Senin, 21 Juni 2010

Komedian yang Setia Mendampingi Pengungsi


Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi atau UNHCR butuh sosok yang setia mendampingi pengungsi sedunia.Rasanya tepat kala lembaga dunia itu menunjuk Adel Imam sebagai salah satu Utusan Khusus UNHCR.


JABATAN istimewa yang dipegang Imam sejak 2000 silam membuatnya kerap bepergian lintas benua. Sepekan lalu dia berada di kamp pengungsi di Timur Tengah, sepekan kemudian sudah menginjakkan kaki di Afrika Utara serta Amerika Selatan.

Selama satu dasawarsa, Imam giat berkampanye atas nama pengungsi sedunia, khususnya beberapa pekan terakhir,menjelang Hari Pengungsi Sedunia yang jatuh pada Minggu (20/6).Bersama rekan sesama Duta Khusus UNHCR,Angelina Jolie,Imam meminta penduduk dunia untuk menghargai keberadaan pengungsi. "Mereka (pengungsi) sama seperti kita, sama-sama manusia. Yang berbeda hanya daerah asalnya saja," papar komedian tersebut. Imam sudah tidak kenal lagi yang namanya jetlag. Sepuluh tahun mengurusi pengungsi di Timur Tengah dan Afrika Utara serta masih ditambah dengan kampanye di benua lain membuat Imam terbiasa beraktivitas dalam pesawat.

Dia melintasi laut dan benua demi menguatkan hati para pengungsi sedunia. Tangannya selalu terulur bagi kelompok pengungsi yang hidup di bawah ancaman konflik.Penerima gelar sarjana Jurusan Pertanian, Cairo University ini ingin pengungsi tidak sekadar tabah, tetapi juga mengusahakan sesuatu." Mereka harus bertahan hidup lewat cara sendiri.Yakinlah,usaha ini didukung sepenuhnya oleh UNHCR,"katanya. Bukan rahasia jika lelaki berusia 70 tahun ini tidak bisa lepas dari telepon genggamnya.Namun, jangan harap Anda bakal mendengar obrolan tentang bisnis.Imam membutuhkan telepon genggam supaya bisa terus memantau perkembangan di kamp pengungsian. Dia menghubungi staf serta relawan UNHCR untuk menanyakan kondisi pengungsi. "Bagaimana kondisi di sana hari ini?

Apakah bahan pangan terpenuhi? Adakah yang sakit?"itu sebagian pertanyaan Imam kepada relawan UNHCR yang bertugas di zona konflik. Semua dilakukan Imam dengan sungguh-sungguh. Baginya, setiap detik penting bagi kehidupan pengungsi,pencari suaka,anakanak jalanan, serta kaum lanjut usia yang tidak terurus.Lelaki asal Mesir ini berharap,kelompok yang dinaungi UNHCR tersebut menjalani hidup penuh semangat."Saya tahu,banyak masalah yang sekian kali memupuskan harapan pengungsi atas kehidupan yang layak," papar ayah tiga putra ini. Ada beberapa larangan yang membatasi gerak pengungsi. Para pencari suaka kerap ditentang, bahkan tidak diakui pemerintah setempat.

Pengungsi perempuan masuk-keluar hutan sambil menggendong bayi,sementara yang lelaki memikul bundel berisi pakaian." Saya kagum kepada mereka (para pengungsi). Demi tempat tinggal yang baik,mereka melatih badannya supaya kuat menghadapi berbagai cuaca,"puji Imam. Namun, pujian ini berubah menjadi keprihatinan setiap kali Imam teringat pengungsi anak-anak. Hunian sementara yang jauh dari kata "layak", tingkat kebersihan, serta ketersediaan bahan pangan yang minim memudahkan virus dan bakteri menyerang anakanak. Beberapa kali Imam mengunjungi sebuah kamp pengungsian di Afrika. Dia tidak bisa tidak menangis. "Saya menangis saat melihat kondisi mereka. Penyakit kulit, diare, dan demam mengancam keseharian pengungsi," paparnya.

Di balik segala keprihatinan serta kesedihan, lelaki yang lahir 17 Mei 1940 ini bersyukur bisa bergabung dengan UNHCR. "Di sinilah (UNHCR) saya mendapat ruang untuk sedikit meringankan kepedihan pengungsi,"sahutnya. Bagi Imam,UNHCR adalah pintu bagi pengungsi sedunia. Pengungsi butuh tempat berlindung dan UNHCR mengusahakan apa yang mereka butuhkan.Dalam pandangannya, UNHCRadalahpeluangyang baik untuk mewujudkan harapan yang positif karena semua aktivitas UNHCR berlandaskan rasa kemanusiaan." Tidakadakeuntunganmaterial. Kami hanya ingin membantu orang-orang yang merasa putus asa atas kehidupan,"imbuhnya. Pada 2005 lalu,Imam mengadakan pameran lukisan di Kairo,Mesir.

Semua lukisan yang dipamerkan di Galeri Townhouse merupakan hasil karya beberapa pengungsi anak-anak dari Afrika Utara.Bagi Imam,pameran adalah satu usaha untuk memajukan pendidikan pengungsi anak-anak."Pendidikan tidak selalu dilaksanakan di sekolah. Kegiatan melukis juga memuat hal-hal terkait pendidikan," terangnya.Keseluruhan hasil penjualan lukisan lantas dikirim ke beberapa organisasi nirlaba yang mengurusi pendidikan pengungsi anak-anak. Imam adalah aktor komedi kawakan sekaligus pelaku kemanusiaan yang tulus.

Tidak ada komentar: