Senin, 07 Juni 2010

Delete


Ada bagian-bagian dalam hidupku yang ingin kublok seketika dengan 'mouse' komputerku dan langsung kutekan tombol 'delete' agar raib alias hilang untuk selamanya. Kalau hidup ibarat sebuah film, adegan-adegan yang memilukan, memalukan, sekaligus menyesakkan dada, inginnya kuhapus saja. 'Delete'. Selesai. And move on with my life.

Ada bagian-bagian yang membuatku malu menatapnya kembali. Malu karena aku telah berbuat yang tidak seharusnya. Malu karena aku betul-betul tidak pikir panjang ketika melontarkan kata-kata yang tidak mengenakkan. Ingin ku-'delete' saja. Segera.

Ada adegan-adegan di mana aku yang jadi korban. Entah pelecehan, entah kesakitan, entah jadi saksi mata tindak kekerasan rumah tangga, entah kasus pencurian, entah fitnah, entah tuduhan, entah gossip…Yang ada ingin ku-'delete' itu semua. Biar isinya semua adegan yang 'happy' saja.
Ada bagian-bagian yang membuatku meneteskan air mata. Rasa kehilangan. Kakek, nenek, papa, sahabat yang meninggal dunia di usia muda, sahabat yang berbalik jadi musuh entah dengan alasan apa, pekerjaan, komunitas, atau apa saja. Kehilangan tidak pernah terasa mudah. Bertemu dengan orang yang tidak disukai terus-menerus, sementara kangen dengan mereka yang dekat di hati tapi tak kuasa ditemui karena jarak, kondisi, dan segala sesuatu yang berubah, adalah bagian dari duka. Kalau boleh, aku ingin 'delete' juga. Juga kegagalan semasa hidup, karena inginnya sukses terus. Jadi, 'delete' lagi, yuk!

Kalau semua yang tidak enak itu bisa hilang hanya dengan satu tombol 'delete' semata. Alangkah enaknya! Sekaligus alangkah mudahnya! Tetapi, bukankah hidup justru malahan merupakan sekumpulan kejadian-kejadian yang tidak enak, sekaligus kejadian-kejadian yang menyenangkan? Dan untuk itulah dia disebut hidup? Kalau isinya sebuah film bahagiaaaa semua, gak ada sedihnya, film itu rasanya gak bakal seru ditonton, 'tul gak? Justru kita perlu action, thriller, horor, romance, sampai komedi, sehingga menjadikan film kehidupan kita lebih berwarna tentunya.

Sejujurnya, tombol 'delete' tidaklah sedahsyat kekuatan yang diberikan oleh-Nya untuk mengampuni. Untuk menerima bahwa memang kejadian-kejadian yang menyesakkan itu bertujuan untuk membuat kita menjadi semakin kuat. Justru dalam beberapa retret yang saya ikuti, malahan kita diajak untuk secara berani menatap kembali masa-masa yang menyedihkan itu, dengan menghadirkan Tuhan di situ. Dengan berbagai improvisasi kita dalam imajinasi iman kita: mungkin Tuhan memeluk kita, mungkin Tuhan memegang tangan kita, yang pasti Tuhan tidak meninggalkan kita ketika kita tengah menangis tersedu-sedu. Malah Dia ada untuk menopang kita.

Tombol 'delete' tidaklah menyelesaikan masalah. Malah dengan ditekannya tombol 'delete' itu, membuat kita kehilangan bagian-bagian penting hidup kita yang membuat transformasi besar dalam pengembangan kita secara iman dan spiritual untuk menjadi karakter yang lebih baik lagi. Tombol 'delete' malahan membuat kita seolah kehilangan sesuatu yang saya sebutkan sebagai 'missing link.' Atau jika memandang hidup sebagai sebuah puzzle-- akan ada kepingannya yang hilang dan entah terselip di mana-- sehingga puzzle kehidupan kita tidaklah sempurna.

Kita manusia memang maunya gampang. Maunya enak, tapi sukses dan selalu bahagia. Tanpa kita sadari bahwa perjalanan menuju sukses dari kisah sukses orang-orang yang sudah berhasil menunjukkan bahwa mereka pun melewati hari-hari penuh air mata. Untuk selanjutnya menjadi lebih kuat dan tetap melangkah tegar dalam hidup ini.

'Delete'? Ah, gak usahlah. Biarkan aku berdiri tegar bersama-Nya untuk kemudian juga mengingat banyak hal yang menyenangkan yang sudah kulalui. Dan masa depanku? Aku tak kuatir, sebab bersama Dia-apa pun yang terjadi- selalu akan ada jalan keluar walaupun mungkin berbeda dengan inginku, berbeda dengan pikiranku. Tambahkalah kekuatan dan imanku di dalam-Mu sehingga aku semakin percaya bahwa apa pun yang Kauizinkan terjadi atasku, atas kami, tak lain bertujuan untuk membawa kebaikan bagi kami. Sekaligus percaya bahwa Engkau tengah merenda kehidupan kami menjadi suatu karya yang indah, menjadi suatu karya yang mulia. Amin.

* jika saat ini begitu banyak tumpukan file di hidupmu yang ingin kau 'delete' saking memilukannya… Carilah diri-Nya terlebih dahulu dan biarkan Dia bekerja saat kau sungguh serahkan semua kepingan yang hancur itu kepada-Nya.



Tidak ada komentar: