Selasa, 29 Juni 2010

Ingin Perempuan Unjuk Gigi di Lapangan Hijau

Tuesday, 29 June 2010

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah FIFA, seorang anggota medis perempuan, Celeste Geertsema,diterjunkan sepanjang gelaran Piala Dunia 2010.


SUDAH 80 tahun Federasi Internasional Asosiasi Sepak Bola atau FIFA menggelar Piala Dunia pertama. Selama itu pula belum pernah terdengar satu pun anggota medis perempuan yang bersiaga di pinggir lapangan hijau.

Namun, tahun ini berbeda.Di antara kelompok medis berseragam khusus,berdiri seorang perempuan berambut pirang sebahu. Dialah Celeste Geertsema, anggota tim medis asal New Zealand. Bukan rahasia bahwa kehadiran Geertsema menjadi salah satu daya tarik sepanjang Piala Dunia 2010. Dia disebut-sebut sebagai perempuan pertama yang bergabung dengan tim medis resmi Piala Dunia 2010.Kehadiran Geertsema telah dilafalkan sebagai prestasi yang mengesankan, setara dengan permainan impresif yang ditunjukkan tim nasional negara itu,All Whites. Nama Geertsema sendiri bagi "keluarga besar"AllWhites sudah tidak asing. Dokter berusia 41 tahun ini sudah mendampingi All Whites sejak 2003.

Dia mengikuti hampir semua latihan serta laga kesebelasan Selandia Baru.Secara rutin,Geertsema mengecek kesehatan para pemainsertatimmanajerial. Perempuaninidikenalsebagaidokteryangsabar. Dia punya pendekatan khusus, sehingga pemain yang cedera punya semangat untuk sembuh. Penyerang All Whites,Rory Fallon, termasuk pemain yang dekat dengan Geertsema.Fallon beberapa kali melakukan kunjungan kemanusiaan bersama Geertsema. Pada kunjungan terakhir, Fallon, manajer tim dan Geertsema, mengunjungi Kota Tembisa, dekat Johannesburg, Afrika Selatan.Mereka datang untuk melihat kondisi sekaligus memberikan bantuan kepada masyarakat miskin di Tembisa.

Fallon yang berjalan di samping Geertsema tampak sedikit emosional dan Geertsema menenangkan Fallon dengan cara-cara keibuan. "Kalah dalam pertandingan selalu menyedihkan.Namun,melihat kondisi mereka (kaum papa) ternyata lebih menyedihkan," papar Fallon seperti disampaikan Greetsema kepada media. Sebagai anggota tim medis perempuan, kehadiran Geertsema kerap dipandang sebelah mata. Perempuan yang menghabiskan masa kecil di Afrika Selatan ini pernah ditolak dalam satu laga yang mempertemukan Selandia Baru dan Iran, bahkan dia dilarang masuk stadion. Saat itu dia juga harus susah payah mengurus izin khusus ke beberapa pejabat Iran.

Kendati terdengar sulit,namun Geertsema tidak mau menyerah.Demi mendampingi AllWhites,dia rela direpotkan dengan proses perizinan"Ini masalah yang serius,"tegasnya. Menurut Geertsema, mestinya surat izin bisa didapat lewat proses yang lebih mudah. Bagaimanapun, Geertsema perlu masuk stadion.Dia harus berada dalam stadion untuk mengobati serta memberikan dukungan psikologis bagi All Whites. Ketika akhirnya mendapat surat izin, rasa heran Geertsema semakin bertambah.Dalam stadion,dia hanya melihat satu perempuan lain. "Kalau tidak salah, dia (perempuan dalam stadion) adalah petinggi media massa," katanya mengingat.

Mendengar cerita Geertsema, banyak orang lantas mendeskripsikan pekerjaan ini sebagai sesuatu yang sulit. Setujukah Geertsema? Jawabannya bisa dipastikan "Tidak".Namun, Geertsema juga tidak mau menolak pemikiran ini. "Ya, pekerjaan saya dekat dengan luka di bagian kepala dan mata atau beberapa tulang yang patah. Memang terdengar cukup mengerikan," imbuhnya. Geertsema,sekali lagi,ingin mengingatkan, apa yang menjadi pekerjaannya bukan sesuatu yang main-main.Pekerjaan ini membutuhkan nyali dan keseriusan tingkat tinggi. Secara khusus, Geertsema menaruh perhatian terhadap para perempuan, khususnya mereka yang bekerja dalam industri kesehatan. Dia ingin perempuanperempuan ini mau berlaga di lapangan hijau.

Tentu bukan untuk bertanding sepak bola, tetapi mengupayakan sesuatu yang lain. "Pengobatan dalam dunia olahraga merupakan lapangan yang baik untuk perempuan," tandasnya. Dia berharap akan ada banyak perempuan lain yang mengikuti jejaknya di masa mendatang. Geertsema banyak menghabiskan waktu di Afrika Selatan.Walau meninggalkan Afsel 15 tahun lalu, dia mengaku tetap mencintai tanah kelahirannya."Afsel tetap terlihat cantik. Negeri ini mengalami banyak perkembangan setelah saya pindah ke Selandia Baru,"paparnya.

Tidak ada komentar: