalan, dan infrastruktur lain, tapi juga situasi keamanan di negara tersebut. Saat gong Piala Dunia 2010 ditabuh pada 11 Juni lalu,Jordan juga tidak bisa tidur nyenyak karena harus bekerja secara ekstramaksimal agar setiap pertandingan berlangsung semestinya.

"Selalu saja ada pertanyaan apakah kami akan sanggup menggelar Piala Dunia? Keraguan itu bahkan tetap muncul hingga menjelang pembukaan," papar pria kelahiran 3 September 1951 tersebut. Kerja keras Jordan akhirnya terbayar lunas dengan ending pesta penutupan yang luar biasa, keluarnya juara baru, serta wajah-wajah puas pengunjung yang menyaksikan Piala Dunia secara langsung di Afsel. (maesaroh)

 

Tidak ada komentar: